22 Sept

"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!”
(1Kor 15:35-37.42-49; Luk 8:4-15)

“Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk 8:4-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kiranya hanya segelintir orang yang berpenyakit tuli alias tidak dapat mendengar, apalagi mendengarkan, dan kebanyakan dari kita memiliki telinga atau indera pendengar yang baik dan sehat. Namun apakah kita sungguh dapat dan mau mendengarkan sungguh-sungguh aneka macam suara, informasi atau ajaran dst.. kiranya boleh  dipertanyakan. Jika kita semua sungguh dapat menjadi pendengar yang baik kiranya hidup bersama akan sungguh nikmat, nyaman dan mempesona serta menarik, karena kebanyakan yang diberitakan, diajarkan dan diperdengarkan adalah apa-apa yang baik. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk memperdalam kepekaan mendengarkan, dan tentu saja tidak hanya dengan telinga fisik, melainkan juga dengan telinga spiritual atau rohani. Jika kita mendambakan diri tumbuh berkembang dengan baik sebagai umat beriman yang bermoral dan berbudi pekerti luhur, hendaknya kita dengarkan dan cccap dalam-dalam sabda Tuhan, sebagaimana tertulis didalam kitab suci, yang senantiasa oleh saudara-saudari kita dicoba untuk menguraikan dan merefleksikan serta kemudian disampaikan kepada kita, entah berupa sharing atau pemberitahuan perihal nilai-nilai atau keutamaan-keutaman yang bersumber dari sabda Tuhan. Mereka yang sungguh tekun dan rendah hati mendengarkan telah menghasilkan buah melimpah, entah berupa karangan/tulisan atau buku, yang kemudian sangat berguna bagi banyak orang. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibiasakan dalam hal mendengarkan, dan tentu saja orangtua dapat menjadi teladan dalam hal mendengarkan dengan baik dan benar.
·   Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi” (1Kor 15:47-49), demikian sharing iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Sharing Paulus ini kiranya diwarnai oleh ajaran perihal duniawi dan sorgawi, fisik dan spiritual, tubuh dan roh/jiwa. Kita diingatakan bahwa tubuh kita yang fisik dan duniawi ini berasal dari debu tanah dan dalam waktu singkat akan kembali menjadi debu tanah kembali, setelah meninggal dunia dan dimakamkan nanti. Roh atau jiwa yang bersifat spiritual berasal dari sorga, dari Allah, dengan kata lain hidup kita berasal dari Allah, maka jika kita mendambakan hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, hendaknya senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan perintah atau kehendak Allah. Kehendak atau perintah Allah antara lain tertulis di dalam Kitab Suci, dan oleh para pemimpin agama atau pengkotbah apa yang tertulis dalam Kitab Suci tersebut diusahakan untuk diteruskan kepada kita semua melalui aneka cara dan bentuk. Maka baiklah dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: ketika sedang dalam ibadat pengotbah menyampaikan kotbahnya, hendaknya sungguh didengarkan, direnungkan dalam hati dan dicecap dalam-dalam. Bukalah telinga fisik dan hati anda ketika pengkotbah sedang menyampaikan kotbah-kotbahnya. Sebagai umat Allah marilah kita bekerjasama dalam menghayati aneka ajaran yang disampaikan melalui pengkotbah. Ada kemungkinan bagi kita semua untuk setiap hari membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, entah secara pribadi atau bersama-sama dalam komunitas atau keluarga. Maka usahakan, sediakan waktu dan tenaga setiap hari untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Marilah kita hayati dengan sungguh-sungguh bahwa kita adalah umat Allah, yang berarti umat yang senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah.
Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku” (Mzm 56:10-12)

Ign 22 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.