25 Tahun Yayasan Bhumiksara: Menyanyi Bersama Henny Purwonegoro (4)

< ![endif]-->

Henny Purwonegoro senyum

USIA boleh saja beranjak semakin tua, namun semangat jangan pernah patah di jalan. Setidaknya kesan kental inilah yang tetap melekat di sosok penyanyi papan atas era tahun 1970-an: Henny Purwonegoro.

Meski umur telah terpatri pada angka 66 tahun, namun toh kesan ayu pada penyanyi yang meroket berkat tembang lawas Kopral Djono ini tetap saja memancar kuat dari wajahnya. Dan yang satu ini tetap tak boleh lewat: Henny masih saja kenes, enerjik, murah senyum,  ramah, dan serba luwes menyanyi dan menjadi MC di atas pentas.

Lihat saja bagaimana Henny menggamit mesra Michael Utama Purnama dan YW Junardy, ketika Andrew Utama mendapat kesempatan mengabadikan momen langka tersebut: maju bersama di atas pentas. Andrew adalah anak kandung Michael Utama Purnama, Ketua Badan Pengawas Yayasan Bhumiksara. YW Junardy adalah Preskom Rajawali Group dan President  United Nations Global Compact Network Indonesia dan menjadi anggota pengurus Yayasan.

Henny Purwonegoro bersama Pak Michael dan JW Junardy

Jam terbang Henny sebagai ‘orang panggung’ membuktikan itu. Setidaknya ketika didaulat Panitia 25 Tahun Yayasan Bhumiksara mengawal acara resepsi sederhana di Auditorium Unika Atma Jaya, Sabtu, tanggal 4 Mei 2013 pekan lalu.  Henny di tahun 2013 serasa tetap sama seperti Kak Henny di layar kaca televisi  –terutama TVRI pada acara Aneka Ria Anak-anak—pada era tahun 1970-an, ketika masih aktif mengawal berbagai acara musik hiburan di stasiun TV pelat merah ini.

Banyolan-banyolan segar di tengah alunan merdu suaranya saat menyanyikan Danny Boy mendapatkan respon segar dari seluruh hadirin di sesi resepsi Pesta 25 Tahun Yayasan Bhumiksara. Ketika berlangsung acara lelang lukisan karya Sri Hadhy, dengan entengnya Henny membanyol usil mengatakan “Lukisan ini berharga justru dibuat oleh dua orang ‘Hadi’. Yang satu, pelukisnya bernama Sri Hadhy. Lainnya adalah Mgr. Hadisumarta.”.

Romo Martin Oij SCJ dan Henny Purwonegoro

Bukan seorang Henny Purwonegoro namanya, kalau tidak bisa ‘nembak’ hadirin dengan spotanitas yang segar. Tak ayal Romo Martinus Oij SCJ yang baru saja merayakan pesta 50 tahun imamatnya didaulat Henny menyanyikan tembang lawas tapi abadi: Edelweiss. Dan siapa sangka, kalau pastur kelahiran Belanda dari Kongregasi SCJ dan kini pastur Paroki St. Stefanus Cilandak ini ternyata mahir berbahasa Jawa.

Waduuh. Henny pun sudah telanjur ngomong Hollandsche spreken, tapi oleh Romo Oij SCJ justru direspon dengan bicara bahasa Jawa kromo inggil yang halus. Spontanitas yang segar dari seorang penyanyi kawakan namun tetap bersemangat: Henny Purwonegoro.

Lahir di Jakarta tanggal 10 November 1947, penyanyi yang awet ayu ini membawa nama kecil Henriette Louise Purwaningsih Poerwonegoro. Barulah ketika memasuki dunia pentas suara, nama panggung ‘Henny Purwonegoro’ mulai melekat erat pada ibu seorang anak ini. Suara emasnya sudah terpatri melalui album-album produksi Irama Tara, Yukawi Records,  Berlian Records; sementara kiprahnya sebagai artis terekam dalam seluloid melalui beberapa film.

 Henny Purwonegoro bersama Romo Martinus Oij SCJ

Menikah dengan H. Mochamas “Totok” Tauhid tahun 1975, Henny Purwonegoro telah dikaruniai anak perempuan bernama Rietma Dhanty Angelia alias Ria yang kini menjadi istri penyanyi Once.

Photo credit: Penyanyi legendaris Henny Purwonegoro bersama Michael Purnama Utama, YW Junardy, Romo Martin Oij SCJ di acara Pesta 25 Tahun Yayasan Bhumiksara Jakarta (Mathias Hariyadi)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.