21 Juni – 2Raj 17:5-8.13-15a.18; Mat:1-5)

"Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.”

(2Raj 17:5-8.13-15a.18; Mat:1-5)

 

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga, biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Senantiasa berpikiran positif (‘positive thinking’)  daripada berpikiran negatif (‘negative thingking’) terhadap sesama atau orang lain, itulah inti Warta Gembira hari ini. Dengan kata lain kita dipanggil untuk bersemangat ‘karya penciptaan’, yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah yang baik, benar, mulia dan indah. Kami percaya bahwa di dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang buruk, benar daripada salah, mulia daripada jorok, indah daripada amburadul. Maka pertama-tama kami harapkan agar kita sendiri senantiasa berpikiran positif terhadap diri kita sendiri, dan dengan demikian kita akan lebih mudah untuk berpikiran positif terhadap orang lain. Kita semua dipanggil untuk mahir atau ahli kebaikan bukan kejahatan alias ahli Roh Kudus, terampil dalam pembedaan roh (spiritual discernment). Maka kami mengajak anda sekalian untuk membiasakan latihan pembedaan roh atau pemeriksaan batin setiap hari (ingat pemeriksaan batin adalah bagian dari doa malam, doa harian). Hari ini kita kenangkan St.Aloysius Gonzaga, Yesuit muda/ biarawan, yang dikenal kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan dalam tugas, dan ia menjadi teladan bagi kawan-kawannya. Kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan juga merupakan buah atau kasih karunia Roh Kudus, anugerah Allah. Marilah kita mengusahakan dan memperdalam keutamaan kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan, serta dengan rendah hati kita lihat dan akui keutamaan-keutamaan tersebut dalam diri saudara-saudari kita.

·   "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi.” (2Raj 17:13), demikian nasihat atau pesan para nabi kepada bangsa terpilih. Pesan atau nasihat ini kiranya juga terarah pada kita semua, maka marilah kita renungkan dan hayati atau laksanakan.  Aneka macam bentuk kejahatan membuat kabur penglihatan mati hati kita, suara hati kita semakin buta dan kita tak mampu membedakan apa yang baik dan buruk. Kita diingatkan untuk setia mengikuti dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita lihat dalam berbagai kehendak baik saudara-saudari kita, dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita saling melihat dan mendengarkan kehendak baik kita untuk disinerjikan dan kemudian dihayati bersama-sama. Dalam kehidupan bersama senantiasa ada aturan atau tatanan, entah lisan atau tertulis, yang harus kita taati atau laksanakan. Kami angkat lagi perihal peraturan berlalu lintas di jalanan, dimana dapat kita lihat aneka rambu-rambu lalu lintas. Ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas atau kedisiplinan berlalu lintas hemat saya merupkan cermin kehidupan bersama: hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketaatan dan kedisiplinan ini kami harapkan sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga maupun sekolah dengan teladan konkret dari para orangtua maupun para guru/pendidik. Ketaatan utama atau dasar adalah taat kepada kehendak Tuhan, maka kepada mereka yang akrab dan mesra hidup bersama dengan Tuhan selayaknya kehendak, nasihat atau pesannya kita dengarkan dan laksanakan, karena mereka bagaikan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk mewartakan apa yang baik dan benar.

 

“Ya Allah, Engkau telah membuang kami, menembus pertahanan kami; Engkau telah murka; pulihkanlah kami! Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; perbaikilah retak-retaknya, sebab bumi telah goyang. Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan.” (Mzm 60:3-5)

Jakarta, 21 Juni 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.