26 Juni – Rat 2:2.10-14.18-19; Mat 8:5-17

"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."

(Rat 2:2.10-14.18-19; Mat 8:5-17)

 

“Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” (Mat 8:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Israel atau Yahudi memang kurang atau tidak percaya kepada Yesus, sebagai Mesias, sebagaimana dijanjikan oleh Allah kepada mereka, maka ketika ada seorang perwira Israel datang kepada Yesus untuk mohon penyembuhan bagi hambanya, Ia bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai seorangpun di antara orang Israel”. Iman sang perwira tersebut menjadi kenyataan alias terwujud, apa yang diharapkan menjadi kenyataan. Pengalaman sang perwira ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi kita semua umat beriman. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak dikuasai oleh Tuhan alias sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, jika kita mendambakan apa yang kita cita-citakan menjadi kenyataan alias terwujud. Kepada mereka yang sedang menderita sakit kami harapkan menyadari dan menghayati kelemahan atau kerapuhan dan kemudian mempersembahkan diri kepada Tuhan melalui saudara-saudari yang berbaik hati membantu penyembuhan. Kepada para mahasiswa atau pelajar kami harapkan sungguh belajar setiap hari sehingga sukses dalam belajar, demikian juga kepada para pekerja kami harapkan sungguh bekerja agar terampil bekerja. Kepada para suami-isteri yang mendambakan setia saling mengasihi sampai mati kami harapkan dalam suka atau duka, sehat maupun sakit tetap saling mengasihi.

·   “Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!” (Rat 2:18-19). Kutipan ini kiranya baik menjadi acuan atau panduan kita dalam beriman  atau beragama. Sebagai orang beriman atau beragama kita diharapkan tidak pernah melupakan hidup doa, entah doa pribadi ataupun doa bersama. Berdoa berarti membuka hati sepenuhnya kepada Tuhan seraya mohon rahmat yang kita butuhkan sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. “Curahkanlah isi hatimu bagaikan air mata di hadapan Tuhan” , inilah nasihat atau saran yang selayaknya kita hayati atau lakukan. Apa isi hati anda, janganlah dikubur di dalam hati, melainkan curahkanlah, persembahkanlah kepada Tuhan. Persembahkan dambaan, kerinduan, harapan dan cita-cita anda kepada Tuhan, serta percayalah bahwa Tuhan akan menganugerahkan apa yang terbaik demi keselamatan jiwa kita. Anugerah yang terbaik dari Tuhan tidak lain adalah Roh Kudus, sehingga kita yang menerima anugerah Roh Kudus akan hidup dan bertindak oleh atau karena  Roh Kudus dan dengan demikian mengahasilkan buah-buah Roh Kudus seperti ” kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Buah-buah Roh inilah yang kita butuhkan dalam hidup dan kerja kita sehari-hari agar kita dapat hidup damai sejahtera dan bahagia selama-lamanya.

 

Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami. Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus.Lawan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda.”

(Mzm 74:1-4)

Jakarta, 26 Juni 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.