27 Agt – 1Kor 1:17-25; Mat 25:1-13

Posted on

“Gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka”

(1Kor 1:17-25; Mat 25:1-13)


"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!  Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (Mat  25:1-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Monika hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Monika dikenal sebagai seorang isteri dan ibu yang penuh cintkasih dan dedikasi baik kepada suami maupun anak-anaknya. Baik suami maupun anak-anaknya tidak berkepribadian baik alias kurang bermoral, namun Monika dengan tabah dan penuh kasih serta kesabaran mendampingi dan mendoakan mereka agar bertobat. Dengan kata lain Monika sungguh menjadi contoh atau teladan bagi para ibu/isteri, dan bahkan pada saat ini ia menjadi pelindung bagi para janda, dan memang cukup lama Monika menjadi janda dalam mendampingi anak-anaknya, termasuk Agustinus, yang akhirnya bertobat dan menjadi orang suci. Menjadi janda pada masa kini, apalagi cantik dan tanpa anak, sering menjadi bahan pembicaraan atau gunjingan serta mudah jatuh ke dalam pencobaan, entah dengan menjual diri sebagai wanita simpanan atau pelacur, dst.. Warta Gembira hari ini serta cara hidup dan cara bertindak St.Monika kiranya mengajak kita semua, khususnya rekan-rekan perempuan atau gadis atau janda, untuk tetap bijaksana dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun godaan, “membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli”, dengan kata lain senantiasa dalam keadaan terang benderang, transparan, terbuka, jujur, dst…  Ingat bahwa anda memiliki rahim, dimana buah kasih selama kurang lebih tumbub berkembang di dalam rahim dalam kasih; semoga anda tetap setia hidup dan bertindak seperti ketika di dalam rahim anda sedang tumbuh berkembang buah kasih alias sedang mengandung: keutamaan-keutamaan selama mengandung hendaknya terus dihayati dan dilaksanakan. .

Baca Juga:  Ongoing Formation dengan Retret untuk Para Imam guna Mensyukuri Rahmat Tahbisan

·   “Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:17-18), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk memberitakan Injil artinya menyebarluaskan apa-apa yang menggembirakan, menyelamatkan dan membahagiakan jiwa manusia. Di zaman, yang antara lain masih ditandai sikap mental materialistis yang menjiwai banyak orang saat ini, kiranya tugas panggilan untuk mengusahakan keselamatan atau kesejahteraan jiwa akan menghadapi banyak tantangan, masalah dan hambatan alias siap siap sedia memberitakan ‘salib’. Memberitakan ‘salib’ antara lain berarti berpikir tidak mengikuti pikiran sendiri melainkan mengikuti pikiran Tuhan, kaki dan tangan tidak bergerak seenaknya sendiri tanpa aturan, melainkan bergerak demi keselamatan jiwa dan untuk itu harus mentaati aneka tata tertib. Pengalaman Monika mendampingi suami dan anak-anaknya juga merupakan pemberitaan ‘salib’ yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa. Salib sungguh merupakan kekuatan Allah, maka hendaknya ketika anda akan menghadapi tantangan, hambatan, tugas pekerjaan berat dst.. hadapilah dengan memulai membuat tanda salib agar anda menghadapinya semuanya itu bersama dan bersatu dengan Yesus, yang tergantung di kayu salib demi keselamatan jiwa seluruh umat manusia. Mau marah buat tanda salib dahulu agar marah dalam Tuhan, mau menyakiti orang lain buat tanda salib dahulu agar menyakiti dalam Tuhan dst..

 

“Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN” (Mzm 33:1-2.4-5).

Baca Juga:  Perselisihan Itu Biasa (1) : Cepat Mendengar

 

Jakarta, 27 Agustus 2010

Gravatar Image
Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...