16 Agustus – Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

Posted on

“Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

 

“Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mat 19:16-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua mendambakan ‘untuk memperoleh hidup yang kekal’  setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia nanti. Syarat untuk itu memang sungguh berat, yaitu “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku”. Rasanya tak akan mungkin bagi kita semua untuk menjual segala milik kita dan kemudian memberikan uang penjualan tersebut kepada orang miskin. Maka baiklah sabda Yesus tersebut kita hayati tidak secara harafiah, tetapi inti maksudnya, yaitu hendaknya kita memfungsikan segala milik kita sebagai sarana sosial, karena semua harta benda atau milik hemat saya pada dirinya bersifat sosial. Semakin kaya akan harta benda atau uang hendaknya semakin sosial, maka kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang hendaknya harta benda atau uang tersebut ‘dijalankan’ demi orang-orang miskin dan berkekurangan. Harta benda atau uang diam saja tidak ada artinya dan akan berarti jika ‘berjalan-jalan’, maka jangan menyimpan harta benda atau uang dalam almari besi saja. Mengingat dan memperhatikan masih begitu banyak tenaga kerja yang menganggur, maka dengan ini kami berharap kepada para pengusaha untuk membuka dan menyelenggarakan usaha yang menyerap lebih banyak tenaga kerja. Memang usaha seperti pertambangan dan perkebunan nampak lebih menguntungkan secara financial, akan memperoleh keuntungan besar, tetapi usaha tersebut hemat saya kurang sosial, bahkan merusak lingkungan hidup, yang pada gilirannya memiskinkan rakyat. Usahakan lebih ‘padat karya’ daripada ‘padat modal’ mengingat dan memperhatikan begitu banyak tenaga kerja yang menganggur.

Baca Juga:  Keluar dari Rutinitas

·   "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata” (Yeh 24:16), demikian firman Tuhan kepada kita semua melalui nabi Yeheskiel. Apa atau siapa yang sangat saya cintai? Relakah saya bahwa yang sangat saya cintai tersebut diambil oleh Tuhan. Mungkin yang dimaksud diambil oleh Tuhan tidak hanya berarti meninggal dunia saja, tetapi dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita yang terkasih diminta untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan kiranya ada kemungkinan, maka marilah kita mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain hendaknya tidak hidup demi dirinya sendiri saja. “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:7-8), demikian kesaksian atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Hendaknya kita hidup dan bertindak demi semakin banyak orang, melakukan aneka perkerjaan yang berdampak pada keselamatan lebih banyak orang. Secara khusus kami berharap kepada anak-anak dan generasi muda untuk berani membuka diri terhadap kemungkinan dipanggil untuk menjadi imam, bruder atau  suster, sedangkan kepada para orangtua hendaknya dengan rela hati dan gembira ketika salah seorang anaknya minta izin untuk menjadi imam, bruder atau suster. Kepada semuanya kami berharap untuk mengusahakan, meningkatkan dan memperdalam kepedulian kepada sesama, lebih-lebih atau terutama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

Baca Juga:  Bacaan dan Renungan Rabu 30 Oktober 2019 - Pekan Biasa XXX

 

Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan” (Ul 32:18-20).

Jakarta, 16 Agustus 2010

      

Gravatar Image
Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...