“Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

(Sir 4:11-19; Mrk 9:38-40)

 

“Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."  Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Mrk 9:38-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Polikarpus, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Salah satu fungsi uskup atau pemimpin adalah pemersatu dan pendamai. Fungsi ini kiranya pada masa kini sungguh mendesak dan up to date, mengingat dan memperhatikan masih maraknya permusuhan dan tawuran di sana-sini dalam hampir berbagai hidup bersama di tengah masyarakat maupun hidup beragama. Belum lama ini ada gerakan bersama lintas agama mengangkat masalah kebohongan pemerintah yang menunjukkan kebersamaan dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Namun tak lama kemudian terjadi kasus yang sungguh memprihatihkan terjadi di Pandeglang dan Temanggung: pembunuhan umat beragama, perusakan dan pembakaran tempat ibahat. Konon kasus ini ada issue dibuat oleh kelompok tertentu atau pejabat tertentu untuk mengalihkan perhatian rakyat pada masalah korupsi atau usaha menghancurkan kerukunan umat beragama. “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita”, demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita hayati bersama. Mereka yang menjadi korban kerusuhan dan perusakan adalah kelompok minoritas, yang tidak pernah melawan atau menyakiti kelompok mayoritas. Atau ada oknum minoritas sedikit menyakiti kelompok mayoritas dan balas dendam dari kelompok mayoritas sungguh mengerikan. Kami percaya dari kedalaman hati kita masing-masing tidak ada minat dan niat untuk melawan atau menyakiti orang lain, dan yang sering terjadi adalah ketidaktahuan atau keterbatasan pribadi atau kelompok. Maka baiklah ketika kita merasa disakiti tidak segera balas dendam, melainkan segera mawas diri: adakah sesuatu dari cara hidup atau cara bertindak kita yang tidak baik atau tidak pada tempatnya, sehingga mengganggu orang lain atau melihat dengan rendah hati apakah mereka yang menyakiti kita sungguh bermaksud jahat atau tidak tahu atas apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain marilah kita sebagai umat beriman senantiasa hidup dan bertindak sebagai pemersatu dan pendamai.

·   “Barangsiapa melayani kebijaksanaan bergilir bakti kepada Yang Kudus, dan siapa mencintainya dicintai oleh Tuhan.Siapa mendengarkannya akan memutuskan yang adil, dan aman sentosalah kediaman orang yang mengindahkannya” (Sir 4:14-15). Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita bersama. “Barangsiapa melayani kebijaksanaan bergilir bakti kepada Yang Kudus”, inilah yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan. Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun diharapkan bijak, artinya menyelamatkan jiwa kita pribadi maupun jiwa mereka yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita. Hemat saya apa yang disebut bijak senantiasa menyelamatkan jiwa. Dengan kata lain marilah keselamatan jiwa maupun senantiasa menjadi pedoman dan acuan cara hidup dan cara bertindak kita. Memang alangkah indahnya jika tubuh atau phisik juga selamat, tidak hanya jiwa saja. Hal ini jika kita terapkan dalam pelayanan pendidikan, entah pendidikan formal maupun informal, berarti pendidikan berpegang teguh pada pedoman “pembangunan manusia seutuhnya”: hati, jiwa, akal budi maupun tubuh atau phisik. Untuk itu anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina demi pembangunan manusia seutuhnya. Antara lain anak-anak dalam hal makan dan minum berpedoman pada ’empat sehat lima sempurna’ dan selama masih bayi disusui oleh ibunya secara memadai. Anak-anak dilatih dalam hidup doa dan berolaraga secukupnya. Itu semua kiranya perlu teladan konkret dari para orangtua atau bapak-ibu. Kita juga diingatkan perihal tindakan adil. Keadilan paling mendasar hemat saya adalah hormat dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur di dunia ini, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Adil dan bijaksana bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan.

 

Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu. Biarlah bibirku mengucapkan puji-pujian, sebab Engkau mengajarkan ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Biarlah lidahku menyanyikan janji-Mu, sebab segala perintah-Mu benar“(Mzm 119:165.168.171.172)

 

Jakarta, 23 Februari 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.