23 Des – Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66

"Menjadi apakah anak ini nanti?"

(Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66)

 

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:57-66), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Menurut tradisi atau adat istiadat anak yang lahir dari Elisabet, laki-laki, harus diberi nama Zakharia, nama ayahnya, tetapi ternyata ia harus dinamai Yohanes, sebagaimana diberitahukan oleh malaikat. Dengan kata lain pemberian nama Yohanes berarti keluar dari  atau  melanggar tradisi atau adat istiadat. Maka muncullah pertanyaan dari saudara-saudari dan sahabat-sahabat mereka :”Menjadi apakah anak ini nanti?”. Yohanes akan menjadi ‘bentara Penyelamat Dunia’, yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Nama memang mengandung makna dan maksud serta cita-cita, maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau calon orangtua yang akan segera dianugerahi anak untuk dengan cermat dan benar dalam memberi nama anak-anak yang akan dilahirkan. Nama yang anda berikan kepada anak anda merupakan dambaan atau harapan terhadap anak yang bersangkutan pada masa depannya, harapan agar anak tumbuh berkembang sebagaimana orangtua cita-citakan. Dengan kata lain  rasanya pemberian nama satu sama lain dapat berbeda dan sekiranya harus memakai nama marga atau suku hendaknya juga ada ada tambahan nama lain. Sebagai orangtua kiranya kita semua berharap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan senantiasa ‘tangan Tuhan menyertainya’, sehingga mereka tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, dan tentu saja kita semua berharap anak-anak dapat menjadi ‘bentara’ Penyelamat Dunia, dimana cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menarik dan memikat banyak orang untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

·   Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Yang baik kita renungkan atau refleksikan dari kutipan ini adalah ‘hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya’, dengan kata lain suatu ajakan untuk para bapak dan anak-anak untuk hidup berdamai, maklum pada umummya relasi bapa dan anak agak renggang, kurang mesra jika dibandingkan dengan relasi ibu dengan anaknya. Para bapak diingatkan untuk juga memperhatikan anak-anaknya dengan baik, dengan senang hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya. Secara khusus dengan ini kami mengingatkan rekan-rekan lelaki, yang mungkin telah menghamili rekan perempuan, entah itu pacar, tunangan atau kenalan, untuk berani bertanggungjawab, tidak melarikan diri setelah menghamili. Demikian juga kami ingatkan para bapak atau suami yang mudah berselingkuh atau menyeleweng untuk bertobat, tidak melakukan perselingkuhan lagi, ingat akan anak-anak anda. Berbagai  bentuk perselingkuhan atau kebejatan moral laki-laki atau para bapak menghancurkan kehidupan berkeluarga, entah keluarganya sendiri atau keluarga orang lain, dan dengan demikian merusak hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga para bapak atau rekan-rekan laki-laki tidak mudah tergoda oleh rayuan-rayuan perempuan, dan tentu saja juga tidak menampilkan diri sedemikian rupa sehingga memikat untuk dirayu.

 

“TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya ” (Mzm 25:8-10)

 

Jakarta, 23 Desember 2009

    

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.