“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”

 Kamis Putih: Kel 12:1-8.11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15


Pertama-tama kami ucapkan “Proficiat” kepada rekan-rekan imam yang pada hari ini memperbaharui janji imamat bersama Bapak Uskup, imam sejati. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa imamat kita, para imam, adalah partisipasi atau ambil bagian dalam imamat Bapak Uskup. Para Bapak Uskup kita senantiasa berusaha dengan rendah hati menghayati imamat sebagai hamba yang hina dina, yang antara lain senantiasa diikrarkan kembali dalam Doa Syukur Agung setiap kali mempersembahkan Perayaan Ekaristi. Terpanggil menjadi imam memang harus meneladan Yesus, yang datang dengan rendah hati untuk melayani bukan dilayani. Semangat pelayanan Yesus kita kenangkan hari ini dengan membasuh kaki para murid/rasul dalam perjamuan pesta bersama, meskipun Ia juga menjadi tuan rumah atau pemimpin pesta. Hemat saya yang terpanggil untuk meneladan Yesus tidak hanya para imam saja, melainkan kita semua yang beriman atau percaya kepadaNya, maka marilah kita renungkan secara mendalam sabdaNya hari ini.

 

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15)

 

Kita yang beriman kepada Yesus percaya bahwa Ia adalah “Tuhan dan Guru” kita yang sejati dan utama, dengan demikian kita semua adalah umat dan muridNya, yang mau tak mau sebagai umat dan murid yang baik senantiasa mentaati aneka perintahNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”, demikian sabda Yesus yang harus kita taati dan laksanakan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

 

“Kaki” adalah anggota tubuh paling bawah, yang harus menanggung beban seluruh tubuh agar tubuh dapat berdiri dengan tegar dan tak tergoyahkan. Kaki adalah anggota tubuh yang menapak atau menyentuh tanah, dan dengan demikian ketika tanpa alas kaki berarti kaki siap untuk menjadi anggota tubuh yang paling kotor. Maka juga ada kebiasaan beberapa orang untuk membasuh kaki sebelum naik ke tempat tidur untuk beristirahat, menikmati hidup. Tugas atau panggilan untuk ‘saling membasuh kaki’ antara lain berarti saling memperhatikan saudara-saudari kita yang berada di bagian bawah atau yang dipandang/dinilai kotor dalam percaturan sosial bersama, seperti para gelandangan, preman, pengemis, anak jalanan, pelacur, serta mereka yang miskin dan berkekurangan yang sering tinggal dan hidup di area terlarang seperti di kolong jembatan, pinggir rel kereta api, kolong jalan layang dst.. Kami berharap kepada para wakil rakyat atau mereka yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama  dapat menjadi teladan dalam memperhatikan mereka yang berada di bawah dan kotor tersebut. Memang sungguh memprihatinkan apa yang sedang menyita waktu dan tenaga para wakil rakyat akhir-akhir ini, yaitu tidak memperhatikan rakyat yang diwakilinya melainkan sibuk dengan usaha untuk memanjakan diri sendiri, antara lain dengan rencana gedung DPR yang megah dan mahal. Semoga para wakil rakyat menyadari dan menghayati dirinya sebagai wakil rakyat yang berada di bawah dan kotor tersebut, dan kemudian berjuang dan berkorban bagi mereka.

 

Secara khusus kami ingin mengingatkan dan mengajak para orangtua atau pemimpin komunitas: hendaknya menjadi teladan dalam melayani dengan rendah hati, sebagaimana seorang ibu mengasihi bayi atau anaknya yang masih kecil. Memang sayang ada sementara ibu menyerahkan perawatan bayinya kepada para pembantu atau ‘baby sitter’, sehingga tidak memiliki pengalaman membasuh dan membersihkan anggota tubuh bayinya yang kotor. Kami percaya kepada rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih memiliki kepekaan dalam memperhatikan yang berada di bawah dan kotor daripada rekan-rekan laki-laki atau para bapak. Maka kami berharap kepada rekan-rekan perempuan untuk memperdalam dan memperkuat semangat melayani dengan rendah hati tersebut dalam kehidupan dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun. Semoga rekan-rekan imam juga memiliki kepedulian dan perhatian yang memadai terhadap mereka yang berada di bawah dan kotor. Marilah kita renungkan juga peringatan Paulus di bawah ini.

 

“Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang“(1Kor 11:26)

 

Kamis Putih juga merupakan hari untuk mengenangkan Perayaan Ekaristi yang dilayani oleh para imam, dimana dalam Perayaan tersebut kita diberi kesempatan untuk menerima komuni Kudus atau Tubuh Kristus dalam rupa roti. Maka hari ini juga merupakan kesempatan bagi kita semua untuk mawas diri perihal ‘setiap kali kita menerima komuni kudus atau Tubuh Kristus’. Kita diingatkan oleh Paulus bahwa ‘setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang’ . Apa arti dan makna peringatan ini?

 

Memberitakan kematian Tuhan”  berarti menyebarkan luaskan persembahan diri kita secara total kepada Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita demi kebahagiaan atau keselamatan mereka, terutama jiwanya. Dengan kata lain kita harus meninggalkan segala perbuatan jahat atau dosa, dan tidak melakukan kejahatan atau dosa lagi dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi kalau saya mendengar kata ‘mempersembahkan diri’ senantiasa teringat kepada para suami dan isteri yang saling mempersembah-kan diri tanpa syarat antara lain terjadi dalam saling mengasihi ketika saling berhubungan seksual satu sama lain. Maka kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling mempersembahkan diri, dan tentu saja kepada anak-anak hendaknya dengan rendah hati mengikuti teladan orangtua masing-masing. Jauhkan aneka bentuk pemanjaan diri atau orang lain yang dapat mencelakakan hidup masa depan.

 

"Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya.Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau." (Kej 12;11-13), demikian kata Abram kepada Sara, isterinya.  Apa yang dikatakan Abram ini hemat saya merupakan usaha untuk melindungi mereka sebagai suami-isteri, melindungi dirinya sendiri maupun isterinya. Dengan kata lain hemat saya hal itu dapat menjadi teladan bagi para suami. Maka perkenankan secara khusus kami mengingatkan para suami atau bapak, maaf yang pada umumnya lebih mudah selingkuh daripada isterinya, untuk tetap setia pada isterinya dalam keadaan atau situasi apapun. Suami atau bapak pada umumnya juga menjadi kepala keluarga, maka hendaknya sungguh menghayati fungsi kepala keluarga tersebut dengan melindungi seluruh anggota keluarga agar tetap setia pada panggilan dan tugas pengutusannya masing-masing.

 

“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Mzm 116:12-13.15-17)

Jakarta, 21 April 2011

Note: selamat merayakan Hari Kartini, semoga rekan-rekan perempuan meneladan semangat RA.Kartini.               

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.