22 Juli – Yer 2:1-3.7-8.12-13; Yoh 20:1.11-18

"Aku telah melihat Tuhan!"

(Yer 2:1-3.7-8.12-13; Yoh 20:1.11-18)

“Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya“(Yoh 20:11-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka merayakan pesta  St.Maria Magdalena hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah sering diceritakan bahwa Maria Magdalena adalah perempuan yang cantik, pelacur klas tinggi yang menerima kasih pengampunan Yesus. Dengan kasih pengampunanNya itu ia merasa sungguh dikasihi oleh Yesus, dan konon ia juga kemudian menjadi murid terkasih Yesus, maka ia juga menjadi saksi kebangkitan Yesus yang pertama kali. Dalam tata kehidupan sosial di kebanyakan bangsa pada umum kaum perempuan dipandang lebih lemah daripada laki-laki; kaum perempuan bahkan sering menjadi ‘obyek’, entah sebagai obyek pemuas nafsu laki-laki hidung belang atau obyek komersial bagi beberapa perusahaan dalam rangka mengiklankan perusahaannya atau hasil usahanya. Mereka yang dipandang lemah di tengah masyarakat pada umumnya memiliki kepekaan hati yang kuat dan mendalam, sehingga peka terhadap hal-hal kecil; yang dipandang lemah pada umumnya juga tidak takut dalam suasana genting. Memang mereka yang dipandang lemah juga menjadi ujung tombak,  misalnya tentara atau polisi yang masih prajurit biasa senantiasa ditempatkan di garis depan dalam peperangan mau mengatasi kerusuhan, di dalam keluarga ketika ada yang tidak beres maka mereka yang lemah (pembantu rumah tangga) yang diminta membereskan, dst.. Dengan kata lain hemat saya yang lemah menjadi penyelamat bagi sesamanya, dan lebih peka terhadap ajakan untuk berbuat baik alias lebih melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesamanya. Di dalam keluarga pada umumnya perempuan atau ibu menjadi penyelamat kebutuhan hidup berkeluarga,  misalnya dengan segala upaya mencukupkan apa yang dibutuhkan anggota keluarga dengan dana atau anggaran yang ada, dst..

·    "Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya” (Yer 2:2). Kasih selama menjadi penganten atau selama bulan madu memang mengesan, mempesona dan membahagiakan. Mereka yang pernah atau sedang menjalani bulan madu kiranya dapat mensharingkan pengalaman saling mengasihi yang begitu indah, mempesona, nikmat dan membahagiakan. Firman Tuhan melalui Yeremia diatas mengajak dan mengingatkan kita semua pentingnya mengenangkan dan mengangkat kembali pengalaman ‘fascinosum’, pengalaman yang mempesona di dalam kehidupan kita masing-masing, pengalaman hiburan, dimana orang merasa diteguhkan dan dikuat iman, harapan dan kasihnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua: ketika kita merasa kurang bahagia, berat dalam hidup dan kerja, baiklah kita kenangkan pengalaman yang mempesona tersebut, kita kenangkan dan angkat kembali kasih yang telah kita nikmati untuk memberi kekuatan. Biarlah dalam keadaan susah, berat dan kurang bahagia kita tetap mampu melihat dan menghayati kehadiran Tuhan yang senantiasa mendampingi perjalanan hidup dan kerja kita. Marilah kita saling mengingatkan pengalaman-pengalaman indah yang pernah kita alami atau hayati. Dengan kata lain saya mengajak kita semua untuk senantiasa melihat dan menghayati kehadiran Roh dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita.

 

“Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya TUHAN. Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mzm 36:6-10)

        

Jakarta, 22 Juli 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.