19 Sept

Ia kerasukan setan”

(1Kor 12:31-13:13; Luk 7:31-35)
Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Ada orang suka sekali mengomentari apapun yang dilihat dan didengar, sebaliknya juga ada orang yang sungguh menutup dirinya alias tidak pernah memperhatikan sungguh-sungguh apa yang dilihat atau didengarnya (segala sesuatu lewat begitu saja). Baik yang suka mengomentari maupun menutup diri  adalah orang-orang yang tidak mau tumbuh berkembang pribadinya baik dalam hal intelektual, emosional, social maupun spiritual. Mereka dapat diumpamakan bagaikan ‘katak berada di dalam tempurung’. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk dengan rendah hati dan kesiap-siagaan menerima aneka macam informasi, ajaran maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan hidup kita. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk memiliki keterbukaan diri, antara lain dengan rendah hati mendengarkan aneka informasi serta melihat dengan cermat dan benar aneka peristiwa yang ada di lingkungan hidup kita; dan selanjutnya kami harapkan apa yang dilihat dan didengarkan direfleksikan dengan baik dan benar untuk mengambil  aneka hikmat yang terkandung di dalamnya serta kemudian dijadikan pegangan hidup. Tentu saja secara khusus kami harapkan kita sungguh mendengarkan dan mencecap dalam-dalam sabda Tuhan, entah itu ketika sedang dibacakan sabda Tuhan atau secara pribadi sedang membaca sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Ingatlah dan sadari bahwa kita masih berada di bulan Kitab Suci, dimana kita diajak untuk membacakan dan mendengarkan serta mencecap dalam-dalam sabda Tuhan.
·   Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” (1Kor 13:4-8), demikian refleksi iman Paulus perihal kasih. Apa yang dikatakan oleh Paulus, sebagaimana saya kutipkan di atas ini sungguh merupakan ajaran atau refleksi perihal kasih yang tiada duanya, dan sering juga dipilih oleh mereka yang akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan serta diharapkan menjadi pegangan hidup sebagai suami-isteri. Dan hemat saya kasih memang sangat kentara dan konkret dapat dihayati dalam pasangan suami-isteri yang saling mengasihi satu sama lain dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual sebagai wujud konkret saling mengasihi. Maka dengan ini kami mengharapkan para suami-isteri atau bapak-ibu sungguh dapat menjadi teladan dalam hal penghayatan kasih sebagaimana dikatakan Paulus di atas. Jika para orangtua dapat menjadi teladan bagi serta membiasakan atau mendidik anak-anaknya dalam hal kasih di atas, maka hidup bersama di dunia ini akan sungguh dalam keadaan damai sejahtera. Dari refleksi kasih yang dikatakan oleh Paulus di atas hemat saya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini adalah “tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”, yang secara konkret dapat kita hayati dengan menjunjung tinggi harkat martabat manusia serta tidak pernah melecehkan sesama manusia sekecil apapun.
Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.” (Mzm 33:2-5)
Ign 19 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.