23 Mar – Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30

“Setelah Yesus mengatakan semuanya itu banyak orang percaya kepadaNya”.

(Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30)

 

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.”(Yoh 8:21-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bagi siapapun yang percaya kepada Yesus, ketika semakin mengenalNya maka juga semakin percaya kepadaNya, sebaliknya bagi yang tidak percaya pasti akan semakin tidak mengerti dan tidak percaya kepadaNya. Kita kiranya termasuk dalam jajaran orang yang percaya kepada  Yesus, maka kami harapkan setelah sekian lama kita mawas diri , sejak hari Rabu Abu, berarti kita semakin percaya kepadaNya, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin beriman. Tentu saja secara konkret juga semakin giat, rajin, tekun, cekatan dan cermat dalam melaksanakan aneka macam tugas dan pekerjaan, sehingga mereka yang menyaksikan cara hidup dan cara bertindak kita juga semakin tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin beriman. Hendaknya kita juga semakin menyadari dan menghayati bahwa diri kita ‘berasal dari atas’, gambar dan citra Allah di dunia ini. Kita juga meneladan Yesus, yang mendengarkan perintah, ajaran, petunjuk ‘dari atas’ dan kemudian meneruskannya ke dunia, kepada sesama manusia. Kita semakin hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas, yang telah kita pelajari dan coba hayati, dan kemudian menyebarluaskan spiritualitas tersebut kepada sesama, entah melalui cara bertindak maupun kata-kata atau wacana. Melalui dan dengan cara hidup dan cara bertindak kita kami berharap semakin membuat banyak orang percaya kepada Tuhan, semakin beriman.

·   Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." (Bil 21:7-8). Kutipan ini kiranya mengarah pada Yang Tersalib, Yesus yang mempersembahkan diri dan wafat di kayu salib demi keselamatan atau kebahagiaan dunia. Marilah kita meneladan Musa, yang berdoa untuk seluruh bangsa, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Kita semua juga masih berada di perjalananan dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan dan pekerjaan, dan di perjalanan kiranya kita harus menghadapi aneka godaan dan rayuan setan dalam berbagai bentuk. Marilah kita saling mendoakan dan mengarahkan diri kepada Yang Tersalib: pandang dan nikmati Dia yang tergantung di kayu salib. Mohonlah kekuatan dari Yang Tersalib dalam rangka mengatasi dan menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, godaan dan rayuan untuk berbuat jahat, dst..  Kami juga mengingatkan kita semua akan pentingnya hidup doa sebagai orang beriman atau beragama; hendaknya jangan melupakan berdoa setiap hari dalam dan melalui berbagai kesempatan. Secara khusus kepada mereka yang akan mengadakan perjalanan, kami harapkan sebelum melangkah atau berjalan berdoa lebih dahulu, mohon perlindungan dan pendampingan Tuhan agar selamat sampai tujuan. Entah pengemudi maupun penumpang kami harapkan berdoa, entah sendiri maupun bersama, sebelum mengadakan perjalanan.

 

“Bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi,”

(Mzm 102:16-20)

 

Jakarta, 23 Maret 2010 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.