21 Des – Kid 2:8-14; Luk 1:39-45

“Merdu suaramu dan elok wajahmu!"

(Kid 2:8-14; Luk 1:39-45)

 

“Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang, atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!"(Kid 2:8-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu!”, kutipan ini baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Beberapa dari anda yang terlibat dalam paduan suara atau lektor/lektris kiranya pada hari-hari ini sedang memantapkan latihan kor dalam rangka merayakan pesta Natal yang akan datang, sedangkan yang lain atau kita semua mungkin sedang sibuk mempersiapkan pakaian baru atau penampilan diri sebaik dan semenarik mungkin. “Merdu suaramu dan elok wajahmu”, kata-kata demikian ini kiranya kita dambakan dari saudara-saudari kita dalam perayaan Natal yang akan datang. Kami berharap tidak hanya merdu dan elok secara phisik saja, melainkan dan terutama secara spiritual, dalam hati, jiwa dan akal budi. Maka marilah kita mawas diri: apakah hati, jiwa dan akal budi kita ‘merdu dan elok’ artinya bersih, jernih serta menarik dan mempesona. “Merdu dan elok luar dalam, jasmani dan rohani’ itulah yang menjadi dambaan atau kerinduan kita semua. Yang luar atau jasmani mungkin dengan mudah diperbaiki, tetapi yang dalam atau rohani, yaitu hati, jiwa dan akal budi kiranya tidak begitu mudah untuk diperbaiki. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk saling bekerjasama dan membantu dalam rangka mengusahakan kemerduan dan keelokan hati, jiwa dan akal budi. Untuk itu ketika ada sesuatu yang kurang/tidak merdu dan elok dalam diri kita serta diberitahu dan diperbaiki orang lain, hendaknya dengan rendah hati kita terima. Sebaliknya hendaknya kita juga tidak takut mengingatkan dan memperbaiki ‘hati, jiwa dan akal budi’ saudara-saudari kita, tentu saja dengan rendah hati, lemah lembut dan sabar.    

·   Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”(Luk 1:43), demikian pertanyaan Elisabet ketika memperoleh kunjungan Maria. Mungkin kita dapat meneladan Maria yang mengunjungi Elisabet, dengan harapan mereka yang memperoleh kunjungan atau kedatangan kita juga akan bertanya: “Siapakah aku ini sampai engkau datang mengunjungi aku?”, pertanyaan yang tidak lain adalah mempertanyakan jati dirinya sendiri. Bukankah setiap dari kita ketika memperoleh kunjungan dari saudara atau sahabat dengan tiba-tiba alias tanpa pemberitahuan lebih dahulu pada umumnya juga akan bertanya-tanya, entah vokal atau dalam hati: “Ada apa saya dikunjungi?”. Setiap kunjungan atau perjumpaan memang pada umumnya akan terjadi proses penyadaran dan pembaharuan diri, maka marilah kita saling mengunjungi atau mendatangi, saling bertemu dan bercakap-cakap. Memang untuk itu orang harus memboroskan waktu dan tenaga, tetapi ingat dan sadarilah bahwa pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih merupakan cirikhas hidup saling mengasihi; tanpa ada pemborosan waktu dan tenaga cintakasih akan terasa kering dan hambar. Mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, misalnya para pemimpin atau atasan, kami harapkan sering mengunjungi atau mendatangi anak buah atau bawahan, sebagai tanda kasih dan perhatian, sebagai penghayatan iman kita akan Sang Penyelamat Dunia, Allah dari sorga turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya. Kami berharap para pemimpin tidak duduk-duduk di kursi dalam ruangan AC sambil menunggu orang datang ( ‘pisowanan’), tetapi turba, turun ke bawah. Lihatlah realitas atau kenyataan konkret, jangan terlalu percaya kepada laporan tertulis atau omongan lisan yang manis dan sopan saja.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.” (Mzm 33:2-3.20-21)

Jakarta, 21 Desember 2009

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.