22 Feb – 1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19

Posted on

“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga”

(1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19)

 

“Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”(Mat 16:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka merayakan “Pesta Takhta St.Petrus” hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Takhta St.Petrus untuk masa kini diduduki atau dijabat oleh Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Yang menjadi pemimpin tertinggi pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bersikap diktator dan sombong. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik atau Paus senantiasa berusaha rendah hati dan melayani, maka dalam doa-doanya Paus senantiasa menyatakan diri sebagai ‘hamba dari para hamba’ (=servus servorum), menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan mereka yang harus dilayani. Dengan mendengarkan yang dilayani dengan baik, diharapkan dapat melayani dengan baik juga. Bentuk pelayanan Paus antara lain berupa  pengarahan, kebijakan, surat pastoral, dekrit, dst..yang dibuat dan dirumuskan setelah mendengarkan mereka yang akan menerimanya atau yang dilayani. Karena apa yang diajarkan atau disampaikan oleh Paus pada umumnya merupakan tanggapan atas suka-duka umat Allah atau para anggota Gereja Katolik dan masyarakat dunia, maka yang diajarkan atau disampaikan sungguh berwibawa dan pada umumnya ditaati dan dilaksanakan oleh umat Allah. Sampai saat ini Paus melalui para pembantunya atau langsung senantiasa menerima masukan-masukan atau informasi suka-duka umat Allah yang harus dilayani secara teratur. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan Takhta St.Petrus hari ini, kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang berpartisipasi dalam kepemimpinan umat Allah di tingkat apapun untuk menghayati kepemimpinan partisipatif: dengan rendah hati mendengarkan suka-duka dari mereka yang harus dipimpin dan dilayani, dan kemudian menanggapinya dengan rendah hati dan penuh kasih.

·   Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu“(1Ptr 5:2-3). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua, yang merasa menjadi pemimpin atau atasan, untuk menghayati kepemimpinan dengan semangat gembala dan keteladanan. Gembala, sebagaimana gembala itik atau kerbau, kiranya menghayati tugasnya seperti motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (=keteladanan, pemberdayaan dan motiviasi). Yang cukup mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan pada masa kini hemat kami adalah keteladanan, maka kami berharap kepada para pimimpin dimanapun dan tingkat apapun untuk menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan cara hidup serta bertindak yang melayani. Tanda pemimpin yang baik dan dicintai oleh yang dipimpin antara kehadiran dan sepak terjangnya, cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa memberdayakan orang lain, menggairahkan orang lain dalam hidup dan bekerja; ia juga dapat menjadi motivasi bagi orang lain untuk terus tumbuh berkembang sebagai pribadi dewasa yang cerdas beriman. Pemimpin yang baik juga tidak mencari mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau mencari enaknya sendiri, tetapi siap sedia menderita dan berkorban demi kebahagiaan, keselamatan dan kedamaian yang mereka pimpin. The last but not the least adalah: para orangtua kami dambakan dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal kerendahan hati dan hidup saling melayani.

 

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

(Mzm 23)

   Jakarta, 22 Februari 2010

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.