Kamis, 01 Desember 2022 – Peringatan Wajib Beato Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia

Posted on

Rm. V. Teja Anthara SCJ dari Komunitas SCJ Seminari St. Paulus Palembang Indonesia

 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA:

Para kudus bergembira di surga, sebab telah mengikuti jejak Kristus. Mereka menumpahkan darahnya demi Dia, sehingga kini bersuka ria selamanya.

PENGANTAR:

Dionisius, asal Perancis Utara, semula seorang pelaut. Pada umur 35 tahun ia memutuskan menjadi ima dan masuk biara Karmel. Sedangkan Redemptus, asal Portugal, semula seorang tentara Portugal, yang menjadi bruder Karmel. Pada tahun 1638 keduanya mengikuti rombongan utusan Portugasl ke Aceh. Sampai di sana mereka di tangkap dan dipenjarakan. Pada tanggal 29 November 1638 mereka gugur sebagai martir. Usaha mereka untuk mewartakan Injil di Indonesia nampaknya gagal total. Tetapi bukanlah biji gandung harus jatuh dan mati, supaya dapat tumbuh dan berbuah?

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa: Allah Bapa sekalian manusia. Engkau telah mendorong Beato Dionisius dan Redemptus untuk meninggalkan tanah airnya masing-masing dan menaburkan benih sabda-Mu di Asia. Di tanah air kami mereka menyerahkan nyawa demi nama-Mu dan usaha mereka terhenti. Semoga kami mampu meneruskan usaha mulia itu, sehingga akhirnya biji gandung yang jatuh dan mati itu menghasilkan buah berlimpah. Demi Yesus Kristus,…

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yesaya 26:1-6

“Bangsa yang benar dan tetap setia biarlah masuk.”

Pada masa itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda, “Kita mempunyai kota yang kuat! Tuhan telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepada-Mu. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Kota-kota di atas gunung telah ditaklukkan-Nya; benteng-benteng yang kuat telah dirobohkan-Nya, diratakan-Nya dengan tanah dan dicampakkan-Nya menjadi debu. Kaki orang-orang sengsara dan telapak orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 118:1.8-9.19-21.25-27a

Ref. Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.

  1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia! Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan!

  2. Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

  3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali pada tanduk-tanduk mezbah.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : (Yes 55:6) Carilah Tuhan, selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 7:21.24-27

“Barangsiapa melakukan kehendak Bapa akan masuk Kerajaan Allah.”

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan! Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Semua orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Tetapi rumah itu tidak roboh sebab dibangun di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Valentinus Sri Teja Anthara SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Pendengar Resi Dehonian terkasih, jumpa kembali dengan saya Romo Valentinus Teja Anthara scj dari Komunitas SCJ, Seminari St. Paulus – Palembang – Indonesia, dalam Resi – renungan singkat – dehonian edisi hari Kamis – tanggal satu  –– Desember – tahun dua ribu dua puluh dua – Hari Biasa pekan Adven pertama.

Pendengar Resi yang dikasihi Tuhan. Membaca dan merenungkan bacaan ini, saya ingat pepatah yang mengatakan ‘jarkoni’ iso ujar orang iso nglakoni; ‘gajah diblangkoni, iso kojah ning ora iso nglakoni;. Keduanya mempunyai arti orang bisa ngomong, bisa berkotbah tetapi tidak bisa menjalankan. Omongnya gedhe, tetap tidakannya kosong. Pengertian ini tepat dikaitkan dengan sabda Jesus. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,  melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku  yang di sorga.

Masuk surga itu bukan soal pinter omong, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang kongkrit. Sabda Jesus ini berkaitan bagaimana sikap yang tepat dalam menanggapi sabda dan ajaran Jesus. Mengerti dan menerima ajaran Jesus itu, tidak cukup. Menjadi lengkap bila diwujudkan dalam tindakan.

Perumpamaan yang Jesus ambil untuk meneguhkan ajarannya tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Itulah sikap yang tegas dan jelas bagaimana reaksi orang yang menerima atau tidak menerima sabda Jesus. Hal itu seperti membangun rumah dalam dasar atau foundasi yang berbeda. Membangun diatas batu dan diatas pasir. Tantangan yang terjadi, atau alam yang menerjang; hujan dan banjir yang melanda menjadi penentu dari kualitas bangunan yang didirikan oleh pribadi kita.

Pendengar Resi yang dikasihi Tuhan. Pada intinya makna mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya adalah jalan menjadi orang bijaksana. Hanya mendengarkan sabda-Nya adalah tindakan baik tapi tidak berdampak. Mengaku melaksanakan kehendak Tuhan namun tidak membaca sabda-Nya adalah omong kosong.

Oleh karena itu mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan berarti kita membangun diri kita diatas Batu Karang yang kokoh, badai dan gelombang akan berlalu, kita tetap bisa berdiri kokoh kuat. Marilah mendirikan bangunan diri kita dengan sabda Tuhan dan pelaksanaanya. Marilah menyadari tindakan dan perbuatan kita dalam dasar atau foundasi Sabda Tuhan, bukan dasar yang lain. Semoga dengan demikian, penantian kita menjadi penantian yang membawa keselamatan saat ini dan keselamatan kekal. Semoga Hati Kudus menjadi sumber kerendahan hati yang tidak pernah sirna karena dihadang oleh kehidupan yang berat. Tetap setia walaupun menderita. Tuhan memberkati. Amin

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa yang mahakudus, Beato Dionisius dan Redemptus telah mempersembahakan hidupnya kepada-Mu. Terimalah kiranya kini persembahan kami ini, dan semoga karenanya kami berani memberi kesaksian tentang penebusan-Mu tanpa gentar sedikit pun. Demi Kristus, …

ANTIFON KOMUNI – Yoh 12:24-25

Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji.NTetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali.

DOA SESUDAH KOMUNI

Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang maha pengasih, kami sudah menyambut tubuh Kristus dan bersatu dengan dengan Dia. Semoga kami takkan pernah terpisah dari cinta kasih-Nya berkat doa dan teladan para martir-Mu Beato Dionisius dan Redemptus dan berani menghadapi segala tantangan. Demi Kristus,…

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

Beato Redemptus dan Dionisius Menjadi Martir di Aceh

 

Hari ini 29 November 2017, gereja Katolik memperingati dan merayakan dua orang kudus yaitu:

1. Beato Redemptus A Cruce (dari Salib)

Beaoto Redemtus lahir 15 Maret 1598 dari Paredes, Portugal, pernah berkarya di Goa – India, Sumatra – Indonesia; Wafat sebagai Martir (ditembak dengan panah lalu lehernya digorok) di Aceh, Indonesia pada 27 November 1638. Dibeatifikasi pada 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII.

Redemptus lahir di sebuah keluarga tani yang miskin namun saleh dan taat agama. Orangtuanya memberinya nama Tomás Rodrigues da Cunha di Paredes. Semenjak usia muda, ia masuk dinas ketentaraan Portugis dan ditugaskan ke India. Namun pada tahun 1615 Ia mengundurkan diri dari dinas ketentaraan karena ingin menjadi biarawan.Ia lalu bergabung dengan biara karmel di Goa sebagai seorang Bruder dan mengambil nama biara Redemptus dari Salib (Redemptus a Cruce). Di biara inilah ia bertemu dengan seorang biarawan kudus yang dulunya adalah seorang pelaut dan juga seorang tentara yang bernama Dionisius a Nativitate. 

2. Beato Dionisius a Nativitate

Beato Dionisius lahir 12 Desember 1600 dari Honfleur, Perancis, berkarya ditempat yang sama dengan Beato Redemptus; wafat sebagai Martir (kepalanya di pukul dengan gada hingga pecah lalu lehernya digorok) di Aceh Indonesia pada tanggal 27 November 1638. Dibeatifikasi pada 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII.

Nama baptisnya Pierre Berthelot. Ia lahir di kota Honfleur, Perancis pada tanggal 12 Desember 1600. Ayahnya adalah seorang dokter dan nakoda kapal dan Ibunya yang bernama Fleurie Morin adalah seorang aristokrat Prancis yang harum namanya. Semua adiknya : Franscois, Jean, Andre, Geoffin dan Louis menjadi pelaut seperti ayahnya. Pierre sendiri semenjak kecil (12 tahun) telah mengikuti ayahnya mengarungi lautan luas; dan ketika berusia 19 tahun ia sudah menjadi seorang pelaut ulung. 

3. Riwayat Kemartiran

Alkisah pada tahun 1638, Wakil Raja Portugis di Goa, Pedro da Silva, bermaksud mengirim misi diplomatik ke Aceh yang baru saja berganti sultan; dari Sultan Iskandar Muda ke Sultan Iskandar Thani. Pedro da Silva ingin menjalin hubungan persahabatan karena hubungannya dengan sultan terdahulu tidak begitu baik.

Sebagai seorang bekas pelaut yang sudah pernah datang ke Banten, Dionisius ditunjuk sebagai almosenir (juru bahasa dan pandu laut). Oleh karena itu tahbisan imamatnya dipercepat. Dionisius ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1637 oleh Mgr. Alfonso Mendez. Bruder Redemptus dengan izinan atasannya ikut serta dalam perjalanan dinas itu sebagai pembantu.

Misi ini dipimpin oleh Dom Francisco Sousa de Castro sebagai duta. Para anggota misi yang lainnya adalah : Pater tentara Dionisius, Bruder Redemptus, Don Ludovico da Soza, dua orang biarawan Fransiskan, seorang pribumi dan 60 orang awak kapal. Mereka berlabuh di Ole-Ole (kini: Kotaraja) dan disambut dengan ramah.

Tetapi keramahan orang Aceh ternyata hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang Belanda telah menghasut Sultan Iskandar Thani dengan menyebarkan isu bahwa bangsa Portugis datang hanya untuk menyebarkan agama Katolik diwilayah Aceh. Karena itu semua anggota misi ini ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa agar menyangkal imannya. Selama sebulan mereka meringkuk di dalam penjara dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Beberapa orang dari antara mereka meninggalkan imannya untuk membeli kebebasan mereka.

Dionisius dan Redemptus terus meneguhkan iman saudara-saudaranya dan memberi mereka hiburan. Akhirnya di pesisir pantai tentara sultan mengumumkan bahwa mereka dihukum mati bukan karena berkebangsaan Portugis melainkan karena mereka adalah pemeluk agama Katolik. Maklumat sultan ini diterjemahkan oleh Pater Dionisius kepada teman-temannya.

Sebelum menyerahkan nyawa ke tangan para algojo, mereka semua berdoa dan Pater Dionisius mengambil salib dan memperlihatkan kepada mereka supaya jangan mundur, melainkan bersedia mengorbankan nyawa demi Kristus Yang Tersalib dan yang telah menebus dosa dunia, dosa mereka. Dionisius memohon ampun kepada Tuhan dan memberikan absolusi terakhir kepada mereka satu per satu. Segera tentara menyeret Dionisius dan dimulailah pembantaian massal.

Setelah teman-temannya dibunuh satu-demi satu, Pater Dionisius masih bersaksi tentang Kristus dengan penuh semangat. Kotbahnya itu justru semakin menambah kebencian rakyat Aceh terhadapnya. Algojo-algojo semakin beringas untuk segera menamatkan riwayat Dionisius. Namun langkah mereka terhenti di hadapan Dionisius.

Dengan sekuat tenaga mereka menghunuskan kelewang dan tombak akan tetapi seolah-olah ada kekuatan yang menahan, sehingga tidak ada yang berani. Segera kepala algojo mengirim utusan kepada sultan agar menambah bala bantuan.

Dionisus lalu berdoa kepada Tuhan agar niatnya menjadi martir dikabulkan. Dan permintaannya dikabulkan. Seorang algojo – yang adalah seorang Kristen Malaka yang murtad – mengangkat gada dan mengayunkan dengan keras ke kepala Dionisius, disusul dengan kelewang yang memisahkan kepala Dionisius dari tubuhnya.

Kemartiran Dionisius dengan kawan-kawannya disahkan Tuhan: mayat mereka selama 7 bulan tidak hancur, tetap segar seperti sedang tidur. Menurut saksi mata, jenazah Dionisius sangat merepotkan orang sekitarnya, karena setiap kali dibuang – ke laut dan tengah hutan – senantiasa kembali lagi ke tempat ia dibunuh. Akhirnya jenazahnya dengan hormat dimakamkan di Pulau Dien (‘pulau buangan’). Kemudian dipindahkan ke Goa, India.

Pater Dionisius a Nativity di beatifikasi bersama dengan Bruder Redemptus a Cruce pada tanggal 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII

Sumber: https://www.hidupkatolik.com/2017/11/29/15335/beato-redemptus-dari-salib.php