Senin, 11 Juli 2022 – Peringatan Wajib St. Benediktus, Abas

Posted on

Rm. Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas Resistencia, Provinsi Chaco – Argentina – Argentina

 

 

 

AUDIO RESI:


https://resi.dehonian.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Resi-Senin-11-Juli-2022-oleh-Rm.-Benediktus-Mulyono-SCJ-dari-Komunitas-Resistencia-Provinsi-Chaco-Argentina-Argentina.mp3

ANTIFON PEMBUKA – lih. Mzm 23:5-6

Merekalah orang-orang suci yang diberkati Tuhan. Mereka disayangi Allah penyelamat, sebab angkatan inilah yang mencari Tuhan.

PENGANTAR:

Protes bukanlah penemuan orang modern. Selalu ada saja orang yang menentang masyarakat korup dan tak rukun. Benediktus dari Nursia melakukan itu pula, tetapi bukan dengan selebaran atau agitasi. Dengan cara hidupnya ia memperlihatkan bahwa perbaikan masih mungkin, yaitu dengan hidup sederhana mengabdi Tuhan dan sesama. Maka mula-mula di Subiaco dan kemudian di Monte Casino berdirilah biara dengan tata hidup yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh Ordo Benediktin; membawa damai bukan di meja musyawarah, melainkan dengan bekerj kersa dan tekun berdoa.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa Allah Bapa, kekayaan sejati, Engkau sudah menetapkan Santo Benediktus abas menjadi guru gemilang dalam pengabdian kepada-Mu. Semoga kami mencintai Engaku melebihi segalanya dan menempuh jalan hukum-Mu dengan sepenuh hati. Demi Yesus Kristus, …

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yesaya 1:11-17

“Bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku.”

Dengarkanlah sabda Tuhan, hai para pemimpin Sodom, “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 50:8-9.16bc-17.21.23

Ref. Siapa yang jujur jalannya akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

  1. 1. Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku! Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu.
  2. Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkau membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?
  3. Itukah yang engkau lakukan! Apakah Aku akan diam saja? Apakah kaukira Aku ini sederajat dengan kamu? Aku menggugat engkau dan ingin berperkara denganmu. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai kurban ia memuliakan Daku; dan siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U :  Alleluya, alleluya, alleluya
S : (Mat 5:10) Berbahagialah yang dikejar-kejar karena taat kepada Tuhan, sebab bagi merekalah kerajaan Allah.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 10:34-11:1

“Barangsiapa menyambut kalian, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.”

Franciscan Corner » Hari Biasa, Pekan Biasa XV Senin, 17 Juli 2017

Pada suatu hari Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya, “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Dan barangsiapa mengasihi puteranya atau puterinya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperoleh kembali. Barangsiapa menyambut kalian, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang yang benar sebagai orang benar, ia kan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu, sungguh ia takkan kehilangan upahnya.” Setelah Yesus selesai mengajar keduabelas rasul-Nya, Ia pergi dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilahj Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Benediktus Mulyono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria

Salam Jumpa Saudara-Saudariku terkasih, bersama saya Rm. Benediktus Mulyono SCJ dalam RESI: Renungan Singkat Dehonian, Senin 11 Juli 2022 bertepatan dengan Peringatan St. Benediktus. Bacaan dari Injil Matius 10:34 – 11:1

Saudara-Saudariku Yang Terkasih, mungkin kita dibuat bingung dalam memahami Sabda Yesus bahwa Dia datang bukan membawa damai melainkan pedang. Kita memahami bahwa pedang biasa dipahami sebagai simbol kekerasan, peperangan, permusuhan, penolakan dan konotasi negatif lainnya. Bukankah Yesus mengajarkan bahwa Hukum Utama adalah Hukum Kasih?

Betul, bahwa Hukum Cinta Kasih-lah yang menjadi ciri khas pengajaran Yesus. Maka, konteks yang harus dipahami adalah bahwa untuk mengikuti Yesus secara sempurna /secara radikal/secara sungguh-sungguh ternyata memang tidak mudah. Kita pun harus mengerti dengan baik dan benar setiap Sabda yang diucapkan-Nya. Sabda Yesus yang terdengar keras ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengikuti Yesus akan berhadapan dengan tantangan, ada resiko, ada bahaya yang harus ditanggung; bahkan juga terdapat penolakan, orang akan dibenci, dimusuhi.

Saudara-Saudari terkasih, bahkan dalam diri sendiri kesulitan, pergumulan atau pergolakan pun terjadi saat kita mau lebih bersungguh-sungguh dalam mengikuti Yesus. Kita berhadapan dengan godaan antara mau hidup enak tanpa kesusahan dan tanpa kerja keras atau setia harus memanggul salib, dan bahkan mungkin beban berat. Pergumulan antara setia mengikuti Yesus dan ajaran-ajaran-Nya atau mengikuti kesenangan pribadi.

Pertentangan batin, penolakan akan tuntutan Yesus yang keras / radikal ditambah dengan kecenderungan untuk mengikuti ego pribadi itulah yang mengakibatkan dalam diri sendiri terjadi pergolakan. Pergolakan itu membuat hidup kita tidak damai dan tidak bahagia.

Nah, Situasi seperti itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “datang membawa pedang”. Pilihan tegas mau mengikuti Yesus ternyata harus berhadapan dengan penolakan orang-orang di sekitar kita.

Dicontohkan oleh Yesus bahwa akibat seseorang hendak setia mengikuti Yesus, bisa saja seseorang juga dimusuhi oleh orang tuanya, saudara atau saudarinya, orang-orang terdekatnya dan sebagainya.

Semoga Berkat Tuhan memampukan kita mengatasi “pedang-pedang” dalam hidup kita yaitu penolakan atau pertentangan yang ditimbulkan oleh pilihan kita hendak mengikuti Yesus dengan lebih tekun dan setia.

Berkat Allah Yang Maha Kuasa: Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin. Rm Benediktus Mulyono SCJ berkarya di Paroki / Komunitas SCJ Resistencia, Chaco, Argentina.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa, sumber selamat dan damai, pandanglah kiranya persemabahan yang kami sajikan pada peringatan Santo Benediktus abas. Semoga kami seperti dia selalu mencari Engkau dan pantas memperoleh rahmat untuk mengabdi-Mu dalam kerukunan dan damai. Demi Kristus, …

ANTIFON KOMUNI:

Sungguh Aku bersabda kepadamu: Kalian telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Aku. Kalian akan menerima ganjaran seratus kali lipat dan mewarisi hidup abadi.

DOA PENUTUP:

Marilah berdoa Allah Bapa maha pengasih, kami sudah menerima jaminan hidup abadi. Kami mohon kepada-Mu dengan rendah hati, semoga kami mengikuit nasihat Santo Benediktus, mengabdikan diri kepada karya-Mu dengan setia dan mengasihi sesama dengan cinta yang menyala. Demi Kristus,

DOWNLOAD AUDIO RESI

Resi-Senin 11 Juli 2022 oleh Rm. Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas Resistencia, Provinsi Chaco – Argentina – ArgentinaUnduh

St. Benediktus Abas

Santo Benediktus dari Abas (lahir di Nursia, Italia ± 480 – wafat ± 547) adalah seorang pendiri komunitas-komunitas (Cenobium) monastik Kristen dan penyusun peraturan untuk biarawan yang hidup dalam komunitas tersebut. Tujuannya tersurat dalam Peraturan Santo Benediktus yang disusunnya, yakni “semoga Kristus … menuntun kita sekalian ke dalam Kehidupan Kekal” (Peraturan Santo Benediktus 72.12). Gereja Katolik Roma mengkanonisasikannya pada tahun 1220. Menurut tradisi, St. Benediktus adalah saudara kembar dari St.Skolastika. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma.

Benediktus membangun dua belas komunitas biarawan, yang paling terkenal di antaranya adalah biara pertamanya Monte Cassino di pegunungan Italia Selatan. Tidak berada bukti bahwa dia bermaksud pula untuk membangun sebuah ordo religius tersendiri. Ordo Santo Benediktus berdiri di 100 tahun modern, lagi pula, ordo tersebut bukanlah sebuah “ordo” sebagaimana lazimnya dipahami orang melainkan hanya adalah sebuah federasi kongregasi-kongregasi tempat biara-biara Benediktin yang secara tradisional dapat berdiri sendiri itu berafiliasi dengan maksud menyuarakan kepentingan-kepentingan bersama, namun tanpa meniadakan otonomi masing-masing biara.

Pencapaian utama Benediktus adalah sebuah “Peraturan” mengandung petunjuk-petunjuk untuk para biarawan yang dipimpinnya, yang disebut pula Peraturan Santo Benediktus. Peraturan ini sangat dipengaruhi tulisan-tulisan Santo Yohanes Cassian (± 360 – 433, salah seorang Bapa Padang Pasir) dan menunjukkan kesesuaian dengan Peraturan Sang Guru. Namun peraturan ini juga memiliki suatu semangat unik dari keseimbangan, moderasi, daya pikir sehat (επιεικεια, epieikeia), dan hal ini memikat banyak komunitas bangunan sepanjang 100 tahun menengah, termasuk komunitas-komunitas biarawati, untuk mengalihgunakannya. Hasilnya, Peraturan Santo Benediktus menjadi salah satu tata-tertib rohani yang paling berpengaruh dalam alam Kristiani Barat. Karena argumen inilah maka benediktus kerap disebut “pendiri Monastisisme Kristiani Barat”.

St. Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

Arti nama

Benediktus = Diberkati (Latin)

Variasi Nama

Bennett, Benedict (English), Benedikt (Czech), Benedictus, Ben (Dutch), Pentti (Finnish), Benoit (French), Bieito (Galician), Benedikt (German), Peni (Hawaiian), Benedek, Bence (Hungarian), Benedikt (Icelandic), Benedetto, Benito, Bettino (Italian), Benedictus (Late Roman), Bendiks (Latvian), Benedykt (Polish), Benedito, Bento (Portuguese), Benedikt (Russian), Benito (Spanish), Benesh (Yiddish)