20 Agustus – Yeh 37:1-14; Mat 22:34-40

Posted on

“Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?".

(Yeh 37:1-14; Mat 22:34-40)

 

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di dalam kehidupan atau kerja bersama senantiasa ada aneka macam tata tertib yang harus dihayati atau dilakukan oleh siapapun yang ada di dalam kebersamaan tersebut. Aneka tata tertib hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan berdasarkan kasih akan Allah dan sesama  manusia, maka hendaknya disikapi dan dihayati dalam dan oleh kasih juga. Dalam sabda Yesus hari ini kita dipanggil untuk mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi. “Segenap” berarti seutuhnya atau total, tidak kurang sedikitpun. Kalau kurang berarti sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi, dan dengan demikian tidak mungkin dapat mengasihi dengan baik dan benar, sebagaimana diharapkan oleh Allah. Maka hendaknya kita sungguh menjaga dan mengusahakan agar hati, jiwa dan akal budi kita senantiasa dalam keadaan sehat, segar bugar, agar kita dapat mengasihi dengan benar. Kasih kepada Allah harus menjadi nyata dalam kasih terhadap sesama, dan yang kiranya dapat diinderai atau disaksikan adalah kasih terhadap sesama, maka marilah kita berusaha untuk hidup saling mengasihi dimanapun dan kapanpun juga. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’, buah kasih Allah melalui orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga. Jika kita dapat menghayati diri sebagai ‘buah kasih’ atau  ‘yang terkasih’, maka panggilan untuk hidup saling mengasihi dengan mudah dapat kita laksanakan, karena bertemu dengan orang lain/sesama manusia berarti ‘yang terkasih’ bertemu dengan ‘yang terkasih’ dan dengan demikian secara otomatis saling mengasihi. Marilah kita perdalam penghayatan diri sebagai ‘yang terkasih’.

·   Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN." (Yeh  37:14), demikian firman Tuhan kepada kita semua melalui nabi Yeheskiel.  Dari firman ini kiranya kita dapat mengimani bahwa hidup kita adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita melalui orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/ tenaga. Maka kita tak mungkin hidup hanya untuk diri sendiri, mengikuti kemauan dan keinginan pribadi, melainkan harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena hidup kita adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki atau kuasainya sampai saat ini adalah anugerah Tuhan. Hendaknya kita memfungsikan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai demi kemuliaan Tuhan dan kesucian hidup diri kita sendiri maupun sesama kita. Misalnya bagi para gadis atau perempuan yang dianugerahi tubuh seksi, kecantikan dan kesehatan yang baik serta mempesona, hendaknya senantiasa menghadirkan diri dimanapun dan kapanpun agar anda sendiri semakin suci, dan orang lain yang menyaksikan cara hidup dan cara bertindak anda juga semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya. Bagi mereka yang kaya akan harta benda atau uang hendaknya memfungsikan harta atau uangnya sebagai ‘jalan ke sorga’, bukan ‘jalan ke neraka’.. Bagi mereka yang dianugerahi kecerdasan atau keterampilan hendaknya senantiasa memfungsikan kecerdasan dan keterampilan demi keselamatan seluruh umat manusia. St.Bernardus yang kita kenangkan pada hari ini dikenal sebagai pribadi yang mempersembahkan seluruh hidup demi kemuliaan Tuhan, dengan hidup taat, murni dan miskin meneladan Yesus, yang meskipun kaya telah menjadi miskin guna memperkaya umat manusia yang miskin dan berkekurangan. Semoga apa yang dilakukan oleh St.Bernardus dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

 

“Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan. Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.” (Mzm 107:2-5)

Jakarta, 20 Agustus 2010