22 Jan – 1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19

“Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya memberitakan Injil”

(1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19)

 

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.” (Mrk 3:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Fungsi duabelas rasul yang dipilih oleh Yesus untuk masa kini diemban oleh para uskup, yang jumlahnya melebihi dua belas. Para uskup dipilih oleh Paus, penerus karya Yesus, pengganti Santo Petrus, dan proses pemilihannya memang cukup lama, antara lain dengan minta masukan atau informasi dari pribadi-pribadi yang dinilai mengenal dengan baik ‘calon uskup’ yang bersangkutan. Jabatan Uskup pada dasarnya tidak terbatas, artinya sampai mati, namun karena alasan keterbatasan diri, entah karena sakit atau lanjut usia, ada kemungkinan untuk mengundurkan diri. “Untuk dinilai cakap sebagai calon Uskup, seseorang harus: 1) unggul dalam iman, hidup baik, kesalehan, semangat merasul, kebijaksanaan, kearifan dan dalam keutamaan-keutamaan manusiawi….2) mempunyai nama baik, 3) sekurang-kurangnya berusia tiga puluh lima tahun, 4) sekurang-kurangnya sudah lima tahun ditahbiskan imam, 5) mempunyai gelar doktor atau sekurang-kurangnya lisensiat dalam Kitab Suci, teologi atau hukum kanonik yang diperolehnya pada lembaga pendidikan lanjut yang disahkan Takhta Apostolik, atau sekurang-kurangnya mahir sungguh-sungguh dalam matakuliah-matakuliah itu” (KHK kan 378). Syarat-syarat tersebut diandaikan agar yang bersangkutan dapat ‘memberitakan Injil’ dengan baik dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan, termasuk menggembalakan atau melayani umat Allah. Mengingat tugas berrat dan mulia tersebut, maka kita sebagai umat Allah dipanggil untuk senantiasa mendoakannya, antara lain dalam setiap Perayaan Ekaristi. Dukungan konkret terhadap para uskup kiranya juga dapat kita wujudkan dalam cara hidup dan cara bertindak kita yang ditandai atau dijiwai oleh iman, hidup baik, kesalehan, semangat merasul, kebijaksanaan, kearifan dan dalam keutamaan-keutamaan manusiawi.

·   "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku” (1Sam 24:18-19), demikian kata Saul kepada Daud, pengakuan jujur Saul terhadap Daud. Entah Daud atau Saul kiranya dapat menjadi teladan kita. Meneladan Saul berarti mereka yang berfungsi sebagai pembesar atau petinggi hendaknya jujur terhadap diri sendiri, jika salah hendaknya mengakui kelasahannya dengan rela dan besar hati, meskipun hal itu dilakukan kepada anggota, bawahan atau anak buah. Sebaliknya kita semua hemat saya dipanggil untuk meneladan Daud, yang tidak mencelakakan atau melukai orang lain sedikitpun, meskipun secara rational maupun faktual dapat dilakukan, dengan kata lain hendaknya kita senanitiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ingat dan hayati bahwa sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, kita dipanggil untuk senantiasa menjadi pewarta-pewarta kabar baik.  Hendaknya apa yang tersiarkan atau terkabarkan dari diri kita masing-masing adalah apa yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, maka masing-masing dari kita hendaknya senantiasa hidup baik. Untuk hidup baik pada masa kini hemat saya kita tak dapat berusaha sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan orang lain, sebagaimana para rasul maupun penerusnya, para uskup, senantiasa juga hidup dan berkarya dalam kolegialitas. Maka hendaknya sering diselenggarakan pertemuan, curhat atau diskusi, entah secara formal atau informal, antar kita. Kami percaya pertemuan antara orang-orang atau pribadi-pribadi yang berkehendak baik pasti akan menghasilkan buah yang tak terduga, yang lebih baik.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S el a Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.”

(Mzm 57:2-4)

       

Jakarta, 22 Januari 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.