4 Nov -Flp 3:3-8a; Luk 15:1-10

Posted on

"Ia menerima orang berdosa dan makan bersama dengan mereka."

(Flp 3:3-8a; Luk 15:1-10)

 

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (Luk 15:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Karolus Borromeus hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Karolus Borromeus dikenal sebagai gembala umat/uskup yang merakyat, pendoa dan sederhana. Sebagai Uskup ia memberi perhatian khusus kepada ‘domba-domba’ atau umat yang hilang atau tersingkir, antara lain yang menderita sakit, wabah penyakit pes yang merajalela saat ini. Ia sungguh meneladan Yesus yang ‘menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka’. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Karolus Borromeus hari ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri perihal salah satu prinsip hidup beriman atau beragama yaitu “preferential option for/with the poor” = ‘keberpihakan pada orang-orang miskin dan berkekurangan’, entah miskin secara phisik maupun spiritual, jasmani maupun rohani.. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi contoh atau teladan dalam keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, entah pejabat pemerintah, masyarakat maupun agama. Kiranya baik dan perlu bahwa prinsip ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan pendampingan dan contoh dari para orangtua. Marilah kita sadari bahwa ketika masih ada orang yang miskin dan berkekurangan berarti ada sementara orang hidup serakah, hanya mencari keuntungan dan kenikmatan diri sendiri. Salah satu bentuk keberhasilan pemerintahan atau mungkin keberhasilan utama adalah kesejahteraan  seluruh rakyat, maka jika masih cukup banyak anggota masyarakat atau rakyat yang miskin dan berkekurangan berarti pejabat pemerintah kurang melayani dan lebih menguasai. Semakin tinggi jabatan atau kedudukan hendaknya semakin bersemangar melayani, terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.


·   “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil 3:8). Kesaksian iman Paulus ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua. Marilah kita jadikan atau hayati segala sesuatu sebagai sarana atau wahana untuk semakin mengenal Yesus Kristus, Tuhan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari. Untuk itu pertama-tama hendaknya dihayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah atau rahmat Tuhan yang kita terima melalui orang-orang yang mengasihi dan telah berbuat baik kepada kita. Hendaknya kita juga jangan bersikap mental materialistis atau duniawi. Kami juga mengingatkan para orangtua maupun guru/pendidik untuk lebih mengutamakan anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur atau cerdas spiritual  daripada cerdas intelektual dalam pendidikan atau pendampingan anak-anak. Mendidik dan membina anak-anak agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur kiranya tidak mudah, sarat dengan tantangan, hambatan atau masalah, maka baiklah tidak hanya mengandalkan kekuatan atau keterampilan diri sendiri dalam mendidik atau membina, tetapi juga dengan rendah hati mohon rahmat Tuhan. Dengan kata lain hendaknya sebagai orangtua atau pendidik/guru tidak melupakan hidup doa atau rohani, antara lain sering mendoakan anak-anak atau peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya atau yang dianugerahkan Tuhan kepada anda. Dampingi dan didik anak-anak dalam semangat cintakasih dan kebebasan kristiani.

 

“Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya” (Mzm 105:2-6)

 

Jakarta, 4 November 2010