Ora et Labora (1)

Posted on

Ayat bacaan: Yoel 2:17
===================
“baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?”

Ora et labora adalah sebuah quote yang tidak lagi asing bagi kita. Diambil dari bahasa Latin, Ora Et Labora dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “berdoa dan bekerja.” Rangkaian kata ini semakin jarang kita dengar, sepertinya semakin ditinggalkan orang. Bukan saja semakin jarang terdengar, tetapi orang yang melakukannya pun semakin sedikit saja. Kehidupan yang semakin keras dan semakin sulit seringkali membuat orang susah membagi waktunya dengan baik. Ada yang mati-matian bekerja banting tulang siang dan malam, sehingga jangankan berdoa, untuk meluangkan waktu bersama keluarga pun sudah sangat sulit dan hampir-hampir tidak mungkin. Disisi lain, banyak pula orang Kristen yang menerjemahkan berkat-berkat yang turun dari Tuhan itu secara sepihak. Mereka kerap mengharapkan berkat turun dicurahkan dari langit lewat serangkaian mukjizat spektakuler setiap saat, dan tidak melakukan apapun untuk mendapatkan berkat itu, selain berdoa siang dan malam.

Semakin banyak orang yang memisahkan antara hidup dengan ibadah dan mengartikan keduanya secara sempit. Ibadah ya hari Minggu, selebihnya lakukan apa saja selama menghasilkan uang. Kalau memang terdesak butuh lebih, usahakan saja lewat segala cara. Urusan rohani ya tunggu giliran lagi, di hari Minggu depan. Atau kalau butuh apa-apa tinggal berdoa, selama masih bisa diusahakan ya kerja saja yang keras, tidak usah pakai terganggu bagi waktu untuk doa segala. Bukankah banyak orang yang pandangannya jadi seperti ini di jaman sekarang?

Baca Juga:  RENA Sabtu, 25 Desember 2021 – Hari Raya Natal

Ora et labora mengingatkan kembali akan pentingnya sebuah keseimbangan. Keseimbangan sangatlah diperlukan dalam menjalani hidup. Kita tidak bisa melakukan satu hal saja dan melupakan yang lain. Tuhan memang bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun. Benar bahwa Yesus berkata “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22). Kuasa doa memang luar biasa besarnya. Tetapi ingat pula bahwa Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya menjadi orang-orang yang malas dan manja, hanya mau terus meminta mengadahkan tangan tanpa mau melakukan apapun. Sebaliknya, Tuhan pun tidak suka orang-orang yang tidak mau melibatkanNya dalam pekerjaan. Hidup menurut keinginan sendiri sesuka hati, mengambil keputusan tanpa menempatkan Tuhan disana. Kalau diibaratkan majalah, majalahnya ada dua buah, dimana tidak ada sedikitpun keterkaitan satu sama lain. Sebagian memegang dua majalah berbeda, sebagian lagi hanya memegang satu sedang satunya lagi disingkirkan jauh-jauh, masuk gudang. Nanti kalau benar-benar butuh baru diambil lagi. Tidak ada yang namanya keseimbangan, tidak ada yang harus disinkronkan. Semua jalan sendiri-sendiri, kan beda pos? Begitu pikiran mereka.

Berkali-kali Tuhan mengungkapkan ketidaksukaanNya terhadap orang yang malas. Lihatlah bagaimana kerasnya Tuhan menghadapi orang yang malas dalam “perumpamaan tentang talenta” yang tertulis di Matius 25:14-30. Begitu keras, sehingga Alkitab berkata “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (ay 30). Lihat pula teguran-teguran yang datang kepada orang malas dalam Amsal 6. Salah satunya berkata: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” (ay 6). Semut adalah serangga yang lemah dan berukuran jauh lebih kecil dibanding manusia, tetapi baiklah jika orang malas belajar dari etos kerja semut. Orang malas itu tidak bijak. Dan teguran dari Paulus juga menggambarkan hal yang keras pula. “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10). Berdoa memang bagus, dan itu sudah menjadi kewajiban kita. Tetapi jangan lupa pula bahwa kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan dikatakan seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23).

Baca Juga:  Kebersatuan Membawa Pelipatgandaan

Di sisi lain, Tuhan Yesus juga mengingatkan agar kita terus berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Kita diminta harus sadar bahwa “…Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16). Jadi disamping kerja yang giat dengan integritas tinggi, kita pun dituntut untuk tidak mengeyampingkan doa. Singkatnya, keduanya tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri tapi saling terhubung satu sama lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Tidak ada yang dikesampingkan, tidak ada yang dikorbankan, tidak ada yang dinomorduakan.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.