Senin, 29 Agustus 2022 – Peringatan Wajib Wafatnya St. Yohanes Pembaptis, Martir

Posted on

Rm. Hubertus Aditya Prabowo SCJ dari komunitas SCJ Jakarta – Indonesia

 

 

 

AUDIO RESI:


https://resi.dehonian.or.id/wp-content/uploads/2022/08/Resi-Senin-29-Agustus-2022-oleh-Rm.-Hubertus-Aditya-Prabowo-SCJ-dari-komunitas-SCJ-Jakarta-Indonesia.mp3

ANTIFON PEMBUKA:

Aku akan berbicara tentang hukum-Mu. Aku tidak malu di hadapan para raja.  Segala aturan-Mu menjadi kesukaanku, yang sangat kucintai.

PENGANTAR:

Bagi kita Santo Yohanes Pembaptis tampak aneh. Cara hidupnya yang primitif, pakaiannya yang kasar, makanannya yang aneh, kata-katanya yang tajam, menjadikan dia penyeru di padang pasir. Tentang dirinya dalam hubungannya dengan Kristus, ia mengatakan, “Dia harus semakin besar dan aku semakin kecil!” itulah ciri tetap tentang Yohanes. Karya perintis yang menjadi tugasnya telah dilaksanakan sebaik-baiknya.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa: Allah Bapa, kekuatan para kudus, Santo Yohanes Pembaptis telah Kaujadikan perintis jalan bagi kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih. Ia gugur sebagai saksi kebenaran dan keadilan. Semoga kami pun gigih berjuang untuk memberi kesaksian tentang ajaran-Mu. Demi Yesus Kristus, …

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yeremia 1:17-19

“Sampaikanlah kepada Yehuda segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka.”

Sekali peristiwa, Tuhan berkata kepadaku, Yeremia, “Baiklah engkau bersiap! Bangkitlah dan sampaikanlah kepada umat-Ku segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imam dan rakyat negeri lain. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 71:1-4a.5-6b.15ab.17

Ref. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu.
atau Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.

  1. Padamu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
  2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allah, luputkanlah aku dari tangan orang fasik.
  3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
  4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu, sebab aku tidak dapat menghitungnya. Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Mat 5:10) Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 6:17-29

“Aku mau supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis!”

Keraguan Yohanes Pembaptis – GKI KARANGSARU

Sekali peristiwa Herodes menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di dalam penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, yakni karena Herodes telah memperisteri Herodias, isteri Filipus saudaranya. Yohanes pernah menegur Herodes, “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam kepada Yohanes, dan bermaksud membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes. Karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci; jadi ia melindunginya. Tetapi setiap kali mendengarkan Yohanes, hati Herodes selalu terombang-ambing; namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, yakni ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya – mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu putri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes serta tamu-tamunya. Maka Raja Herodes berkata kepada gadis itu, “Mintalah dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!” Lalu Herodes bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun itu setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan kepada ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!” maka sangat sedihlah hati raja! Tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya, ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu, mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kubur.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Hubertus Aditya Prabowo SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Dalam Injil hari ini telah kita dengar bagaimana dendam telah membutakan mata Herodias. Rasa dendam yang timbul dari sakit hatinya telah menyebabkan kematian Yohanes Pembaptis. Menyimpan dendam tak ubahnya seperti menjadikan kisah pahit sebagai sebuah obyek yang kita simpan dan koleksi. Sebuah cara pengingat bagi diri sendiri dan orang lain atas kesakitan-kesakitan yang telah kita rasakan.

Dendam bukanlah sebuah rasa – dendam adalah sebuah pemikiran. Dendam kemudian lebih sering bermetamorfosa menjadi sebuah pola pikir yang kemudian menutup rasa empati kita dalam hati dan membutakan diri. Mengubah manusia yang sebelumnya seakan lemah tersakiti menjadi figur antagonis nan keji. Jalan keluar untuk terbebas dari dendam bukanlah dengan mendapatkan kata maaf dari mereka yang telah menyakiti. Ya, meski mungkin itu akan cukup mengobati. Sesungguhnya yang terpenting adalah dengan berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diri sendiri.

Dalam kisah Herodias dan Yohanes Pembaptis, Tuhan memakai hamba- hamba-Nya untuk menegur dan mengingatkan agar kita menyadari dan bertobat. Tetapi ada saja yang bisa menerima dan yang tidak bisa menerima teguran. Dan timbullah rasa sakit hati yang menjadi dendam. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru membuat kita manusia semakin terperosok ke dalam dosa. Mengampuni adalah cara terbaik menghindari dendam sebagaimana Yesus pun mengajarkan kita untuk saling mengampuni (Mat 18:22)

Marilah kita belajar dari Yesus, yang walupun telah diperlakukan tidak adil, tapi tidak memilih hidup dalam kebencian dan dendam, tapi justru menebus dosa-dosa kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Hindarilah dendam dan hidup penuh kasih satu sama lain.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa, sumber keselamatan dan damai, kami mengunjukkan persembahan kepada-Mu untuk memperingati Santo Yohanes Pembaptis, suara yang berseru di padang gurun. Ia telah menunjukkan jalan-Mu yang lurus dan memeteraikan kesaksiannya dengan darahnya. Semoga kami sanggup mengikuti dia menempuh jalan keselamatan. Demi Kristus,…

ANTIFON KOMUNI

Yohanes berkata: “Kristus harus bertambah besar, aku harus semakin kecil!”

DOA PENUTUP

Marilah berdoa: Tuhan, Allah umat terpilih, hari ini kami memperingati wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Dalam tanda ekaristi yang kami terima, kami hormati Kristus yang dilambangkannya. Semoga kami bergembira sepenuhnya bila Kristus menampakkan diri dengan jelas dan nyata. Sebab Dialah, …

DOWNLOAD AUDIO RESI

Resi-Senin 29 Agustus 2022 oleh Rm. Hubertus Aditya Prabowo SCJ dari komunitas SCJ Jakarta – IndonesiaUnduh