Bacaan dan Renungan Senin 17 Agustus 2020 | Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Posted on

Para penguasa bertanggung-jawab atas rakyatnya.

Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya; seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.

Ref:Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cintakasih.

Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela. Aku hendak hidup dalam ketulusan hati, tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila.Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan, supaya mereka diam bersama-sama aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku.Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku.

Berlakulah sebagai orang yang merdeka.

Saudara-saudaraku yang terkasih, demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan mengganjar orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu
untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

Sekali peristiwa orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus
dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka Ia lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka,  “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar,
dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Yesus tahu ini jebakan. Kemudian Yesus berkata, “mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik’?” Sebelum menjawab pertanyaan mereka, Yesus menunjukkan kedegilan dan kemunafikan hati mereka Dari sini, kita dapat belajar, bahwa satu perbuatan secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Jawaban Yesus sungguh luar biasa dan jauh dari perkiraan mereka. Yesus meminta agar mereka menunjukkan mata uang untuk membayar pajak dan meminta agar mereka menjawab gambar dan tulisan siapa di koin tersebut. Kemudian mereka menjawab bahwa itu adalah gambar dan tulisan kaisar. Dan kemudian Yesus menjawab, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.’

Kristus mengajarkan kita agar memberikan keadilan kepada penguasa dengan memberikan apa yang menjadi kewajiban kita kepada penguasa itu dan pada saat yang bersamaan memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan. Kemudian karena “hal yang kekal lebih utama daripada “hal yang sementara”, maka kewajiban kepada Tuhan harus lebih utama daripada kewajiban kepada kaisar atau sesuatu yang bersifat sementara.

Ya Tuhan Allah, berilah kami hati yang bijaksana sehingga dapat senantiasa membedakan dan melaksanakan kewajiban kami sebagai orang beriman dan warga negara. Amin

Indonesia
Indonesia

Baca artikel dari sumbernya

Gravatar Image
Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...