23 Okt – Ef 4:7-16; Luk 13:1-9

“Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya”

(Ef 4:7-16; Luk 13:1-9)


“Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.  Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.  Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."  Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.  Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Luk 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Capestrrano, pelindung para pastor/ perawat rohani Angkatan Bersenjata, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam perjalanan hidup kita masing-masing sejak bayi kiranya kita senantiasa menerima binaan, didikan, pendampingan atau asuhan dari mereka yang telah mengasihi atau berbuat baik kepada kita, terutama orangtua, dengan aneka cara dan bentuk. Apa yang mereka lakukan bagaikan sedang ‘mencangkul dan memupuk’ diri kita agar tumbuh berkembang dengan baik, menjadi dewasa baik secara phisik maupun spiritual. Apa yang mereka lakukan pada kita merupakan usaha pertobatan atau pembaharuan, yang tak kenal henti. Dari usaha atau tindakan ‘pencangkulan dan pemupukan’ tersebut diharapkan ada buah-buah atau hasil yang menyelamatkan atau membahagiakan diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Yang mereka lakukan juga merupakan perawatan rohani, sehingga kita semakin hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Santo Yohanes dari Capestrano menjadi pelindung para pastor/perawat rohani Angkatan Bersenjata, marilah kita fahami juga bahwa kita sedikit banyak boleh disebut sebagai anggota ‘Angkatan Bersenjata’, tentu saja senjata yang kita miliki bukan sebagaimana dimiliki oleh para anggota Angkatan Berjenjata seperti senapan, granat, dst.. yang mematikan, melainkan anggota tubuh kita dengan segala keterampilannya. Marilah kita fungsikan keterampilan-keterampilan kita untuk ‘menembak’ sesama kita agar semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan di dalam hidup sehari-hari.


·   Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef 4:11-12), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga, masyarakat atau tempat kerja/tugas, masing-masing dari kita memiliki fungsi, jabatan atau kedudukan yang berbeda satu sama lain. Hendaknya menghayati fungsi, jabatan atau kedudukan tersebut ‘bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan paguyuban umat beriman’, dengan kata lain untuk mengusahakan, membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Mungkin baik kami ingatkan: hendaknya hal ini pertama-tama dan terutama terjadi di dalam keluarga-keluarga atau komunitas-komunitas kita masing-masing, sebagai kebersamaan hidup yang paling dasar. Pengalaman kebersamaan hidup di dalam keluarga atau komunitas merupakan senjata atau modal untuk ditumbuh-kembangkan di dalam kehidupan bersama yang lebih luas, di dalam masyarakat atau tempat kerja/tugas. Marilah kita bina, didik dan dampingi anak-anak dalam semangat melayani demi pembamgunan hidup bersama, sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi yang senantiasa siap sedia untuk bekerjasama dengan siapapun dan dimanapun. Orang yang senantiasa siap sedia untuk bekerjasama berarti tidak egois atau tidak mencari keuntungan, kemashyuran atau ketenaran diri sendiri, melainkan senantiasa bersikap rendah hati dan melayani. Orang yang dapat bekerjasama senantiasa dapat menempatkan diri dengan baik dan memadai dalam hidup bersama alias menghadirkan diri tepat pada waktunya.

 

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 23 Oktober 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: