27 Juli – Yer 14:17-22; Mat 13:36-43

“Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia”

(Yer 14:17-22; Mat 13:36-43)

 

“Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Pewarta Kabar Baik, mewartakan apa-apa yang baik entah melalui sabda-sabda/kata-kataNya maupun perilaku atau cara hidup dan cara bertindakNya. Panggilan atau tugas pengutusan tersebut kini dilanjutkan atau dilaksaanakan oleh para murid atau pengikutNya, antara lain oleh para Gembala, pastor/ pendeta, guru agama, orangtua dst.. Setiap kali kita mengikuti atau partisipasi di dalam ibadat bersama pada umumnya diwartakan Sabda Tuhan, entah melalui pembacaan, renungan atau refleksi atau kotbah/homili. Isi pewartaan tersebut adalah tuntunan dan tuntutan bagi kita semua untuk dilaksanakan jika kita mendambakan hidup baik, damai sejahtera, bahagia dan selamat lahir batin, jasmani maupun rohani. Kebanyakan dari kita adalah pendengar, maka pertanyaan penting bagi kita semua “apakah kita dapat mendengarkan dengan baik apa yang dibacakan, direnungkan, direfleksikan atau dikotbahkan”. Jika kita dapat menjadi pendengar baik maka berarti kita tanah baik yang ditaburi benih baik dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun berbuah kebaikan-kebaikan, apa-apa yang baik dan menyelamatkan, lebih-lebih dan terutama menyelamatkan jiwa manusia. Cara hidup dan cara bertindak kita ‘bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa/Allah’.  Marilah kita menjadi pendengar baik, dengan rendah hati sambil membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh terhadap aneka sapaan dan sentuhan Allah melalui para pewarta kabar baik masa kini, seperti uskup, pastor/pendeta/kyai/biksu, dst..maupun guru-guru agama. Kami berharap para orangtua mendidik dan membina anak-anaknya untuk menjadi pendengar baik sedini mungkin.

·   “Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu” (Yer 14:20-22). Kutipan doa ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan, lebih-lebih ayat terakhir yang berbunyi “Bukankan hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu”. Semuanya, apa yang baik, indah, luhur dan mulia adalah karya Allah, dan itu semua kiranya dapat kita lihat dan nikmati saat ini juga, karena semuanya itu ada di sekitar kita, di lingkungan hidup kita. Memang di sekitar atau di lingkungan hidup kita juga ada yang buruk/jahat, amburadul, remeh dan amoral, sebagai buah karya setan melalui orang-orang fasik atau jahat. Hendaknya harapan, dambaan, kerinduan dan impian kita terarah pada apa yang biak, indah, luhur dan mulia, dengan kata lain hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Untuk itu marilah pertama-tama kita kenangkan orangtua kita masing-masing, yang dengan penuh kasih, pengorbanan dan perjuangan menaburkan apa yang baik, indah, luhur dan mulia pada diri kita masing-masing. Memang ada sedikit perbedaan kwalitas  benih yang ditaburkan, tergantung dengan anugerah Allah yang diterima dan dihayati oleh orangtua kita masing-masing. Maka ketika di dalam hidup bersama dan kerja bersama kita menghadapi aneka perbedaan kwalitas maupun bentuk, hendaknya saling dibagikan dan kemudian disinerjikan., sehingga kita bersama-sama berjalan dalam pengharapan akan Allah Yang Esa, yang menganugerahkan segala sesuatu yang kita butuhkan.

 

“Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!” (Mzm 79:8-9.11)

Jakarta, 27 Juli 2010          

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.