22 Des – 1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56

"Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku,”

(1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56)

 

“Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya” (Luk 1:46-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika orang menerima pujian dari sesamanya pada umumnya menjadi ‘besar kepala’ atau sombong, namun berbeda apa yang terjadi dalam diri Bunda Maria. Ketika Bunda Maria menerima pujian dari Elisabet, maka ia langsung mengidungkan pujian Magnificat, pujian dari orang yang terpilih oleh Allah. Kidung Maginificat ini menjadi bagian dari doa Harian para klerus dan anggota Lembaga Hidup Bakti serta doa dari mereka yang berdevosi kepada Bunda Maria, seperti legioner/para anggota Legio Mariae. Bunda Maria adalah teladan hidup beriman, maka kiranya selayaknya kita yang merasa beriman juga setiap hari mendaraskan Kidung Magnificat tersebut di atas dan tentu saja menghayati isi kidung tersebut dalam hidup sehari-hari. Ada dua pokok isi kidung di atas, yaitu: (1) dengan rendah hati orang menghayati atau mengimani karya agung Allah dalam dirinya yang lemah dan rapuh serta (2) kuasa Allah yang menjungkir-balikkan cara berpikir/paradigma duniawi. Pertama-tama marilah kita imani dan hayati karya agung Allah dalam diri kita masing-masing, bahwa kita dapat hidup, berkembang dan tumbuh seperti saat ini tak pernah lepas dari karya atau rahmat Allah, maka hendaknya kita senantiasa memuliakan Allah serta saling memuliakan antar kita. Selanjutnya kami mengingatkan mereka yang congkak hati, gila kedudukan dan jabatan untuk bertobat dan memperbaharui diri, sedangkan mereka yang ‘lapar’ baiklah membuka diri terhadap kemurahan hati Allah melalui sesama atau saudara-saudari kita. Kepada kita semua marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati.

·   "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN."( 1Sam 1:26-28), demikian kata seorang ibu/perempuan kepada Eli. Anak adalah anugerah Tuhan dan kemudian dipersembahkan kembali kepada Tuhan, itulah yang terjadi. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para ibu, yang kiranya lebih banyak lebih memperhatikan dan mengasihi anak karena telah mengandung dan melahirkannya, untuk ‘menyerahkan anak kepada Tuhan, seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan’. Dengan kata lain sebagaimana pernah dijanjikan ketika saling menerimakan sakramen perkawinan, yaitu ‘mendidik anak-anak yang akan dianugerahkan Tuhan secara kristiani atau katolik’ , hendaknya janji tersebut dihayati dengan benar dan baik. Didik, dampingi dan bimbing anak-anak secara kristiani atau katolik, dan ketika suatu saat sang anak tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, antara lain tergerak menjadi imam, bruder atau suster, hendaknya tidak ditolak, melainkan didukung sepenuhnya. Kebahagiaan sejati orangtua hemat kami adalah ketika anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa yang cerdas beriman serta menjadi kader masyarakat alias bahagia dan sejahtera dalam hidup dan panggilannya. Jika orangtua mendidik anak-anak dengan baik kiranya anak-anak akan tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’. Untuk itu tentu saja para orangtua atau bapak itu dapat menjadi teladan sebagai ‘man or woman with/for others’.

 

“Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat.

 Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.

TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga

(1Sam 2:4-7)

Jakarta, 22 Desember 2009

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.