"Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"

(Sir 6:5-17; Mrk 10:1-12)

 

“Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." (Mrk 10:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jumlah perceraian di Indonesia telah mencapai angka yang sangat fantastis. Tercatat, pada tahun 2007, sedikitnya 200 ribu pasangan melakukan pisah ranjang alias cerai. Meski angka perceraian di negara ini tidak setinggi di Amerika Serikat dan Inggris (mencapai 66,6% dan 50% dari jumlah total perkawinan), namun angka perceraian di Indonesia ini sudah menjadi rekor tertinggi di kawasan Asia Pasifik.” (http://arifjulianto.wordpress.com). Godaan untuk bercerai pada umumnya ada pada kaum lelaki, yang dengan mudah menyeleweng atau berselingkuh. Hal ini kiranya juga terjadi pada zaman Yesus, maka ada pertanyaan kepadaNya “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?”. Maka baiklah dengan ini kami mengingatkan dan mengajak rekan laki-laki untuk tidak menyeleweng dan berselingkuh, secara khusus kami berpesan pada rekan pemuda atau jejaka untuk tidak dengan mudah tergoda dan melakukan hubungan seksual dengan pacarnya atau lawan jenisnya. Kita semua dipanggil untuk setia pada panggilan dan jati diri kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Ingat bahwa anda yang menjadi suami-isteri telah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untuk maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Kami berharap para suami-isteri dapat menjadi saksi saling mengasihi sampai mati.


·   Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya. Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya.”(Sir 6:14-17). Sahabat dalam bahasa Latin adalah socius, yang dapat berarti bersama-sama, bersatu, terikat. Persahabatan sejati diikat oleh cintakasih, yang bersifat bebas, tak terbatas. Tidak terbatas tersebut dalam ikatan suami-isteri disimbolkan dengan saling mengenakan cincin yang bulat, tiada ujung dan pangkalnya alias tak terbatas.Cincin dikenakan pada jari manis dengan harapan dalam saling mengasihi senantiasa dalam keadaan manis dan lurus hati. Manis sejati memang muncul atau lahir dari hati yang lurus atau suci. Tanda orang saling bersahabat dan mengasihi antara lain mereka semakin mirip satu sama lain, dan bagi suami-isteri semakin nampak bagaikan manusia kembar, meskipun berbeda satu sama lain. Sekali lagi kami mengingatkan:  hendaklah aneka perbedaan antar kita dijadikan daya tarik untuk saling mendekat, mengenal dan bersahabat, sebagaimana laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tergerak untuk saling mendekat dan mengenal. Persahabatan sejati senantiasa saling menjunjung tinggi harkat martabat manusia, saling menghormati dan melayani, saling membahagiakan dan menyelamatkan. Kami juga berharap kepada segenap anggota keluarga dan komunitas, sebagai komunitas basis, dapat menjadi teladan dalam hidup bersahabat satu sama lain; hendaknya sering diselenggarakan curhat antar anggota keluarga, berdoa dan bercakap-cakap bersama.

 

Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu.”(Mzm 119:12.16-17)

         

Jakarta, 25 Februari 2011 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.