20 Jan – 1Sam 17:32-33,37,40-51: Mrk 3:1-6

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat?”

(1Sam 17:32-33,37,40-51: Mrk 3:1-6)

 

“Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.” (Mrk 3:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari Sabat adalah hari yang secara khusus dipersembahkan kepada Tuhan, yang dalam tradisi Yahudi berarti pada hari itu tidak boleh bekerja. Tujuan atau makna utama mempersembahkan kepada Tuhan adalah keselamatan jiwa alias  berbuat baik kepada saudara-saudarinya. Maka untuk berbuat baik tidak terikat oleh aturan dan tatanan apapun, dan apa yang disebut baik senantiasa berlaku universal, dimana saja. Perbuatan baik mengatasi batas SARA, territorial, fungsi atau jabatan, dst.., maka orang baik pada umumnya berwawasan global, nasional, kebangsaan, serta senantiasa mengusahakan dan memperjuangkan persatuan dan perdamaian. Munculnya aneka macam golongan dan aliran sekaligus juga mengalirnya aneka aturan dan tatanan hidup, yang tanpa sadar mengikat dan membatasi cara hidup dan cara bertindak orang, yang membawanya ke fanatisme sempit seperti orang-orang Farisi. Fanatisme sempit ini juga berdampak munculnya perilaku jahat, yang dihayati sebagai penghayatan iman, maka sering muncul ‘demi atau atas nama Tuhan/Allah membunuh dan berbuat tidak baik kepada orang lain’. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa berpedoman pada keselamatan jiwa dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Maka aneka peraturan atau kebijakan yang bertentangan dengan keselamatan jiwa manusia, hendaknya dibongkar dan dihancurkan; demi keselamatan jiwa tidak perlu takut dan gentar mengatasi atau melanggar peraturan yang berlawanan dengan kemanusiaan dan keselamatan jiwa. Ada kemungkinan, sebagaimana dialami oleh Yesus, hidup dan berjuang demi keselamatan jiwa akan menghadapi aneka tantangan, hambatan dan tentangan.

·   "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam” (1Sam 17:45), demikian kata Daud kepada orang Filistin. Pedang, tombak dan lembing adalah senjata-senjata untuk membutuh dan mematikan orang lain. Pada masa kini senjata-senjata itu antara lain seperti bom, peluru kendali, pesawat tempur, tank, rudal, dst.., yang berharga mahal dan fungsinya tidak lain adalah untuk membunuh dan menghancurkan. Pembunuhan dan penghancuran demi perdamaian, begitulah motto yang berlaku, maka tidak mengherankan paska pembunuhan dan penghancuran lahirlah balas dendam yang lebih kejam. Senjata lain yang mematikan adalah racun atau uang. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk hidup dan bertindak ‘dengan nama Tuhan’, mendatangi dan menyapa serta memperlakukan siapapun ‘dengan nama Tuhan’. Dengan nama Tuhan  berarti sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan adalah persaudaraan atau persahabatan sejati, demi keselamatan jiwa manusia. Sayang pada masa kini Negara atau keluarga merasa aman dan damai serta selamat ketika memiliki dan menguasai senjata-senjata yang mematikan tersebut, bukan karena iman atau persembahan dirinya secara total kepada Tuhan. Kenyataan yang terjadi juga: dampak semangat hidup macam itu adalah perbedaan-perbedaan yang mencemaskan dan mengkhawatirkan. Hidup dan bertindak dengan nama Tuhan memang juga dapat berarti hidup sederhana di dunia masa kini, tidak serakah, tidak sombong dan berbohong, yang dilambangkan oleh Daud, dimana dengan batu dan alat pelempar mampu mengalahkan pedang, tombak dan lembing. Pengalaman yang demikian pernah terjadi di Filipina dengan ‘people power’ nya, antara lain para ibu/wanita berbaris dengan rosario di tangan menghadapi tank-tank tempur tentara, dan pasukan tentara pun mundur teratur.

 

“Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!” (Mzm 144:1-2)

 

Jakarta, 20 Januari 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.