Rabu, 01 Juni 2022 – Peringatan Wajib St. Yustinus, Martir (Novena Roh Kudus Hari ke Enam)

Posted on

Rm. V. Teja Anthara SCJ dari Komunitas Provinsialat SCJ Palembang – Indonesia

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Mzm 118:85.46

Orang-orang sombong menggali lubang bagiku, mereka tidak mempedulikan perinta-Mu. Aku akan berbicara tentang hukum-Mu, aku tidak malu di hadapan para raja.

PENGANTAR:

“Tiada orang dengan akal budi sehat akan mengingkari kebenaran demi kesesatan,” demikianlah reaksi Yustinus ketika mendengar putusan hukuman mati atas dirinya. Ia seorang pencari kebenaran. Semua filsafat yang ada pada waktu itu dipelajarinya untuk menemukan jawaban atas keragu-raguan dan persoalan yang timbul di benaknya. Kebetulan ia menemukan Kitab Suci. Di situlah ia menemukan jawaban yang dicari-carinya. Ia bertobat dan menjadi pengikut Kristus yang bersemangat. Ia mewartakan Injil terutama di Roma tanpa menghiraukan larangan ataupun penganiayaan. Keberaniannya minta kurban nyawanya.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa Allah Bapa, sumber hikmat kebijaksanaan, dengan kebodohan salib Engkau telah mengajarkan kebijaksanaan Yesus Kristus, Putera-Mu, kepada Santo Yustinus, martir. Pada hari peringatannya ini kami mohon berilah kami kekuatan agar sanggup menolak segala yang dapat menjauhkan kami daripada-Mu. Berilah pula kami rahmat-Mu agar selalu setia dalam iman. Demi Yesus Kristus, …

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kisah Para Rasul 20:28-38

“Aku menyerahkan kamu kepada Tuhan yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu suatu bagian yang telah ditentukan.”

Dalam perpisahan dengan para penatua jemaat dari Efesus, Paulus berkata, “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan berkuasa pula menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu, Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu, dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena Paulus katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 68:29-30.33-35a.35b.36c.

Ref. Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah!

  1. Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami. Demi bait-Mu di Yerusalem raja-raja menyampaikan persembahan kepada-Mu.

  2. Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah, bermazmurlah bagi Tuhan, bagi Dia yang berkendaraan melintasi langit purbakala. Perhatikanlah, Ia memperdengarkan suara, suara-Nya yang dahsyat! Akuilah kekuatan Allah.

  3. Kemegahan-Nya ada di atas Israel, kekuatan-Nya di dalam awan-awan. Terpujilah Allah!

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Yoh 17:17b.a) Firman-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes 17:11b-19

“Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita.”

Bacaan, Mazmur Tanggapan dan Renungan Harian Katolik: Kamis, 06 Juni 2019 – Mirifica News

Dalam perjamuan malam terakhir Yesus menengadah ke langit dan berdoa bagi semua murid-Nya, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku telah menjaga mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu. Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia. Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Valentinus Teja Anthara SCJ 

Vivat Cor Jesu per cor Maria. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Pendengar Resi Dehonian terkasih, jumpa kembali dengan saya Romo Valentinus Teja Anthara scj dari Komunitas Provinsialat SCJ Palembang – Indonesia, dalam Resi (renungan singkat) Dehonian edisi hari Rabu , 01 Juni 2022. Hari biasa pekan Paska ke tujuh, bersamaan peringatan wajib St, Yustinus, Martir.

Sahabat Resi yang dikasihi Tuhan. Bahan yang menjadi renungan kita ini adalah doa Jesus untuk para muridnya. Ada beberapa kata penting dalam doa Yesus ini. Pertama, supaya Bapa disurga dapat memelihara kita dalam nama-Nya yang kudus supaya masing-masing pribadi menjadi satu, bersaudara. Kedua, supaya Bapa di surga dapat menjaga kita supaya memperoleh keselamatan dan hidup abadi. Ketiga, Supaya Bapa dapat melindungi kita dari maut, dosa dan kejahatan. Keempat, supaya Bapa menguduskan kita dalam kebenaran.

Keempat kata kunci dalam doa sang Imam Agung yakni memelihara, menjaga, melindungi dan menguduskan kita supaya menjadi semakin serupa dengan Diri-Nya. Keempat kata yang sama menjadi misi kita di dunia ini, yakni supaya dalam hidup berdampingan dengan sesama, kita juga dapat saling memelihara, menjaga, melindungi dan menguduskan.

Sahabat resi yang terkasih. Karena kasihNya yang besar kepada para muridNya maka Ia juga memohon supaya sukacitaNya penuh di dalam hidup para muridNya.

Sukacita adalah anugerah eskatologis yang dijanjikan Yesus sendiri. Dalam Injil Yohanes misalnya, Yesus berkata: “Semuanya itu Kukatakan kepadaMu supaya SukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh”. Ia menghimbau para murid untuk meminta sehingga dapat menerimanya supaya sukacitanya menjadi penuh.

Sukacita yang total itu sama dengan persekutuan ilahi Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Maka sukacita Yesus menjadi penuh di dalam diri para murid adalah ketika para murid bersekutu atau menjadi bagian dari Yesus Kristus. SabdaNya adalah pengikat relasi ilahiNya dengan para murid. Dia juga yang memisahkan para murid dari musuh-musuh Allah di dunia, menghancurkan kuasa kegelapan, kebencian dan penganiayaan terhadap diri mereka.

Memang sebagaimana dikatakan Yesus sendiri bahwa para murid berada di dunia tetapi mereka bukan berasal dari dunia sehingga pantaslah dunia membenci mereka.

Sahabat Resi yang dikasihi Tuhan. Tugas kita sebagai gereja pada saat ini adalah menghidupi sukacita Yesus supaya tetaplah penuh  dan berbagi sukacita Tuhan Yesus dengan sesama yang lain. Syaratnya adalah tetap tinggal di dalam Yesus. Ia berkata: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya”

Supaya sukacita Tuhan tetap bertahan di dalam hidup kita maka marilah kita tekun berdoa dengan kata-kata yang Yesus sendiri ajarkan di dalam InjiNya, kita mendengar dan melakukan SabdaNya sepanjang hidup kita. Semoga telada Hati Kudus membuat kita semakin setia menghidupi sukacita itu dalam hidup kita sehari-hari, dalam relasinya dengan sesama kita. Tuhan memberkati.

DOA MOHON TUJUH KURNIA ROH KUDUS (Didoakan setelah homili)

1. Datanglah, ya Roh Hikmat,

P+U.   turunlah atas diri kami. Ajarlah kami menjadi orang bijak, terutama agar kami dapat menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita surgawi. Dan semoga kami Kau lepaskan dari belenggu dosa dunia ini.

2. Datanglah, ya Roh Pengertian,

P+U.   turunlah atas diri kami. Terangilah budi kami, agar dapat memahami ajaran Yesus, Sang Putra, dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

3. Datanglah, ya Roh Nasihat,

P+U.  dampingilah kami dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak ini. Semoga kami selalu melakukan yang baik dan benar, serta menjauhi yang jahat.

4. Datanglah, ya Roh Keperkasaan,

P+U.   kuatkanlah hamba-Mu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tangan-Mu yang senantiasa menuntun kami.

5. Datanglah, ya Roh Pengenalan akan Allah,

P+U.  ajarlah kami mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara saja. Bimbinglah kami, agar tidak terbuai oleh kemegahan dunia. Bimbinglah kami, agar dapat menggunakan hal-hal duniawi untuk kemuliaan-Mu.

6. Datanglah, ya Roh Kesalehan,

P+U.   bimbinglah kami untuk terus berbakti kepada-Mu. Ajarilah kami menjadi orang yang tahu berterimakasih atas segala kebaikan-Mu. Semoga kami berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang di sekitar kami.

7. Datanglah, ya Roh Takut akan Allah,

P+U.   ajarlah kami untuk takut dan tunduk kepada-Mu, dimana pun kami berada. Tegakkanlah kami agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Mu.

DOA PERSEMBAHAN:

Allah Bapa, daya kekuatan kami, semoga kami pantas merayakan misteri penyelamatan yang sudah dibela dengan gigih oleh Santo Yustinus sampai mengurbankan nyawanya. Demi Kristus, …

ANTIFON KOMUNI:

Tiada ilmu yang kuajarkan selain Yesus Kristus yang tersalib.

DOA PENUTUP:

Marilah berdoa Allah Bapa yang mahamurah, kami telah Kausegarkan dengan santapan suci. Semoga seturut teladan Santo Yustinus, martir-Mu, kami selalu bersyukur atas segala rahmat, yang sudah kami terima daripada-Mu. Demi Kristus, …

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

St. Yustinus, Martir (100 s/d 165)

Yustinus adalah salah seorang Santo dan martir di abad-abad awal, kira-kira pada kurun waktu meninggalnya Santo Yohanes Rasul.  Ia lahir sekitar tahun 100 di Nablus, daerah Samaria, dari orangtuanya yang berkebangsaan Yunani. Yustinus dibesarkan di lingkungan kepercayaan dan filosofi bangsa itu. Di sekolah, Yustinus mempelajari literatur, filsafat, sejarah dan retorik. Ia adalah seorang pembicara yang handal karena kemampuan retorikanya yang sangat baik.

Suatu kali ia mendengarkan sebuah orasi seorang pria tua di dekat plaza. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan berbagai soal yang sedang direnungkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi Israel yang diutus Allah, tentang Yesus Kristus yang diramalkan para nabi serta tentang agama Kristen. Ia dinasehati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi. Ia pun semakin penasaran dan tergerak untuk mendalami isi pembicaraan tersebut. Nyatanya, ia mulai mengenal iman akan Kristus dari pembeicaraan itu. Kemudian, ia belajar mengenal iman Kristen dan menyatakan diri untuk dibaptis. Setelah menjadi Kristen, ia menjadi pewarta iman kepada kaum terpelajar. Dengan latar belakangnya sebagai seorang filsuf, ia menyampaikan ajaran iman untuk menarik orang-orang yang sungguh haus akan Kebenaran, seperti dirinya sendiri, sebelum bertemu dengan orang tua tersebut. Yustinus mengadakan perjalanan ke berbagai negara untuk mewartakan imannya, sampai akhirnya ke Roma.

Sesuai kebiasaan jaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, tertutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman Kristen.
Yustinus bangga bahwa ia menjadi seoranng Kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenan dengan hidupnya. Dalam bukunya, “Percakapan dengan Truphon Yahudi”, Yustinus menulis: “Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau di buang ke moncong- moncong binatang buas, ataupun disiksa dengan belenggu api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi saleh.”

Dalam salah satu tulisannya yang ditujukan kepada Kaisar Antonius, Yustinus menanggapi berbagai tuduhan negatif terhadap umat Kristen. Yustinus menulis bahwa umat Kristen tidaklah berbahaya bagi negara, malah akan menguntungkannya, karena mereka diajarkan untuk menjadi warga negara yang baik dan setia. Namun demikian, tulisan ini tidak mengubah pandangan pihak penguasa. Ketika Marcus Arelius—anak angkat Kaisar Antonius—berkuasa, ia tetap menganiaya umat Kristen, yang dianggapnya fanatik dan revolusioner.

Ketika dihadapkan kepada Rusticus, Yustinus mengatakan kepadanya bahwa sebagai seorang filsuf ia telah mempelajari berbagai macam ilmu filsafat, dan ia menyimpulkan bahwa agama Kristen adalah ajaran yang paling benar. “Kami percaya akan satu Pencipta, dan bukan kepada dewa-dewa. Kami mengakui Putra-Nya Yesus Kristus, yang telah dinubuatkan oleh para nabi dan yang telah datang untuk membawa keselamatan bagi semua orang di manapun mereka berada,” kata Yustinus. Ketika Rusticus bertanya kepadanya, “Apakah kamu seorang Kristen?” Yustinus menjawab dengan tegas, “Ya, saya seorang Kristen.”

“Apakah kamu pikir bahwa kalau aku menyiksamu dan memenggal kepalamu, maka kamu akan masuk Surga?” tanya Rusticus.  “Aku tidak hanya berpikir tentang itu, tetapi aku tahu tentang itu,” jawab Yustinus, “Aku tidak meragukannya sedikitpun.” Para penganiayanya berkata, “Bagus! Mari kita lihat! Mari, memberi kurban kepada dewa-dewa!”

“Tidak masuk akal!” jawab Yustinus. “Tak seorang pun yang waras akan menukarkan kebenaran dengan kepalsuan!” Dengan jawaban ini, Yustinus dan enam orang lainnya dihukum mati. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 165. Yustinus dikenal sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

Baca Juga:  Hidup yang Berbuah (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.