20 Okt – Ef 3:2-12; Luk 12:39-48

“Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

(Ef 3:2-12; Luk 12:39-48)


Ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."(Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Inti dari Warta Gembira ini kiranya adalah peringatan bagi kita semua bahwa masing-masing dari kita sewaktu-waktu, kapan saja dan dimana saja, dapat meninggal dunia alias dipanggil Tuhan, sebagaimana sering terjadi masa kini, entah karena kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, bencana alam, dst.. Siapkah kita sewaktu-waktu dipanggil Tuhan? Takutkah sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan? Jika kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita tidak takut sewaktu-waktu dipanggil Tuhan dan siap sedia kapan saja maupun dimana saja dipanggil Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, setia menghayati panggilan serta melakanakan aneka tugas pengutusan atau pekerjaan. Orang yang demikian layak disebut setia dan bijaksana, dan dengan demikian senantiasa siap sedia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: marilah kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dimanapun dan kapanpun. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita setia pada perjanjian yang telah kita ikhrarkan atau buat, misalnya janji baptis, janji imamat, janji perkawinan, kaul, janji pegawai, janji pelajar/mahasiswa, dst..


·   Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.”(Ef 3:12), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Efesus. Kutipan surat Paulus ini kebetulan juga menjadi motto ketika saya ditahbiskan menjadi imam, sebagai suatu penngendapan berbagai pengalaman perjalanan panggilan saya pribadi dengan harapan saya berani menanggapi panggilan Allah karena dengan rendah hati senantiasa berusaha ‘di dalam Dia’, yang tergantung di kayu salib. Dengan kata lain setiap memandang salib yang tergantung saya pribadi senantiasa merasa dikuatkan dan diteguhkan dalam menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan apapun. Secara spiritual ‘di dalam Dia’ antara lain juga berarti senantiasa taat kepada kehendak Tuhan dan menjadi nyata taat kepada para pembesar atau atasan sebagai ‘wakil Tuhan’ di dunia saat ini. Ketaatan juga menjadi kekuatan dan rahmat bagi St.Ignatius Loyola beserta para pengikutnya. Setia pada janji berarti mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau tata tertib yang terkait dengan janji tersebut: disiplin dan kerja keras serta jujur dalam melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan. Maka dengan ini kami mengingatkan anda semua yang percaya atau beriman pada Yesus Kristus: marilah menimba kekuatan dan rahmat dari Dia yang tergantung di kayu salib, dengan kata lain ketika merasa berat menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, kami persilahkan memandang salib seraya mohon rahmat dan kekuatan dariNya. Bersama dengan Yang Tersalib kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah, jalan masuk menuju kebahagiaan atau keselamatan sejati.

 

“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan….Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi” (Yes 12:2-5)

Jakarta, 20 Oktober 2010       

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: