19 Maret – HR ST YUSUF SUAMI SP MARIA: 2Sam 7:4-5a,12-14a, 16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

“Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum”

HR ST YUSUF SUAMI SP MARIA:  2Sam 7:4-5a,12-14a, 16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

 

Sebut saja namanya “Roy” (nama samaran). Ia adalah seorang manajer muda yang cukup terkenal dan terhormat di tempat kerjanya, karena kesuksesan dalam tugas pekerjaannya. Ia sudah berkeluarga sejak lima tahun lalu, isterinya cukup cantik dan dianugerahi anak satu. Masa balita, entah balita anak-anak, balita suami-isteri, balita imam, bruder atau suster, balita pekerja, dst..adalah masa yang cukup rawan. Meskipun Roy memiliki isteri yang cukup cantik, ternyata sang isteri dirasakan kurang memuaskan baginya, lebih-lebih dalam hal pelayanan maupun urusan tempat tidur atau hubungan seksual. Hal itu cukup menyiksa dirinya: mau terus terang kepada isterinya tidak berani. Kebetulan di kantor, tempat kerja ia memiliki seorang sekretaris yang cukup cantik pula, ramah, cekatan dan ceria dalam membantu kerjanya atau melayaninya. Ia pun ketika diajak omong-omong juga dirasa enak dan nikmat adanya. Maka dari terbiasa omong-omong enak dengan sekretaris pribadinya, yang tidak hanya berbicara masalah pekerjaan saja, tetapi juga sana-sini, akhirnya pada suatu saat Roy curhat kepada sekretarisnya perihal relasi pribadi dengan isterinya yang tak membahagiakan.Ia menceriterakan kekurangan dan kelemahan pelayanan isterinya, termasuk urusan tempat tidur, dan dengan penuh hormat sang sekretaris mendengarkannya. Dampak berikutnya dapat diduga, yaitu Roy jatuh cinta kepada sang sekretaris, yang dirasa dapat mengobatinya ketidak-puasannya dan akhirnya mereka terjebak ke dalam huhungan seks  di ruang kerja Roy, tidak hanya sekali melainkan terjadi berkali-kali. Tak lama kemudian sang sekretaris pun hamil dan atas desakan Roy ia diminta untuk menggugurkan. Pendek kata sang sekretaris akhirnya menjadi ‘wanita simpanan’nya, yang membantu tugas pekerjaan di kantor maupun urusan tempat tidur. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, demikian kata sebuah pepatah. Perselingkuhan Roy terbongkar, dan kemudian sang isteri minta diceraikan, serta Roy bersama dengan sekretarisnya pun dipecat dari tugas pekerjaannya alias kemudian harus menganggur. Musibah di atas terjadi karena suami ‘mencemarkan  nama isterinya di muka umum’.  Maka baiklah pada pesta St.Yusuf, suami SP Maria, hari ini kami mengingatkan dan mengajak para suami untuk setia pada janji perkawinannya, dan marilah meneladan St.Yusuf.

 

Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Mat 1:19)     

 

Mencemarkan nama baik orang lain”  dilakukan oleh banyak orang, antara lain dengan ‘ngrumpi/ ngrasani’ atau secara terselubung terjadi diproses pengadilan maupun kampanye pemilu. Orang ngrumpi atau ngrasani pada umumnya membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, sehingga kelemahan dan kekurangan orang yang dirasani diperbesar. Hemat saya entah laki-laki atau perempuan sama saja: laki-laki sekali menjelekkan orang lain dengan berteriak keras sehingga didengarkan banyak orang, sedangkan perempuan dengan diam-diam namun telaten dan tak henti-henti. Dalam relasi antar suami-isteri yang kemudian bercerai atau menikah lagi pada umumnya sang suami lebih dominan sebagai penyebab perceraian atau dorongan untuk menikah lagi alias beristeri lebih dari satu. Maka kami berseru kepada para suami untuk meneladan St.Yusuf, “yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum’.

 

Baiklah kami mengajak para suami untuk memuji isterinya, sebagaimana digambarkan dalam Kidung Agung ini: “Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada. Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu. Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya. Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung. Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, aku ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu.” (Kid 4:1-7)     

 

Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.  Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, — seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm 4:13.16-17)

 

Para suami atau rekan-rekan laki-laki kami harapkan meneladan iman Abraham, bapa umat beriman: hidup dan bertindak berdasarkan iman. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dan secara konkret juga mempersembahkan diri seutuhnya kepada sesama manusia, terutama atau lebih-lebih kepada mereka yang hidup bersama setiap hari. Bagi para suami hal ini berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada isteri masing-masing, sebagaimana secara konkret antara lain terjadi dalam hubungan seksual. Masing-masing, baik suami maupun isteri, terbuka satu sama lain alias telanjang bulat, tiada sedikitpun yang ditutup-tutupi atau dirahasiakan. Pemberian diri sang suami kepada sang isteri antara lain terjadi ketika sang suami berejakulasi, memberi benih kehidupan kepada sang isteri dan dengan rendah hati sang isterinya menerimanya.

 

Memberi benih kehidupan” itulah yang hendaknya senantiasa dilakukan oleh sang suami terhadap isterinya, artinya cara hidup dan cara bertindak atau segala sepak terjang atau perilaku suami senantiasa menggairahkan, menarik dan mempesona isteri, sehingga sang isteri pun dalam hati dan mungkin dengan kata-kata berseru sebagaimana digambarkan dalam Kidung Agung ini;” Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu! Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu! Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga. Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu” (Kid 1:2-7)   

 

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

 

Jakarta, 19 Maret 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.