Kamis, 15 September 2022 – Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

Posted on

Rm. Gregorius Jenli Imawan SCJ dari Komunitas SCJ Postulat-Novisiat St Yohanes Gisting Lampung Indonesia

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA:

Simeon berkata kepada Maria, “Anak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel. Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus oleh pedang.”

PENGANTAR:

Menjadi Bunda Penebus adalah suatu kehormatan, suatu anugerah. Tetapi bagi Bunda Maria bukan tanpa duka cita. Ia sudah mendengar hal itu ketika bertemu dengan Simeon di kenisah. Kemudian ia tahu iri hati dan kebencian kaum Farisi dan ahli kitab terhadap puteranya. Ia mendengar pula berita sewaktu Puteranya ditahan dan sikap orang Yahudi pada hari Jumat Agung. Ia menyaksikan juga perjalan Puteranya ke puncak Kalvari dan penderitaan-Nya di salib. Tak dapat dilukiskan apa yang terjadi di dalam hati seorang ibu dalam suasana demikian. Namun ia tetap pada tugasnya di bawah salib.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa: Allah Bapa, sumber kekuatan kami, ketika Putera-Mu ditinggikan di salib, Ibunda-Nya berdiri di situ dan ikut menderita. Semoga kami pun ikut serta dalam sengsara yang diderita Kristus demi keselamatan umat manusia, agar kami dapat ikut serta pula dibangkitkan bersama Dia, yang hidup …

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat Rasul Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus 15:1-11

“Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kamu mengimani.”

Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kalian akan Injil yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kalian terima, dan yang di dalamnya kalian teguh berdiri. Oleh Injil itu kalian diselamatkan, asal kalian berpegang teguh padanya sebagaimana kuwartakan kepadamu; kecuali kalau kalian sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah dimakamkan, dan pada hari yang ketiga telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya sudah meninggal dunia. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, lalu kepada semua rasul. Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah, aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu entah aku, entah mereka, begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kalian mengimani.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

ATAU

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani 5:7-9

Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20

Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umat-Mu.

  1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.

  2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.

  3. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.

  4. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.

  5. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!

SEKUENSA (Lihat Bunda Yang Berduka / Stabat mater dolorosa), do = f, 4/4, PS 639 -fakultatif-

1. Lihat bunda yang berduka / di depan salib Sang Putra ; air mata bergenang. /
O betapa jiwa ibu / tersedu menanggung pilu, bagai ditembus pedang.
2. Bunda Putra Tunggal Allah disebut Yang Berbahagia / kini sangat bersedih. / Hatinya dirundung duka, kar’na putra yang termulia bersengsara di salib.
3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi Putranya?
/ Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda kar’na siksa Anak-Nya.
4. Dilihatnya Yesus, putra, yang tersiksa dan terluka / kar’na dosa umat-Nya /
dan bergumul sendirian / menghadapi kematian / menyerahkan nyawa-Nya.
5. Wahai bunda sumber kasih, / biar turut kuhayati dukamu yang mencekam;
biar hatiku bernyala / mengasihi Putra Allah dan pada-Nya berkenan.
6. Biarlah sengsara aib / dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;
biar siksa salib itu / yang ditanggung-Nya bagiku kudekap bersamamu.
7. Biar aku di sampingmu / pilu kar’na wafat Kristus di sepanjang hidupku;
inilah keinginanku: / di dekat salib Putramu besertamu tersedu.
8. O perawan yang terpilih, / perkenankan aku ini ikut dikau bersedih;
biar kematian Tuhan / dan darah-Nya yang tercurah kukenangkan tak henti.
9. Biar aku pun terluka / menghayati salib Tuhan, digerakkan kasih-Nya. Hatiku engkau kobarkan; / biar aku dibebaskan dalam penghakiman-Nya.
10. Biarlah salib Tuhanku / jadi benteng naunganku, dan kurasa rahmat-Nya.
Bila nanti aku mati / biar aku mewarisi kemuliaan yang kekal.

Stabat mater dolorosa
juxta crucem lacrimosa,
dum pendebat filius.

Cujus animam gementem,
contristatam et dolentem
per transivit gladius.

O quam tristis et afflicta
fuit illa benedicta
Mater Unigeniti!

Quae moerebat et dolebat,
et tremebat cum videbat
nati poenas inclyti.

Quis est homo qui non fleret,
Christi materm si videret
in tanto supplicio?

Quis non posset contristari,
piam Matrem contemplari
dolentem cum Filio?

Pro peccatis suae gentis,
vidit Jesum in tormentis
et flagellis subditum.

Vidit suum dulcem natum,
morientem, desolatum,
dum emisit spiritum.

Eja Mater, fons amoris,
Me sentire vim doloris
Fac, ut tecum lugeam.

Fac, ut ardeat cor meum
In amando Christum Deum,
Ut sibi complaceam.

Sancta Mater, istud agas,
Crucifixi fige plagas
Cordi meo valide.

Tui nati vulnerati,
Tam dignati pro me pati,
Mecum poenas divide.

Fac me vere tecum flere,
Crucifixo condolere,
Donec ego vixero.

Juxta crucem tecum stare,
Te libenter sociare
In planctu desidero.

Virgo virginum praeclara,
Mihi jam non sis amara,
Fac me tecum plangere.

Fac, ut portem Christi mortem,
Passionis eius sortem,
Et plagas recolere.

Fac me plagis vulnerari,
Cruce hac inebriari,
Ob amorem Filii.

Inflammatus et accensus
Per te, Virgo, sim defensus
In die judicii.

Fac me cruce custodiri,
Morte Christi muniri,
Confoveri gratia.

Quando corpus morietur,
Fac, ut animae donetur
Paradisi gloria.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes 19:25-27

“Inilah anakmu.” “Inilah ibumu.”

Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

ATAU:

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 2:33-35

“Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Gregorius Jenli Imawan SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Pendengar Resi Dehonian yang terkasih, selamat berjumpa kembali dengan saya, Romo Jenli, SCJ dari Komunitas Postulat – Novisiat St. Yohanes, Gisting (Lampung), dalam ReSi (Renungan Singkat) Dehonian, edisi hari Kamis, 15 September 2022. Bacaan dari Injil menurut Yohanes 19:25-27

Sahabat dehonian yang diberkati Tuhan, pada tanggal ini di dalam liturgi Gereja, kita merenungkan figur Santa Perawan Maria yang Berdukacita. Kehadiran Maria yang setia kepada Putranya dalam peristiwa pengorbanan di salib menjadi pokok permenungan kita. Untuk mendukung itu, Injil pada hari ini pun menampilkan kepada kita kisah tentang kesetiaan Bunda Maria berada di dekat Yesus; kisah kesedihan sang Bunda melihat penderitaan Putranya yang menerima derita, bukan untuk Diri-Nya namun untuk keselamatan manusia. Hati ibu manakah yang tidak sedih jika melihat anaknya berada dalam situasi demikian? Maria dalam hal ini menjadi teladan bagi kita sebagai umat beriman. Keteladanannya memberikan kita contoh dalam menjadi murid Kristus yang setia.

Dalam Injil dikatakan, “Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus”. Injil tidak hanya memberikan laporan historis. Injil menampilkan kepada kita peristiwa iman tentang pengorbanan Kristus bagi dunia. Di sana, Maria ditampilkan sebagai pribadi yang setia di mana itu membawa kita pada sikap “ya”-nya ketika menerima Kabar Gembira dari Malaikat Tuhan (Luk 1:38). Kesanggupan Maria untuk ikut serta dalam karya Ilahi yang menyelamatkan, memuat konsekuensi pada kesetiaannya untuk terus membersamai Putera Allah yang telah dikandungnya sampai pada peristiwa salib. Di sinilah letak kesetiaannya. Maria tentu adalah pribadi seperti kita manusia biasa. Namun, keteladannya untuk menerima dan bekerja sama menghadirkan Allah-Manusia di dunia dan tetap menyertai – sebagai ibu – Putranya sampai penderitaan dan wafat di salib, tentu bukanlah hal yang mudah. Di mana letak kekuatan Maria sehingga ia mampu menghadapi itu semua? Mari kita merenungkan apa yang Maria katakan ketika ia mengunjungi Elisabet, saudarinya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk 1:46-49). Itulah pujian Maria yang menyatakan kepasrahannya pada penyelenggaraan Ilahi bahwa Allah selalu berkarya atas dirinya dengan rencana besar-baik. Kepasrahan itulah yang membawa Maria pada kesetiaan terhadap rencana Allah, meskipun itu bukanlah perkara yang mudah.

Lantas, apa yang dapat kita renungkan pada peringatan Santa Perawan Maria yang Berdukacita? Sahabat dehonian yang terkasih, dalam hidup ini ada pelbagai hal yang harus kita hadapi; dan itu semua kadang tidaklah mudah. Namun, seperti Bunda Maria, kita adalah orang beriman yang memiliki Allah; Dia seharusnya menjadi Andalan hidup kita. Maka, mari kita, sembari berusaha, tetap mengikutsertakan Allah dalam setiap perjuangan hidup. Selain itu, kita tetap mohon doa Bunda Maria agar ia pun tak jemu mendoakan kita, Gereja yang masih berziarah di dunia.

Semoga Hati Kudus Yesus memberkati setiap perjuangan hidup kita. Amin.  

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa yang mahamurah, Engkau menghendaki Ibunda Yesus dengan tabah berdiri di kaki salib serta menunjukkan dia sebagai Bunda Kami. Maka terimalah kiranya dengan rela doa dan persembahan yang kami unjukkan ini demi kemuliaan nama-Mu dan untuk menghormati Bunda kami tercinta itu. Demi Kristus, …

ANTIFON KOMUNI

Bergembiralah saudara-saudara, bila menderita bersama Kristus, supaya dapat ikut bergembira dan bersuka ria, bila kemuliaan-Nya kelak dinyatakan.

DOA SESUDAH KOMUNI 

Marilah berdoa: Allah Bapa, sumber penebusan kami, pada hari ini kami telah menerima kurnia pembawa keselamatan kekal, dalam merenungkan dan menghormati duka cita Santa Perawan Maria, Bunda Kami. Semoga apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus dapat dilengkapi pula dalam diri kami guna kepentingan seluruh umat-Mu. Demi Kristus, …

DOWNLOAD AUDIO RESI: