19 Sept – Mg Biasa XXV : Am 8:4-7; 1Tim 2:1-8; Luk 16:1-13

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”

Mg Biasa XXV : Am 8:4-7; 1Tim 2:1-8; Luk 16:1-13

 

“Small is beautiful” = Kecil itu indah, demikian sebuah motto yang menjadi pedoman atau pegangan cukup banyak orang, khususnya mereka yang sukses dan terhormat dalam karya, usaha maupun jabatan atau fungsinya. Para pengusaha besar yang sukses, berjaya dan berhasil sampai kini hemat kami adalah orang-orang yang mulai dengan usaha-usaha kecil dan sederhana. Berkat atau karena ketekunan, kesungguhan, keuletan serta kasihnya terhadap hal-hal atau perkara-perkara kecil, yang seiring dengan perjalanan waktu perkara yang diurus atau dikelola semakin besar, mereka tetap tegar dan bahagia mengurus atau mengelola perkara-perkara besar. Sebagai pengusaha atau pimpinan usaha yang sukses perhatian mereka terhadap yang kecil juga menjadi nyata dengan memperhatikan para pegawai atau pekerja kecil/rendah di perusahaan atau kantor mereka, misalnya para satpam, petugas kebersihan, pengemudi, pramuria dst.. Pemimpin Negara yang sukses alias sungguh melayani rakyat, berjuang dan berkorban demi rakyat dalam jabatan atau fungsinya, para umumnya juga berasal dari kalangan rakyat kecil, atau ketika masa kecil mereka telah terbiasa setia para perkara-perkara kecil dalam hidup sehari-hari mereka. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk sungguh berrefleksi serta menghayati sabda Yesus yang diwartakan pada hari ini.

 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar   Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk 16:10)

 

Apa yang sungguh kita butuhkan dalam kebutuhan hidup sehari-hari kita maupun kita kerjakan sebenarnya perkara-perkara atau hal-hal kecil dan sederhana, misalnya makan dan minum, berbicara dalam aneka pertemuan atau perjumpaan, tidur/istirahat alias meletakkan tubuh kita di tempat yang telah tersedia apa adanya, berjalan, dst.. ..Aneka macam peralatan elektronik yang canggih pada saat ini juga kecil. Perkara-perkara atau hal-hal kecil macam apa saja yang selayaknya dengan setia kita urus atau kelola? Perkenankan di sini saya mengajukan beberapa contoh, semoga membantu untuk berrefleksi:

1)      Anak kecil/bayi. Merawat atau mengurus anak kecil atau bayi memang tidak mudah, membutuhkan kasih pengorbanan, dedikasi, kesabaran, kelemah-lembutan, kerendahan hati dst… Maka tidak mengherankan ketika kami mendengar info bahwa ada ibu-ibu/keluarga muda dengan mudah menitipkan anak/bayinya kepada neneknya/baby-sitter-nya, entah karena demi karier atau karena malas, tak mau repot-repot. Dengan mudah bayi sampai usia balita perawatannya diserahkan kepada baby-sitter atau nenek. Memang bayi sampai usia balita masih dengan mudah ikut siapa saja, asal merasa dikasihi. Para ibu/orangtua yang dengan mudah meninggalkan bayinya sampai usia balita hemat saya akan menghadapi tantangan atau kesulitan besar ketika anak-anak mulai tumbuh sebagai remaja dalam mendidik atau mendampingi anak-anak. Maka dengan ini kami berharap kepada para ibu/orangtua muda untuk membiasakan setia merawat anak-anaknya sendiri sampai usia balita. Kesetiaan anda merawat anak-anak sampai usia balita akan menjadi dasar dan modal untuk mendampingi mereka atau sesama yang menghadapi masalah dan tantangan berat dalam kehidupan.           

2)      Tugas/pekerjaan kecil/sederhana. Tugas atau pekerjaan kecil dan sederhana pada umumnya dilakukan oleh para pembantu rumah tangga/perkantoran, sedangkan di dalam keluarga-keluarga pada umumnya dilakukan oleh para ibu rumah tangga. Tugas atau pekerjaan itu misalnya: menyapu, mengepel, membuka dan menutup pintu, mengatur tempat tidur, mencuci pakaian, dst.. Kami berharap tidak hanya para pembantu atau ibu rumah tangga saja yang melakukan tugas atau pekerjaan kecil dan sederhana tersebut, melainkan kita semua, tanpa pandang bulu, hendaknya terbiasa juga melakukan tugas atau pekerjaan kecil dan sederhana. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya sedini mungkin dilatih dan dibiasakan melakukan tugas atau pekerjaan kecil dan sederhana tersebut, antara lain dengan teladan konkret dari para orangtua/bapak-ibu. Jika kita setia dan sukses mengurus atau mengelola tugas atau pekerjaan kecil dan sederhana, yang kelihatan tersebut, kiranya kita akan memperoleh kemudahan untuk mengurus dan memperhatikan yang spiritual, seperti nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan. 

3)      Sesama yang kecil, miskin dan berkekurangan. Memperhatikan saudara-saudari kita yang kecil, miskin dan berkekurangan sungguh membutuhkan kasih dan pengorbanan. Secara material mungkin kita akan membantu mereka, entah dengan harta benda atau uang, namun secara spiritual sebenarnya kita dapat belajar dari mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan. Pengalaman dari putera-puteri dari beberapa sekolah katolik di Jakarta, yang mengadakan ‘live in’ di daerah miskin di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah memperlihatkan dan membenarkan hal tersebut. Dari keluarga kecil, miskin dan berkekurangan maupun anak-anak/remaja miskin dan berkekurangan mereka dapat belajar nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan yang tidak mereka temukan di Jakarta, baik di dalam keluarga mereka maupun masyarakat. Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan itu misalnya: keuletan, kerja keras, ketahanan, syukur dan terima kasih, dst.. Sebenarnya di kota besar pun kita dapat melakukan hal itu, misalnya: silahkan berjalan kaki minimal dalam radius satu atau dua kilometer dari rumah atau kantor/tempat tugas anda, dan selama dalam perjalanan lihat apa yang ada di pinggir jalan dst.., secara khusus mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul — yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta — dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan” (1Tim 2:5-8)  

      

Pesan Paulus kepada Timoteus, sebagaimana saya kutipkan di atas ini, rasanya lebih terarah kepada rekan laki-laki, yang diajak untuk ‘berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan’.  Maklum pada umumnya kaum laki-laki malas berdoa, antara lain nampak dalam kegiatan doa bersama di lingkungan-lingkungan, yang mayoritas dihadiri oleh rekan perempuan. Berdoa berarti berwawancara atau berkomunikasi dengan Tuhan, dan karena Tuhan maha segalanya, maka mau tak mau berada di hadirat Tuhan kita akan bersembah-sujud dengan rendah hati seraya membuka diri terhadap sapaan dan sentuhanNya. Cukup menarik dan mengesan peringatan Paulus bahwa selama berdoa hendaknya tidak dalam keadaan marah atau berselisih. Maka jika anda masih dalam keadaan marah atau berselisih ketika akan berdoa kami harapkan untuk berdamai lebih dahulu dengan mereka yang menimbulkan kemarahan atau perselisihan. Pesan ini juga mengingatkan bahwa buah doa adalah persahabatan dan perdamaian, bukan kemarahan dan perselisihan. Berdamai dan bersahabat dengan Tuhan berarti berdamai dan bersahabat dengan sesama atau saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi kami ajak dan ingatkan rekan-rekan laki-laki: “Marilah kita berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”  setiap hari dalam kesibukan dan pelayanan kita. Kita awali dan akhiri kesibukan dan pelayanan kita dengan berdoa.

 

“Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya” (Mzm 115:4-8)

 

Jakarta, 19 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: