Kamis, 17 November 2022 – Peringatan Wajib Sta. Elisabeth dari Hungaria

Posted on
Rm. Agustinus Guntoro SCJ dari Komunitas SCJ Martino Capelli Hong Kong
Rm. Agustinus Guntoro SCJ dari Komunitas SCJ Martino Capelli Hong Kong

 

 

 

AUDIO RESI:


https://resi.dehonian.or.id/wp-content/uploads/2022/11/Resi-Kamis-17-November-2022-oleh-Rm.-Agustinus-Guntoro-SCJ-dari-Komunitas-SCJ-Martino-Capelli-Hong-Kong.mp3

ANTIFON PEMBUKA – Mat 25:34.36.40

Marilah kalian yang diberkati oleh Bapa-Ku. Sebab Aku sakit dan kalian mengunjungi Aku. Sungguh Aku bersabda kepadamu: Apa saja yang kalian lakukan bagi saudara-Ku yang terhina sekalipun, itu kalian lakukan bagi-Ku.

PENGANTAR:

Setelah berkeluarga dalam waktu singkat, Elisabet kehilangan suaminya, yaitu seorang hertog di Turingen. Kematian suami itu menjadi permulaan jalan salibnya. Ia diusir dari istana dan tiga orang anaknya dirampas orang. Tetapi dengan tabah perlakuan di luar perikemanusiaan itu diterimanya. Kekayaan yang masih ada padanya dibagi-bagikannya kepada orang miskin. Ia menjadi anggota Ordo ketiga Santo Fransiskus dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa: Allah Bapa para yatim piatu, Santa Elisabet melihat dan menghormati Kristus dalam diri kaum miskin. Semoga karena doa dan teladannya kami pun melayani orang malang dan papa dengan cinta kasih sejati. Demi Yesus Kristus,…

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Wahyu 5:1-10     

“Anak Domba telah disembelih dan dengan darah-Nya telah menebus kita dari segala bangsa.”

Aku, Yohanes, melihat Seorang yang duduk di atas takhta di surga; dengan tangan kanan Dia memegang sebuah gulungan kitab. Kitab itu ditulis sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai. Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya, “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?” Tetapi tak seorang pun di surga atau di bumi atau di bawah bumi yang dapat membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya. Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak seorang pun dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu atau pun melihat sebelah dalamnya. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku, “Jangan menangis! Sesungguhnya singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang. Dialah yang dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya. “Maka aku melihat seekor Anak Domba berdiri di tengah-tengah takhta dan ditengah-tengah keempat makhluk serta orang tua-tua itu. Anak Domba itu kelihatan seperti telah disembelih, Ia bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat orang tua-tua di hadapan Anak Domba. Mereka masing-masing memegang sebuah kecapi, dan sebuah cawan emas penuh dengan kemenyan. Itulah doa orang-orang kudus. Dan mereka menyanyikan sebuah lagu baru katanya, ‘Layaklah Engkau menerima gulungan kitab dan membuka ketujuh meterainya. Sebab Engkau telah disembelih, dan dengan darah-Mu telah membeli mereka bagi Allah dari setiap suku, bahasa, kaum dan bangsa. Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka sebagai raja akan memerintah di bumi.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 149:1-6a.9b

Ref. Tuhan, Engkau telah membuat kami menjadi raja dan imam.

  1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
  2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
  3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka. Itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : (Mzm 95:8ab)  Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 19:41-44

“Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu!”

Pada waktu itu, ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, katanya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu. Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melawati engkau.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Agustinus Guntoro SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria

Para sahabat dimana pun Anda berada, saya, Agustinus Guntoro, scj dari komunitas Martino Capelli di Hong Kong, menyapa dan mengundang Anda untuk sejenak merenung bersama RESI (Renungan Singkat) Dehonian, hari ini, tanggal 17 November 2022.

Para sahabatku yang terkasih, Injil sering disebut sebagai kabar gembira. Bagaimana kita mengunyah (merasakan) Injil hari ini yang menceritakan tangisan Yesus, sebagai sesuatu yang menggembirakan? Bukankah lebih tepat disebut kabar yang memilukan hati?

Kita telusuri dulu, mengapa Yesus menangis?  Yesus mengetahui bahwa orang-orang di kota tersebut mengharapkan seorang Mesias yang bergerak dalam bidang politik dan bahwa mereka akhirnya akan menolak Dia sebagai Mesias yang dijanjikan Allah, maka Yesus menangis sebab Ia mengasihani umat itu yang akan segera mengalami hukuman yang dahsyat. Kata “menangis” dalam bahasa Yunani tidak hanya berarti meneteskan air mata. Kata itu menunjukkan terjadinya ratapan, raung tangisan, rasa sesak di dada — isak dan tangisan jiwa yang menderita. Sebagai Allah, Yesus menampakkan bukan hanya perasaan-Nya sendiri, tetapi juga hancurnya hati Allah atas keterhilangan umat manusia dan penolakan mereka untuk bertobat dan menerima keselamatan.

Memang, Injil yang memilukan hati, bila kita berhenti pada penolakan umat kepada sang Mesias dan membayangkan hukumannya. Namun semakin merasakan raungan tangis sang Anak Manusia, semakin kita rasakan betapa besar cinta kasih Allah kepada umatNya. Bila demikian, tangisan dan ratapan itu tidak akan menghapus keyakinan kita bahwa Injil adalah kabar gembira. Ungkapan kasihNya yang meskipun memilukan dan mengharu biru, adalah kabar yang paling menggembirakan dari segala macam berita yang ada di dunia ini.

Tentu saja, kegembiraan itu harus diwujudkan dalam pertobatan kita. Kita memang dipanggil untuk sempurna. Namun bila kesempurnaan itu menjauh, pertobatan menjadi jalan keluarnya.

Para sahabat yang terkasih, semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hati kita, agar kita dimampukan untuk menghayati hidup dalam sukacita dan sekaligus pertobatan yang terus menerus. Tuhan memberkati kita semuanya.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa yang mahamurah, terimalah kiranya persembahan umat-Mu yang mengenangkan karya cinta kasih Putera-Mu, yang dilanjutkan oleh Santa Elisabet dengan setia. Semoga hati kami Kaukobarkan dengan cinta kasih, sehingga karya-Mu dewasa ini tetap berlangsung. Demi Kristus, …

ANTIFON KOMUNI – Yoh 15:13

Tiada cinta kasih yang lebih besar daripada cinta kasih orang, yang menyerahkan nyawanya untuk sahabatnya.

DOA SESUDAH KOMUNI

Marilah berdoa: Allah Bapa maha pengasih, semoga berkat kekuatan santapan suci ini kami dapat mengikuti tel adan Santa Elisabet. Ia mengabdi Engkau tanpa kenal lelah dan menanamkan cinta kasih nyata di tengah umat-Mu. Demi Kristus,…

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

Resi-Kamis 17 November 2022 oleh Rm. Agustinus Guntoro SCJ dari Komunitas SCJ Martino Capelli Hong KongUnduh

Santa Elizabeth dari Hungaria

Elizabeth of Thuringia, Elisabeth von Thüringen

Menurut tradisi, ia dilahirkan di sebuah kastil di Sarospatak, Hungaria, pada tanggal 7 Juli, 1207. Ia merupakan putri Raja András II dari Hungaria dan Gertrud dari Andechs-Merania, dan pada usia 4 tahun ia dibawa ke istana raja Thüringen di Jerman Tengah, untuk menjadi calon mempelai bagi pangeran Thüringen. Pada tahun 1221, ketika ia baru berusia 14 tahun, Elizabeth dinikahkan dengan raja Louis, penguasa Thuringia. Elizabeth seorang mempelai yang cantik, yang amat mengasihi suaminya yang tampan. Louis membalas kasih isterinya dengan segenap hatinya. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia selama enam tahun.

Pada musim semi tahun 1226, ketika banjir, kelaparan, dan wabah malapetaka menimpa Thüringia, Raja Louis, sedang mewakili Kaisar Romawi Suci dalam Reichstag (Parlemen Negara) di kota Cremona. Elizabeth berusaha keras mengendalikan pemerintahan dalam negeri dan mendistribusikan bantuan kesemua bagian wilayah yang terkena bencana. Ratu bahkan juga mendermakan jubah kenegaraan beserta hiasannya kepada orang miskin.  Di bawah Kastil Wartburg, ia membangun sebuah rumah sakit dengan 28 ranjang dan mengunjunginya setiap hari untuk merawat mereka yang sakit.

Hidup Elizabeth berubah dengan drastis pada tanggal 11 September, 1227 ketika suaminya Louis berangkat bersama pasukan Thuringia dan bertempur pada Perang Salib Keenam. Dalam perjalanan Louis meninggal terkena wabah di Otranto, Italia. Jenazahnya dikembalikan pada Elizabeth pada tahun 1228 dan dimakamkan di Reinhardsbrunn; ketika mendengar kabar kematian suaminya, Elizabeth konon mengatakan, “Ia sudah mati. Sepertinya untukku seluruh dunia dan segala kesenangannya sudah mati hari ini.”  Dihadapan Jenazah suaminya Elizabeth pun bersumpah untuk tidak menikah lagi dan akan melanjutkan hidupnya sebagai seorang biarawati.

Sanak-saudara Louis tidak pernah menyukai Elizabeth karena ia biasa membagikan banyak makanan kepada kaum miskin. Semasa Louis masih hidup, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi sekarang, mereka dapat dan mereka melakukannya. Segera saja, puteri yang cantik serta lemah lembut ini beserta ketiga anaknya diusir dari kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan. Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan penderitaannya yang berat itu. Malahan ia mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia memperoleh kesempatan untuk meneladani semangat kemiskinan St. Fransiskus Asisi.  Elizabeth menerima penderitaannya sama seperti ia menerima kabahagiaannya.

Sanak-saudara Elizabeth datang menolongnya. Ia beserta anak-anaknya mempunyai tempat tinggal kembali. Pamannya menghendaki agar Elizabeth menikah lagi, karena ia masih muda dan menarik. Tetapi Elizabeth menolak. Ia telah bertekad untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ketika pamannya berusaha memaksanya untuk menikah;  Elizabeth tetap teguh pada sumpahnya, bahkan mengancam akan memotong hidungnya sendiri supaya tidak ada pria yang akan tertarik dan menikahinya. Dan sang paman pun akhirnya menyerah.

Elizabeth kemudian bergabung menjadi anggota Ordo ketiga Fransiskan, dan membangun sebuah rumah sakit di Marburg untuk orang miskin dan sakit dari semua hartanya yang tersisa; bahkan uang mas kawinnya. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha untuk memperoleh tambahan uang untuk membeli obat-obatan bagi kaum miskin yang dikasihinya.

St. Elizabeth baru berusia dua puluh empat tahun ketika ia wafat. Menjelang ajalnya, orang dapat mendengarnya bersenandung pelan di atas pembaringannya. Ia yakin betul bahwa Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth wafat pada tahun 1231.

Setelah kematian Elizabeth, banyak keajaiban terutama keajaiban dalam penyembuhan dilaporkan terjadi di makamnya di dalam gereja dan di rumah sakit yang didirikannya. Atas perintah Paus, penyelidikan diadakan pada orang-orang yang telah secara ajaib disembuhkan antara bulan Agustus 1232 dan Januari 1235. Hasil dari penyelidikan tersebut dilengkapi oleh vita dari seorang calon santa, dan bersama dengan testamen dari para pelayan Elizabeth (tercantum di dalam buku yang disebut the Libellus de dictis quatuor ancillarum s. Elisabeth confectus), membuktikan alasan yang cukup untuk memberikan Gelar Kudus (kanoninasi ) pada  Elizabeth.

Maka pada tahun 1235 di Kota Perugia Italia; Paus Gregorius IX memaklumkan secara resmi Elizabeth dari Thuringia sebagai Santa. Piagam kepausan tersebut ada di dalam layar “Schatzkammer” dari Deutschordenskirche di Wina, Austria.  Jenazah St.Elizabeth kemudian dibaringkan di sebuah altar dari emas yang masih dapat dilihat sampai sekarang di Gereja St. Elisabeth di Marburg. Pada saat Reformasi Protestan;  Gereja ini diambil alih oleh para pengikut Protestan sampai saat ini. Namun demikian umat Khatolik masih  diberi tempat tersendiri untuk beribadah dalam Gereja tersebut.

Arti Nama

Berasal dari kata Yunani : Ελισαβετ (Elisabet), yang aslinya berasal dari kata Ibrani : אֱלִישֶׁבַע (‘Elisheva’) yang berarti : Tuhan adalah Hidupku / Tuhan saya adalah kelimpahan / Pemuja Tuhan

Variasi NamaElisabeth, Elsabeth, Elyzabeth, Elisabeth (English), Zabel (Armenian), Elixabete (Basque), Elisabet (Biblical Greek), Elisheba (Biblical Hebrew), Elisabeth (Biblical Latin), Elisaveta (Bulgarian), Elizabeta (Croatian), Alžběta, Izabela, Eliška (Czech), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Eli, Elise, Ella, Else, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Danish), Elisabeth, Isabella, Isabelle, Betje, Elise, Elly, Els, Else, Elsje, Ilse, Isa, Lies, Liesbeth, Liese, Liesje, Lijsbeth, Lisa (Dutch), Eliisabet, Liisa, Liisu (Estonian), Elisabet, Eliisa, Elisa, Elsa, Liisa, Liisi (Finnish), Élisabeth, Isabel, Isabelle, Babette, Élise, Lili, Lilian, Liliane, Lilianne, Lise, Lisette (French), Sabela (Galician), Eliso (Georgian), Elisabeth, Isabel, Isabelle, Bettina, Elisa, Elise, Elli, Elsa, Else, Ilsa, Ilse, Isa, Isabell, Isabella, Lies, Liesa, Liese, Liesel, Liesl, Lili, Lilli, Lisa, Lisbeth (German), Elisavet (Greek), Elikapeka (Hawaiian), Elisheva (Hebrew), Elizabeth, Izabella, Bözsi, Erzsi, Liza, Zsóka (Hungarian), Elísabet (Icelandic), Eilís, Eilish, Isibéal, Sibéal (Irish), Elisabetta, Isabella, Elisa, Elsa, Isa, Liana, Liliana, Lisa (Italian), Elžbieta, Elzė (Lithuanian), Elisaveta (Macedonian), Ealisaid (Manx), Ibb (Medieval English), Isabel (Medieval Occitan), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Eli, Elise, Ella, Else, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Norwegian), Isabèl (Occitan), Elżbieta, Izabela, Izabella, Eliza, Liliana (Polish), Isabel, Belinha, Elisa, Elisabete, Isabela, Liana, Liliana (Portuguese), Lílian (Portuguese (Brazilian)), Elisabeta, Isabela, Isabella, Liliana (Romanian), Elizaveta, Yelizaveta, Liza, Lizaveta (Russian), Ealasaid, Elspet, Elspeth, Iseabail, Ishbel, Isobel, Beileag, Lileas, Lilias, Lillias (Scottish), Jelisaveta (Serbian), Alžbeta, Eliška (Slovak), Elizabeta, Špela (Slovene), Isabel, Ysabel, Elisa, Isa, Isabela, Isabella, Liliana (Spanish), Elisabet, Elisabeth, Isabella, Elise, Ella, Elsa, Lilly, Lis, Lisa, Lisbet, Lise (Swedish)BENTUK PENDEK : Bess, Bessie, Beth, Betsy, Bette, Bettie, Betty, Buffy, Elisa, Eliza, Ella, Ellie, Elly, Elsa, Elsie, Elyse, Libbie, Libby, Liddy, Lilian, Lilibet, Lilibeth, Lillia, Lillian, Lisa, Lise, Liz, Liza, Lizbeth, Lizette, Lizzie, Lizzy, Tetty, Bettye, Elle, Leanna, Leesa, Liana, Liliana (English)