25 Apr – 2Raj 25:1-12; Mat 8:1-4

"Aku mau jadilah engkau tahir."

(2Raj 25:1-12; Mat 8:1-4)

 

“Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." (Mat 8:1-4)

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Penyembuhan pasien atau orang sakit di rumah sakit hemat saya ada tiga faktor yang menentukan, yaitu: dokter dengan obat-obatnya, perawatan dan semangat pasien. Dokter dan perawatan merupakan bantuan, dan hemat saya semangat pasien sangat menentukan, sebagaimana dalam warta gembira hari ini ada seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus serta mohon untuk disembuhkan “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku”. Maka dengan ini kami berharap kepada siapapun yang sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh, entah sedang dirawat di rumah sakit atau tinggal di rumah: hendaknya memiliki semangat untuk disembuhkan. Sembuh dari penyakit erat kaitannya dengan iman, penyerahan diri secara total kepada Tuhan melalui mereka yang dapat membantu penyembuhan. Siap sedia dengan penuh gairah untuk disembuhkan itulah yang kami harapkan bagi mereka yang sedang menderita sakit serta menghendaki untuk sembuh. Dan ketika telah sembuh hendaknya hidup dan bertindak sesuai dengan aturan kesehatan: makan dan minum sesuai pedoman hidup sehat, istirahat atau tidur memadai dan teratur, berolahraga secara teratur, dst.. “Persembahkan persembahan yang diperintahkan Musa sebagai bukti bagi mereka”, itulah pesan Yesus kepada orang yang sakit kusta yang telah disembuhkan. “Serahkan diri anda kepada aneka aturan dan tatanan hidup sehat” itulah saran atau nasihat bagi anda yang telah disembuhkan dari penyakit. Kepada mereka yang sehat kami harapkan dapat menjadi teladan dalam hal mentaati atau melaksanakan aturan atau tatanan hidup sehat, serta dengan rendah hati memberitakan pengalaman kepada sesamanya.

·   “Ia membakar rumah TUHAN, rumah raja dan semua rumah di Yerusalem; semua rumah orang-orang besar dibakarnya dengan api. Tembok sekeliling kota Yerusalem dirobohkan oleh semua tentara Kasdim yang ada bersama-sama dengan kepala pasukan pengawal itu. Sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu dan para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan sisa-sisa khalayak ramai diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu. Hanya beberapa orang miskin dari negeri itu ditinggalkan oleh kepala pasukan pengawal itu untuk menjadi tukang-tukang kebun anggur dan peladang-peladang” (2Raj 25:9-12). Kehancuran kota Yerusalem terjadi karena warganya meninggalkan perintah-perintah Tuhan. Apa yang terjadi dengan kehancuran kota Yerusalem kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Hendaknya sebagai warga masyarakat atau kota, desa tertentu kita setia pada perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tatanan hidup bersama, jika kita menghendaki hidup damai sejahtera. Berbagai kekacauan, kesemrawutan dan ketidak-nyamanan hidup bersama terjadi karena kebejatan moral warga, antara lain hidup dan bertindak seenaknya sendiri, hanya mengikuti nafsu dan keinginan sendiri alias egois. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang bersikap mental egois untuk bertobat atau memperbaharui diri, kemudian hidup sosial, ‘to be man or woman with/for others’. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dibina dalam hal hidup sosial, antara lain dengan teladan konkret dari para orangtua. Pertama-tama hendaknya dibina hidup sosial di dalam keluarga, antar anggota keluarga, kakak-adik, dan kemudian keluarga terhadap tetangga atau warga satu rukun tetangga/RT. Pengalaman hidup sosial sehari-hari di dalam keluarga akan menjadi modal atau dasar kuat untuk hidup sosial di masyarakat luas. Di sekolah-sekolah hendaknya juga dibina atau dididik hidup sosial bagi para peserta didik, dan tentu saja juga disertai teladan konkret dari para pendidik/guru.

 

“Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?” (Mzm 137:1-4)

 

Jakarta, 25 Juni 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.