20 Juni – Kej 12:1-9; Mat 7:1-5

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu?”

(Kej 12:1-9; Mat 7:1-5)

 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan di bawah ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Saling menuduh dan mencari atau mengangkat kekurangan dan kesalahan orang lain itulah yang terjadi di dalam proses pengadilan, yang sungguh melelahkan serta memboroskan waktu dan tenaga cukup banyak. Untuk menjaga dan meneguhkan wibawa pribadi, pemimpin, atasan, guru atau orangtua juga lebih senang melihat kelemahan dan kekurangan anggota, bawahan, peserta didik atau anak-anaknya. Itulah sikap hidup dan cara bertindak orang munafik. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita untuk tidak saling menuduh dan menyalahkan, melainkan saling menyadari dan menghayati kesalahan dan kekurangan diri sendiri seraya menyadari dan menghayati kelebihan dan kekuatan orang lain. Dengan kata lain kita dipanggil untuk senantiasa berpikiran positif terhadap orang lain, ‘positive thinking’, yang berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus. Kami percaya dalam diri kita dan sesama kita lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, kekuatan daripada kelemahan, kelebihan daripada kekurangan, maka marilah kita saling melihat dan menghayati kebaikan, kekuatan dan kelebihan kita masing-masing, agar hidup bersama kita sungguh dalam damai sejahtera, dalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Hendaknya hidup bersama jangan seperti proses pengadilan yang melelahkan dan memboroskan waktu serta tenaga tiada guna. Kami berharap juga di dalam pengadilan mereka yang bersalah segera atau secepat mungkin dengan jujur dan terbuka mengakui kesalahan dan kekurangannya, sehingga proses pengadilan berlangsung cepat dan membahagiakan. Sungguh melelahkan dan memuakkan bahwa di kalangan wakil rakyat pun juga terjadi saling menyalahkan dan menjegal demi keuntungan organisasi atau kelompoknya serta kurang atau tidak pernah memikirkan dan memperjuangkan rakyat yang diwakilinya. Sebagai wakil rakyat hendaknya mendengarkan dambaan, kerinduan dan harapan rakyat, yang tidak lain adalah ‘ketua’ anda.

·   “Pergilah dari negerimu dan sanak-saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu mashyur, dan engkau akan menjadi berkat” (Kej 12:1-2), demikian firman Allah kepada Abram. Abram pun mentaati dan melaksanakan firman Allah tersebut dengan jiwa besar dan hati rela berkorban. Firman Allah kepada Abram tersebut bagi kita semua masa kini kiranya dapat kita hayati dengan meninggalkan atau mengesampingkan kepentingan pribadi dan lebih mengutamakan atau mengedepankan kepentingan orang lain atau umum atau bersama. Dengan kata lain kita diajak untuk hidup social, tidak egois. Hendaknya kita tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau kepentingan pribadi, melainkan marilah kita taati dan laksanakan aneka tata tertib hidup bersama demi kebahagiaan dan keselamatan bersama. Dengan kata lain marilah kita setia pada panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat”  ( Prof Dr Edy Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).  Orang yang setia pada panggilan, tugas dan kewajiban pasti akan menjadi berkat bagi orang lain atau sesamanya, dimanapun berada atau kemanapun pergi. Hidup dalam kesetiaan memang harus disertai pengharapan, yang menjadi nyata dalam kegairahan dan semangat hidup meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Sebagai orang beriman kita adalah keturunan Abram, maka marilah meneladan Abram yang taat dan setia kepada perintah Allah.

Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah Tuhan, suku bangsa yang dipilihNya menjadi milikNya sendiri. Tuhan memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia. Sesungguhnya, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya, untuk melepaskan mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan

 (Mzm 33:12-13.18-19)

Ign 20 Juni 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.