Bacaan dan Renungan Selasa 19 Oktober 2021|Pekan Biasa XXIX

Jika karena dosa satu orang maut telah berkuasa,betapa hebatnya mereka akan berkuasa dalam kehidupan.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara, dosa telah masuk ke dunia lantaran satu orang,dan karena dosa itu juga maut. Demikianlah maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Jika karena pelanggaran satu orang semua orang jatuh ke dalam kuasa maut,jauh lebih besar lagi kasih karunia dan anugerah Allah,yang dilimpahkan-Nya atas semua orang lantaran satu orang,yaitu Yesus Kristus. Sebab jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa maka lebih benar lagi yang terjadi atas mereka yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran; mereka akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu,yaitu Yesus Kristus. Sebab itu sebagaimana oleh satu pelanggaran semua orang mendapat penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang mendapat pembenaran untuk hidup. Jadi sebagaimana oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa,demikian pula oleh ketaatan satu orang semua menjadi orang benar.Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia berlimpah-limpah.Jadi sebagaimana dosa berkuasa dalam alam maut, demikianlah pula kasih karunia akan berkuasa karena Tuhan kita Yesus Kristus membenarkan kita untuk hidup kekal.

Ref:Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan tetapi Engkau telah membuka telingaku;kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut.Lalu aku berkata: “Lihatlah Tuhan, aku datang!”“Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku:aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku;Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar,bibirku tidak kutahan terkatup;Engkau tahu itu, ya Tuhan.Biarlah bergembira dan bersukacita semua orang yang mencari Engkau;biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: “Tuhan itu besar!”

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, agar kalian tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari, dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah para hamba itu.”

Paulus membandingkan Adam dan Kristus sebagai wakil dari dua kelompok manusia. Adam adalah manusia pertama. Ia jatuh ke dalam dosa karena melanggar firman Allah. Pelanggaran Adam ternyata bukan hanya berpengaruh pada dirinya sendiri. Persekutuan dengan Adam mengakibatkan seluruh manusia jadi terkena dampaknya (ayat 12, band. 1Kor. 15:22). Semua manusia jadi terlahir sebagai orang berdosa karena ketidaktaatan Adam. Lebih dari itu, sebagai hukuman dosa, semua manusia harus binasa (ayat 17). Dosa Adam bukan sekadar sebuah contoh buruk yang jelas tidak boleh ditiru. Dosa Adam merusak kemanusiaan secara keseluruhan.

Yesus Kristus hidup dalam ketaatan kepada Allah. Meski kehendak Allah begitu berat untuk dilakukan, Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam hidup-Nya. Bahkan meski itu harus mengorbankan nyawa-Nya. Namun dampaknya ternyata jauh lebih luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).

Persekutuan kita dengan Adam menjadikan kita sebagai orang berdosa yang akan mengakhiri hidup dalam kebinasaan karena murka Allah. Namun kita bisa melakukan sesuatu agar tidak terikat terus dalam persekutuan dengan Adam. Kita dapat memutuskan untuk terikat dalam persekutuan dengan Kristus dan menikmati kelahiran baru di dalam Dia. Persekutuan yang baru ini memungkinkan kita memiliki keselamatan dan hidup kekal karena kasih karunia Kristus yang tercurah atas kita (ayat 21). Kelahiran baru menandai pemutusan hubungan kita dengan dosa dan kuasanya, serta mengawali hidup baru di dalam Kristus untuk menikmati kekekalan sebagai anak Allah. Mungkin kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, tapi kita tidak lagi terikat di dalamnya. Kehadiran Kristus yang kita undang menguasai hati kita akan menolong kita untuk menang.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan karena menuntut kesabaran dan disiplin diri yang besar. Bagi orang beriman menanti berhubungan erat dengan kedewasaan mental spiritual. Sehubungan dengan “menanti”, umat Tuhan dikenal sebagai orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Orang beriman yang belajar menanti, tidak akan diperbudak oleh hal-hal yang mendesak sebab tahu apa yang hakiki dan penting. Iman, harap, dan kasihlah yang membuat kita mampu menempatkan semua hal dalam hidup ini dalam nilai dan perspektif ilahi.

Dalam Mazmur ini, pemazmur melukiskan pengalaman hidupnya ketika ia jatuh ke dalam jerat dosa, dan menanti-nantikan Tuhan. Bagi pemazmur dosa seumpama lumpur hidup yang menghisap orang yang jatuh ke dalamnya untuk mati terbenam hidup-hidup. Semakin keras orang itu meronta berusaha melepaskan diri, semakin ia akan tersedot oleh lumpur itu. Hanya jika ada pertolongan dari luar sajalah, orang itu dapat diselamatkan. Inilah penantian yang sekaligus menunjukkan bahwa usaha manusia jelas tak mampu menyelesaikan masalah dosa. Allah tidak hanya mendengar teriakan pemazmur minta tolong. Ia bahkan menjenguk dan mengangkat si pemazmur dari lubang kebinasaan.

Banyak sekali kebaikan dan perbuatan Allah untuk kita, orang beriman. Kebaikan Allah mencapai klimaksnya pada kedatangan pertama sang Juruselamat. Ini menunjukkan bahwa Allah menggenapi janji keselamatan yang dinantikan manusia. Penggenapan janji Allah ini tidak berhenti sampai di sini, karena penggenapan pertama ini justru memasukkan kita pada penantian yang terbesar yaitu kedatangan-Nya yang kedua kali. Belajarlah hidup dalam penantian kedatangan Tuhan sebab itu akan membuat kita mengutamakan kasih, kesucian, keadilan dan kebenaran.

Orang lebih senang menjadi tuan daripada menjadi hamba. Yang dibayangkan adalah kedudukan dan kuasa atas para hambanya. Tetapi sikap setia dan siap sedia seorang hamba yang melayani tuannya bukan sesuatu hal yang dapat dibeli dengan uang gaji. Tuan yang baik (37) bahkan kemudian melayani hambanya, karena ia mendapati mereka tetap berjaga dan sedia, sekalipun sudah di luar waktu kerja (ay. 38, pada tengah malam atau bahkan pada dini hari). Selendang yang mengikat jubah di pinggang adalah tanda siap sedianya tuan dalam melayani. Sikap hati yang sedia melayani sudah diperlihatkan terlebih dahulu dengan nyata.

Banyak yang senang menyebut dirinya “hamba Tuhan”. Namun dengan posisi itu, ada juga yang tidak malu meminta fasilitas dan keistimewaan lebih dari para hamba yang lain. Fungsi utama hamba adalah melayani tuannya. Akan tetapi, ada juga hamba yang berlaku sewenang-wenang saat tuannya pergi (45). Padahal keutamaan seorang hamba adalah ketika ia melakukan pelayanan, dan bukan ketika ia malah minta dilayani. Benar bahwa pelayanan memerlukan sarana dan prasarana untuk menunaikan pekerjaan pelayanan, tetapi semua itu diupayakan untuk memperlancar pekerjaannya. Tujuan pokok dari pengadaan semua fasilitas itu adalah untuk mengerjakan pelayanan. Maka setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut (48).

Sebagai “hamba Tuhan” kita perlu setiap kali memperbarui panggilan pelayanan yang telah dipercayakan kepada kita, agar keberadaan sebagai hamba yang setia dan siap sedia dalam melayani sesama dapat terus kita lakukan. Jangan sampai kita menyelewengkan karunia yang saat ini dipercayakan kepada kita untuk kepentingan sesaat, sebab kelak kita harus mempertanggungjawabkannya ke hadapan Tuhan. Biarlah Tuhan nanti akan menjamu dan melayani kita (37).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau memang pantas dan layak dikasihi dan senantiasa dimuliakan oleh semua orang. Jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu yang kudus, yang bersedia merangkul jalan kehidupan yang telah ditetapkan oleh Bapa surgawi bagi kami masing-masing. Penuhilah pikiran kami dengan kebenaran-kebenaran-Mu agar dengan demikian kami akan mengetahui kapan kami sedang dimurnikan oleh api-Mu. Amin.

Luk 12:35-38 Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga.

Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.