20 Agt

Kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka”
(Sir 15:1-6; Yoh 17:20-26)

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Abas adalah seseorang yang memiliki panggilan dan tugas pekerjaan untuk memimpin sebuah komunitas hidup bakti kontemplatif, seperti Biara Trapis Rowoseneng- Jawa Tengah. Salah satu tugas utama dan pertama-tama bagi seorang pemimpin adalah sebagai pemersatu anggota-anggotanya, dan tugas itu antara lain dilakasanakan dengan sering wawancara bersama anggota-anggotanya atau mendoakan anggota-anggotanya. Maka dengan ini kami berharap kepada siapapun yang bertugas atau berfungi sebagai pemimpin untuk senantiasa mengusahakan persatuan dan persahabatan sejati antar anggota-anggotanya maupun mendoakannya agar mereka/anggota-anggotanya juga berusaha sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing mengusakan persatuan atau persahabatan sejati. Salah satu sarana pemersatu antar anggota antara lain adalah visi atau spiriritualitas hidup  dan panggilan bersama, sebagaimana telah dihayati dan dicanangkan oleh pendiri hidup bersama atau lembaga hidup bakti yang bersangkutan. Baiklah jika semua anggota sungguh berusaha memahami visi atau spiritualitasnya serta kemudian dengan kerja keras dan bantuan rahmat Tuhan berusaha menghayatinya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Tentu saja para pemimpin diharapkan dapat menjadi teladan dan unggul dalam penghayatan visi atau spiritualitas. Kepada segenap umat beriman kami harapkan hidup dan bertindak dijiwai oleh iman, sebagai suami-isteri hendaknya setia pada janji perkawinan, sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya setia menghayati janji baptis dst.. Persatuan atau persaudaraan sejati antar kita semua pada masa kini hemat saya sungguh mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan.

·   Begitulah perbuatan orang yang takut akan Tuhan, dan siapa yang melekat pada Taurat memperoleh kebijaksanaan. Seperti ibu kebijaksanaan menjemput dia, dan bagaikan isteri yang masih perawan menyambutnya. Kebijaksanaan memberi dia makanan pengertian, dan memberi minum air kebijaksanaan.Bersandar kepadanya orang tidaklah goncang, yang percaya padanya tidak dikecewakan.” (Sir 15:1-4). Kutipan ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa berusaha untuk bijak, dan mungkin tak mungkin sampai bijaksana. Bijaksana ada dalam Diri Tuhan sendiri, dan pada diri kita manusia paling tinggi hanya dapat bijak. Memang untuk itu kita harus mendalami kebijaksanaan, yang antara lain dapat kita temukan dalam sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka marilah kita rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, maaf kalau saya terkesan sombong, sebagaimana saya usahakan dan sebarluaskan setiap hari. Dengan kata lain jika kita mendambakan jadi orang bijak, marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan sabda Tuhan, sebagaimana para gembala kita, para uskup, juga mengambil motto dari sabda Tuhan dalam rangka menghayati panggilan dan melaksanakan tugas pengutusannya. Bukan banyaknya teks kitab suci yang kita baca dan kuasai, melainkan kedalaman penghayatan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, dan mungkin hanya satu atau dua kalimat singkat dari Kitab Suci. Kebijakan sejati memang terletak pada satunya omongan dan tindakan, wacana dan perilaku. Marilah kita berusaha melaksanakan apa yang kita katakana atau nasihatkan kepada orang lain.

‘Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan.Segala bangsa mengelilingi aku — demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Mereka mengelilingi aku, ya mengelilingi aku — demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Mereka mengelilingi aku seperti lebah, mereka menyala-nyala seperti api duri, — demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur.
 (Mzm 118:9-12)
Ign 20 Agustus 2012

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan filipi 4:2-9
  2. menghayati kehadiran tuhan dalam doa
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: