23 Juni – Kej 16:1-12.15-16; Mat 7:21-29

 “Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan”

(Kej 16:1-12.15-16; Mat 7:21-29)

Bukan setiap yang berseru kepadaku : Tuhan, Tugan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang disorga. Pada hari  terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!” . “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksanam yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah  hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukakannya , ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itum sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, tajublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,  tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat 7: 21-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·      Ada orang dengan sombong menceriterikan kemana-mana bahwa dirinya adalah anggota dewan paroki, aktivis aneka organisasi gerejani seperti Karismatik, rajin menghadiri novena serta berziarah ke tempat peziarahan Bunda Maria dan tak pernah melupakan doa Rosario setiap hari dst.. Suatu saat orang yang bersangkutan meninggal dunia dan dirinya dengan penuh keyakinan pasti naik ke sorga, hidup mulia selamanya bersama Tuhan. Ternyata ia tidak langsung naik ke sorga, maka ia protes terhadap Tuhan, katanya: ” Tuhan mengapa saya tidak langsung diperkenankan masuk sorga, karena saya adalah anggota dewan paroki, aktivis organisasi gerejani, doa Rosario setiap hari, dst..”. Mendengar protes tersebut, Tuhan menjawab: “Enyahlah dari padaKu kamu pembuat kejahatan! Kamu hanya manis di mulut, pandai bermain sandiwara kehidupan, banyak omong tetapi tak pernah melakukan apa yang diomongkan. Kamu tidak pernah memperhatikan anak-anak dan isterimu, kamu koruptor di kantor…dst.”. Begitulah nasib orang yang bersikap mental formalistis dan liturgis. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua sebagai orang beriman atau beragama untuk lebih mengutamakan perilaku atau tindakan daripada wacana atau omongan. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk menjadi unggul dan handal dalam hal pelaksanaan aneka tata tertib, ajaran, nasihat, perintah dst.., sehingga tidak mudah jatuh karena aneka godaan atau rayuan, serta tetap tenang dan setia pada tugas, panggilan dan kewajiban dalam situasi atau kondisi sesulit dan rumit berbelit-belit apapun.

·      "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau."(Kej 16:5), demikian kata Sarai kepada Abram, suaminya, yang telah menghamili Hagar, pembantunya. Abram mungkin merasa bahwa Tuhan tidak setia kepadanya, karena isterinya sudah lanjut usia belum dianugerahi anak, padahal Tuhan menjanjikan kepadaNya akan menjadi bapa bangsa yang besar. Sarai pun merasa terhina, apalagi ia dipandang rendah oleh pembantunya yang hamil karena Abram. Sarai kiranya boleh dikatakan setia kepada janji Tuhan. Hal ini kiranya juga menjadi cermin bagi kaum laki-laki/para suami yang sering mudah tidak setia pada janji perkawinan dengan berselingkuh. Dan memang laki-laki berselingkuh sakali mungkin sulit diketahui, tetapi perempuan berselingkuh sekali akan lebih mudah diketahui, apalagi ketika perselingkuhannya berbuah dengan kehamilan dirinya. Maka baiklah kami berharap kepada rekan-rekan perempuan atau para ibu/isteri untuk meneladan Sarai yang setia pada janji Tuhan, tidak mudah menyeleweng atau bersilingkuh. Namun  ketika mengetahui suami atau pasasangan hidupnya berselingkuh, hendaknya segera diingatkan atau ditegor atau didoakan agar bertobat. Kmai berharap kepada kita semua untuk senantiasa setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, entah janji baptis, janji perkawinan, kaul, janji pegawai, sumpah jabatan dst..

“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik. Bahwasanya kasih setiaNya untuk selama-lamanya. Siapakah yang tidak memberitakan keperkasaan Tuhan, memperdengarkan segala pujian kepadaNya? Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hokum, yang melakukan keadilan di segala waktu” (Mzm 106:1-3)

Ign 23 Juni 2011     

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.