20 Sept

"Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”
(1Kor 15:1-11; Luk 7:36-50)

Terlahir di tengah keluarga terpandang masyarakat Korea saat itu (yangban), orang tua Kim Taegon berubah memeluk agama Katolik dan ayahnya kemudian dihukum mati karena menjadi Kristiani – suatu tindakan terlarang di Korea yang sangat kental Konfusianisme-nya saat itu. Kim Taegon belajar di sebuah seminari di Makau dan ditahbiskan menjadi seorang imam di Shanghai setelah enam tahun. Ia kemudian kembali ke Korea untuk berkhotbah dan menyebarkan Injil. Selama masa Dinasti Joseon, agama Kristiani ditindas keras dan banyak umat Kristiani yang disiksa dan dibunuh. Umat Katolik harus secara tertutup mempraktekkan iman mereka. Kim Taegon adalah salah satu dari beberapa ribu umat Kristiani yang dihukum mati selama masa ini. Pada tahun 1846, dalam usia 25 tahun, ia disiksa dan dihukum pancung. Kata-kata terakhirnya adalah:"ini adalah waktu terakhir dari hidupku, dengarkan aku baik-baik: bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal ini terjadi untuk agama dan Tuhan-ku. Adalah untuk-Nya aku ini mati. Kehidupan abadiku baru mulai. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukuman abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya."[Pada tanggal 6 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi Andrew Kim Taegon bersama dengan 102 orang martir Korea lainnya, termasuk diantaranya Paulus Chong Hasang. Hari raya penghormatan kepada mereka adalah tanggal 20 September.” (sumber: www.google.co.id), demikian riwayat singkat St.Andreas Kim Taegon.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Kim Taegon, imam dan Paulus Chang Haesang dkk, para martir Korea, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sbb.:
·   Hidup dalam iman memang sungguh menyelamatkan, demikian dalam iman kita tidak perlu takut dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, sebagaimana dihayati oleh para martir Korea yang kita kenangkan hari ini. Maka kami mengajak kita semua, umat beriman, untuk sungguh-sungguh setia pada iman kita serta menghayati iman dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan seorang perempuan berdosa yang tidak takut terhadap orang-orang Farisi menghadap Yesus mohon kasih pengampunanNya dengan mengurapi dan menciumi kaki Yesus, sebagai wujud bakti kepadaNya. Jika kita jujur dan benar mawas diri kiranya kita akan mengakui dan menyadari bahwa diri kita adalah orang-orang berdosa, maka meskipun berdosa marilah kita menghadap Tuhan untuk mohon kasih pengampunanNya, dan serta kemudian tanpa takut dan gentar mewartakan kasih pengampunan atau menjadi saksi iman dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Menjadi saksi iman pada masa kini memang sungguh mendesak dan up to date, mengingat dan memperhatikan banyak orang tidak atau kurang setia pada imannya, yang menggejala dalam aneka perilaku amoral atau jahat. Marilah kita berantas aneka pelanggaran hidup moral atau aneka kejahatan dalam lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing, sebagai wujud kesaksian iman kita. Kesaksian atau penghayatan iman merupakan wujud utama dan terutama penghayatan tugas merasul, yang tak tergantikan oleh cara atau bentuk apapun.

·   Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.” (1Kor 15:9-11), demikian kesaksian iman Paulus. Paulus tidak takut dan tidak gentar mewartakan kabar baik dan mereka yang mendengarkannya pun menjadi percaya. Memang kesaksian iman yang mendalam dan handal sungguh memikat, mempesona dan menawan, sehingga mereka yang menyaksikannya tergerak untuk semakin percaya atau beriman kepada Tuhan, dengan mempersembah-kan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari yang baik dan bermoral. Kita semua telah menerima kasih karunia Tuhan secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, maka marilah kita usahakan agar kasih karunia Tuhan tersebut tidak menjadi sia-sia dalam diri kita. Kita teruskan kasih karunia Tuhan kepada saudara-saudari kita dimana pun dan kapan pun tanpa pandang bulu. Kasih karunia Tuhan merupakan kekuatan bagi kita semua untuk tidak takut dan tidak gentar menjadi saksi iman. Hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan dan kekhawatiran sedikitpun. Hendaknya anak-anak di dalam keluarga dididik dan dibiasakan sedini mungkin dalam penghayatan iman, dan tentu saja para orangtua dapat menjadi teladan dalam penghayatan iman bagi anak-anaknya. Salah satu wujud penghayatan iman adalah saling menyalurkan kasih karunia Tuhan, maka marilah kita saling mengasihi satu sama lain. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa dapat menjadi wujud kasih karunia Tuhan kepada saudara-saudari kita. Dimana pun berada atau kemana pun pergi hendaknya kita sungguh menjadi kasih karunia Tuhan bagi orang lain.

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (Mzm 118:1-2)
Ign 20 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.