25 Tahun Yayasan Bhumiksara: Tetap Berkomitmen Membentuk Pribadi-pribadi Katolik yang Unggul, Cakap, Bermartabat (5)

Thomas Suyatno PerbanasHARI Sabtu tanggal 4 Mei 2013  kita memeringati hari jadi Yayasan Bhumiksara ke-25, ketika sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita masih bersama-sama terperosok di dalam kondisi krisis, dan belum berhasil ke luar dari keterpurukan. Bahkan, baru saja kita mengalami bersama, peristiwa yang memudarkan harapan besar untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” dengan menyaksikan carut-marut di dunia pendidikan nasional kita, khususnya atas pelaksanaan UN dan pergantian kurikulum baru bagi pendidikan dasar dan menengah.

 

Di dunia pendidikan tinggi pun kita juga terpuruk. Kita sangat prihatin peringkat Knowledge Economi Index (KEI) kita sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita: Singapore 19, Malaysia 48, Thailand 63, Indonesia 103. Padahal dua  tahun lagi kita menghadapi ASEAN Community Education (2015). Saat ini Perguruan Tinggi kita yang siap bertarung dengan negara-negara lain di bawah 10%–terakreditasi A hanya 6,67% dari 3.124 PTS dan 94 PTN.

 

Mawas diri

 

Selain itu, semakin maraknya KKN di segala bidang dan lapisan, mulai dari pusat sampai dengan jajaran pemerintahan terkecil terjadi KKN yang luar biasa. Kealpaan dan kelemahan-kelemahan lain, dampak, dan akibatnya tidak sefatal KKN. Rakyat sangat peka, sensitif, dan gregetan terhadap semua bentuk KKN.

 

Mengapa? Karena KKN-lah yang menjerumuskan bangsa ini ke dalam kondisi tidak adil, dan dalam kondisi terpuruk secara berkepanjangan. Oleh karena itu, saya mengajak para Bhumiksarawan, kita semua, bahkan bangsa ini berjihad melawan KKN—jangan berhenti. Kita harus mewakafkan diri untuk berjuang melakukan pemberantasan semua bentuk kosupsi.

 

Foto bersamaKondisi serba krisis ini mau tidak mau menimbulkan hal-hal serba kritis yang menerpa hampir semua bidang lingkungan hidup, yakni ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan, bahkan eksistensi sebagai bangsa. Eksistensi kita diancam oleh disintegrasi sosial serta disintegrasi negara.

 

Terus-menerus kita bertanya, memeriksa serta mewacanakan, mengapa kondisi serba krisis dan serba kritis itu menimpa bangsa dan negara kita? Pada kesempatan ini, tepat kiranya bangsa kita, juga Yayasan Bhumiksara yang berulang tahun ke-25, melakukan introspeksi dan refleksi secara total.

 

Jika pangkal tolak ialah introspeksi dan relfeksi bersama, soul-searching, pencarian jiwa bersama, pola dan semangat yang sesuai adalah rekonsiliasi, revitalisasi, redinamisasi, dan refungsionalisasi di dalam kehidupan berbangsa, bernegara, serta bermasyarakat.

 

Nasionalisme

 

Di dalam situasi ideal seperti itu, panggung dan platform-nya bukan lagi partisan, melainkan nasional yang inklusif, yang sesuai dengan bunyi, amanat, dan semangat konstitusi, bukan berpikir dan bekerja untuk pribadi, kelompok, golongan, atau partai, melainkan untuk sebesar-besarnya dan seadil-adilnya kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

 

Indonesia bersatu seperti yang oleh para Bapak Bangsa dituangkan sebagai kesepakatan dan komitmen nasional di dalam bentuk negara kesatuan, mau tidak mau, dipengaruhi oleh dorongan ekspresi kemandirian dan kebebasan.

 

Kesatuan bukan lagi sekadar kerangka dan struktur, kesatuan sekaligus merupakan organisme kewargaan dan kemasyarakatan yang dinamis, yang hidup, yang merupakan kenyataan, serta mengungkapkan diri dalam kebebasan serta aneka ragam ekspresi kegiatan, kehidupan, dan aspirasi dari masyarakat yang majemuk.

 

Namun, harus disadari secara bersama pula bahwa pluralisme memerlukan bingkai. Kelima sila dasar Negara yang selama ini kita anggap dan digunakan sebagai bingkai, tidak dapat lagi dianggap sebagai bingkai yang mati dan doktriner. Ia harus diperlakukan sebagai bingkai yang hidup dan dihidupi, yang memberi dan menerima, dan oleh karena itu, harus terus-menerus diaktualisasikan sebagai pola dan nilai-nilai perilaku bersama serta cita-cita bersama. Bukan zamannya lagi bicara soal mayoritas dan minoritas, melainkan bersama-sama, seluruh warga negara Indonesia.

Wiwiek DS ceramah Ehem 

Persoalan-persoalan bangsa dan negara yang mendesak, seperti ancaman disintegrasi, konflik sosial yang horizontal dan yang vertikal agar ditempatkan dan dipahami di dalam pola gejolak perubahan serta tuntutan akan ekspresi diri, perbaikan nasib, serta kepastian dan keadilan.

 

Kondisi krisis itu hanya dapat kita atasi secara bersama-sama. Harus disadari bahwa jika kita, pemerintah, elit, organisasi politik dan kemasyarakatan tidak sanggup membawa bangsa keluar dari kondisi krisis, kita semua akan menjadi korbannya. Di dalam situasi dan kondisi bangsa dan negara seperti digambarkan di atas, apa yang perlu kita lakukan ke depan?

 

Visi dan misi

 

Sebelum menyusun strategi ke depan di dalam rangka aktualisasi visi dan misi berdirinya Yayasan Bhumiksara 25 tahun yang lalu, saya ingin secara singkat menjelaskan mengapa Yayasan Bhumiksara lahir, untuk apa lahir, visi misi apa yang ingin diwujudkan?

 

Gagasan awal untuk mendirikan Yayasan Bhumiksara muncul dari sekelompok cendekiawan Katolik, khususnya yang tergabung dalam Badan Pengurus APTIK. Mereka berusaha menanggapi keprihatinan masyarakat dan Gereja Katholik Indonesia terhadap munculnya gejala:

  • Menyusutnya jumlah tokoh-tokoh Katolik dalam posisi kepemimpinan lokal, regional, dan nasional;
  • Melemahnya pengaruh suara lembaga dan tokoh Katolik di dalam segala bidang kemasyarakatan;
  • Adanya kecenderungan kaum professional Katolik memisahkan kehidupan professional mereka; dan
  • Kurangnya upaya terorganisasi dan sistematis untuk merefleksikan keterkaitan antara iman, ilmu, dan budaya.

 

Visinya adalah munculnya sosok atau pribadi rasul awam yang berintegritas moral tinggi, cakap dan piawai dalam profesi, sigap melayani yang terpinggirkan, dan solider terhadap sesamanya. Sedangkan misinya adalah mengembangkan SDM cendekia, mengembangkan keunggulan intelektual dan keahlian professional serta integraitas moralnya dengan berbagai cara.

 

Komunitas gerakan

 

Dengan pernyataan pencapaian maksud dan tujuannya, Bhumiksara tidak hanya menempatkan dirinya sebagai institutsi, melainkan juga sebagai Komunitas Gerakan. Sebagai sebuah gerakan, Bhumiksara pada hakikatnya merupakan:

·       Ajakan mengembangkan kemampuan cendekianwan muda untuk menjadi “Pewarta Kabar Gembira” di tengah umat dan masyarakat Indonesia yang majemuk;

·       Penyadaran akan bimbingan Roh dan Penyelengaraan Ilahi dalam setiap langkah kehidupan manusia; dan

·       Penghayatan spiritualitas “butir garam” di dalam pengembangan diri sebagai cendekiawan muda dalam meraih keunggulan, pelayanan, dan keberpihakan pada kaum lemah.

 _MG_4278

Gerakan Bhumiksara bukanlah sebuah organisasi massa, organisasi politik, atau organisasi terstruktur lainnya, melainkan sebuah organisme. Keberadaannya lebih pada pembentukan spiritualitas dalam rangka melaksanakan kerasulan awam.

 

Dengan gambaran sejarah singkat tadi dapat ditarik kesimpulan betapa luhur dan tingginya cita-cita yang ingin diwujudkan oleh para Pendiri Bhumiksara.

 

Kerasulan awam katolik

 

Kini, di tengah-tengah carut-marutnya bangsa dan negara kita, apa yang perlu kita lakukan dan masih relevankah keberadaan Bhumiksara?

 

Melalui pasang surutnya keadaan dan perkembangan, gerak dan dinamika Bhumiksara harus berjalan terus dengan kesadaran serta pemahaman baru, justru sekarang ini, ketika sebagai bangsa dan negara kita bersama-sama dihadapkan pada perubahan zaman pancaroba. Bhumiksara harus menyegarkan kembali mimbar dan forum kita bersama. Kita harus membuat plat-form bersama itu begitu relevan dan actual, sehingga dapat menanggapi perubahan dan tuntuan zaman. Inilah tantangan dan pekerjaan rumah kita.

 

Di atas plat-form nasional yang diberi kesegaran, dinamika serta jiwa dan semangat baru, Bhumiksara bukan saja harus mewujudkan dan melanjutkan visi serta misinya, tetapi meningkatkan sumbangannya bagi terwujudnya lapisan masyarakat yang cendekia dan professional, yang subur bobot dan dimensi visi serta etikanya dan juga semakin ahli dan terampil dalam berbagai bidang yang diperlukan oleh kemajuan serta tantangan global yang ditandai dengan semakin tajamnya tingkat persaingan di segala bidang.

 

Sejarah eksistensi Bhumiksara selama 25 tahun tidak selalu merupakan sejarah pergerakkan dalam tanah, suasana, dan iklim yang subur atau menunjang. Dilewati dan dialami juga periode-periode tandus penuh tantangan. Oleh karena itu, kondisi bukanlah dalih bagi kita untuk mengendurkan jiwa dan semangat kita, justru merupakan cambuk untuk memerbesar darmabakti kita pada bangsa dan negara tercinta.

 

Kondisi di mana kita hidup, di tengah arus perubahan di dalam dan dari luar, kembali memerlukan peranan ide yang disegarkan dan diperbarui, memerlukan calon-calon pemimpin yang kembali dapat menangkap pertanda zaman, bahkan zaman perubahan yang serba cepat dan zaman yang penuh persaingan.

 

Sebagai konklusi dapatlah kita sarankan bahwa mungkin, sekaranglah waktunya bagi Bhumiksara untuk menyegarkan kembali visi, misi, dan program-program kerja kita, agar cocok dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Prosesnya tidak mudah karena akan berimplikasi terjadinya perubahan-perbahan di dalam status quo, terutama yang  bertalian dengan wewenang, kepentingan, hak dan kewajiban.

 

Terima kasih dan dirgahayu Bhumiksara 25 tahun.

 

Jakarta, 4 Mei 2013

Thomas Suyatno

Photo credit: Ketua Dewan Pembina Yayasan Bhumiksara Prof. Dr. Thomas Suyatno, ethical leadership workshop bersama Dr. Ronnie V. Amorado, workshop Ehem anti-korupsi di KAJ (Mathias Hariyadi)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.