2 Juli – Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”

(Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13)

 

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardino Realino dkk, para imam Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi memang begitu menekankan peraturan sebagaimana tertulis dan kurang menghayati jiwa atau tujuan sejati dari peraturan. Hemat saya semua peraturan dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih dan bertujuan mewujudkan kasih juga, dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah kasih atau belas kasih bukan peraturan, formalitas, liturgy, dst.. Maka cukup menarik tanggapan Yesus atas kata-kata orang Farisi kepada para murid Yesus: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”.  Kita semua yang beriman pada Yesus Kristus, dan kiranya secara khusus para imam/pastor, dipanggil untuk menjadi saksi dan teladan belas kasihan dalam hidup, kerja dan pelayanan kita dimanapun dan kapanpun. Memang yang lebih membutuhkan belas kasihan adalah mereka yang sakit atau berdosa, maka pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak mereka yang berkarya bagi orang sakit, entah dokter, perawat dan petugas lainnya, untuk sungguh berbelas kasih kepada para pasien: melayani, merawat, memperlakukan para pasien dengan rendah hati, lemah lembut, penuh senyum, murah hati, dst…  Para imam atau pastor kami dambakan juga menjadi teladan dan saksi dalam hal belas kasihan kepada umat yang dipercayakan untuk dilayani atau digembalakan: salurkan kasih pengampunan kepada mereka yang berdosa atau bersalah.

·   “Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.” (Am 8:10-11).  Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. “Hikmat lebih berharga dari pada permata”, inilah yang selayaknya menjadi pedoman atau tuntunan cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Pertama-tama kami ingatkan para orangtua yang memiliki anak-anak: hendaknya pendidikan anak-anak lebih diutamakan daripada kebutuhan yang lain. Pengalaman menunjukkan ketika orangtua memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka berbahagia dan sejahtera masa depan anak-anak maupun orangtua sendiri. Wariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan bukan uang, emas, permata atau berlian. Kepada para pengambil kebijakan atau keputusan dalam hidup bersama, misalnya para anggota DPR dan  kepala daerah maupun presiden,  kami harapkan memberi anggaran yang memadai bagi program pendidikan anak-anak; tekankan lebih ke ‘spiritual dan human investment daripada material invesment’. Jangan bangga dengan bangunan gedung tinggi, ber-AC, dst.. sementara itu rakyatnya kurang terdidik, miskin dan amoral.  Permata, uang, harta benda, dst.. dapat hilang dan musnah dalam waktu sesaat, tetapi dididikan nilai, keutamaan dan budi pekerti hemat saya akan abadi sampai mati. Secara umum kami berharap agar anak-anak dan generasi muda sungguh memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman. Maka kami berharap kepada orangtua, orang dewasa serta yang berkuasa, untuk memberi kemungkinan dan kesempatan tersebut; tidak memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anak serta generasi muda berarti mau bunuh diri pelan-pelan alias masa depan suram.

 

“Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu

 (Mzm. 119:8-10)

     

Jakarta, 2 Juli 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.