18 Agustus – Yeh 34:1-11; Mat 20:1-16

Posted on

Orang yg terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yg terakhir

(Yeh 34:1-11; Mat 20:1-16)


"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya….. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Mat 20:1-2.10-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Perumpamaan perihal “Kerajaan Sorga” ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi orang yang mudah irihati dan tidak tahu berterima kasih serta bermurah hati. Mereka merasa banyak berjasa dan berharap akan memperoleh imbalan, entah berupa pujian, harta benda/uang atau sanjungan yang lebih besar daripada mereka yang kurang atau tidak berjasa. Mereka yang dimaksudkan dalam perumpamaan ini adalah para tokoh/ pejabat pemuka hidup bermasyarakat dan beragama, mereka iri akan kemurahan hati Tuhan yang disampaikan kepada orang lain. Di Indonesia hal itu antara lain terjadi di antara para pegawai tetap yang menerima imbal jasa sesuai dengan peraturan sering merasa iri terhadap pendapatan para pedagang kaki lima, sedangkan para pejabat tinggi sering iri kepada para pengusaha. Warta Gembira hari ini juga mengingatkan kita semua penting ‘bermurah hati’ di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Murah hati berarti hatinya dijual dengan harga murah, maksudnya dengan mudah memberi perhatian kepada siapapun, terutama bagi mereka yang terpinggirkan atau kurang memperoleh perhatian. Kami berharap keutaman ‘bermurah hati’ ini sedini mungkin ditanamkan dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari orangtua. Bermurah hatilah terhadap saudara-saudari kita yang kurang memperoleh perhatian. Ingat dan hayati bahwa kita semua telah menerima kemurahan hati Tuhan melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, sehingga kita dapat hidup, tumbuh dan berkembang seperti apa adanya saat ini.

·   Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman” (Yeh 34:3-4), demikian firman Tuhan melalui nabi Yeheskiel kepada para tokoh atau pemimpin bangsa terpilih. Kutipan di atas ini memang baik untuk direnungkan oleh siapapun yang merasa dirinya menjadi pemimpin atau de facto menjadi pemimpin dalam hidup bersama di ranah apapun. Kami harapkan.para pemimpin dapat menjadi ‘gembala yang baik bagi domba-dombanya’ (orangtua bagi anak-anaknya, atasan bagi bawahannya, pemimpin bagi anggotanya), antara lain dengan menggembalakan mereka sedemikian rupa sehingga mereka senantiasa dalam keadaan sehat, segar bugar dan selamat. Mereka yang lemah dikuatkan, yang sakit diobati, yang luka dibalut, yang tersesat dibawa pulang, yang hilang dicari. Semoga rakyat atau pegawai/buruh tidak menjadi ‘sapi perah’ bagi para pejabat atau manejer/ direktur bersama stafnya. Semoga para orangtua, pemimpin atau atasan dalam melaksanakan fungsinya bersikap mental melayani dengan rendah hati dan lemah lembut, serta tidak dengan kekerasan atau ‘tangan besi’. Mereka yang sering bertindak keras atau kejam kami harapkan bertobat, memperbaharui diri menjadi melayani dengan rendah hati dan lemah lembut. Kami juga berharap kepada para orangtua atau suami-isteri, antara lain tidak hanya berhenti dengan enak dan nikmatnya hubungan seksual, tetapi kasihilah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga ‘buah kasih/kenikmatan’ anda yaitu anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada anda berdua.

 

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

(Mzm 23)

Jakarta, 18 Agustus 2010