19 feb – Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15

“Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa

(Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15)

 

“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”(Mat 9:14-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pesta perkawinan pada umumnya diselenggarakan dengan meriah dan penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Sang mempelai berpakaian sedemikian rupa sehingga mempesona dan menarik, para tamu undangan pun juga berpakaian begitu menarik dan mempesona. Pendek kata semuanya berusaha menghadirkan diri sesempurna mungkin, cemerlang dan bersih. Memang keindahan, kebersihan, keelokan bagian luar tersebut belum tentu mencerminkan apa yang ada di dalam hati masing-masing, dan mungkin setelah pesta selesai tidak saling menarik dan mempesona lagi. Sabda Yesus perihal puasa dengan perumpamaan ‘mempelai’ pada hari ini mengingatkan kita semua untuk dengan jujur mawas diri: apakah hati saya sungguh bersatu dengan Tuhan, Yang Ilahi, hati saya cemerlang, tanpa noda, tanpa cacat atau kerut apapun? Dengan jujur dan rendah hati kitanya kita semua menyadari dan mengakui bahwa kita memang tidak selalu bersama dan bersatu dengan Tuhan alias berbudi pekerti luhur atau bermoral baik, maka untuk itu kita masih butuh berpuasa. Sang Mempelai atau Tuhan tidak pernah diambil dari kita, melainkan kita lah yang telah menolak kehadiranNya dan tidak bersedia bersamaNya, meneladan cara hidup Yesus serta melaksanakan sabda-sabdaNya. Hari ini kebetulan hari Jum’at , yang secara  yuridis sebagai hari pantang (dan kiranya di antara kita juga ada yang menjadikannya hari puasa), maka baiklah pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Yesus di atas kita tanggapi dengan berpuasa dan berpantang. Kita mungkin juga masih bersikap mental orang Farisi, hidup sarat dengan sandiwara dan manipulasi.

·   “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri“(Yes 58:6-7). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Memperbaiki cara hidup dan perilaku atau cara bertindak kita serta solider kepada mereka yang miskin dan  berkekurangan, itulah yang sebaiknya kita lakukan di masa Prapaskah ini. Sebaiknya kita tidak tergerak untuk ‘membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk orang lain, atau memerdekakan orang yang teraniaya’, melainkan pertama-tama dan terutama marilah kita melihat diri kita masing-masing, jangan-jangan saya sendiri masih terbelengguh, terikat oleh macam-amcam nafsu tak terakhir dan teraniaya oleh cara hidup dan cara bertindak kita yang kurang bermoral. Marilah kita usahakan kebebasan pribadi kita masing-masing, sehingga kita sungguh menjadi yang bebas merdeka secara  phisik maupun spiritual. Jika kita dalam keadaan bebas merdeka, maka kita dengan lepas bebas juga melakukan sesuatu bagi orang lain, antara lain solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Masih cukup banyak saudara-saudari kita yang mengalami kekurangan dalam hal makan dan minum, sehingga yang bersangkutan kurang gizi dan sakit-sakitan, maka kami berharap kita siap sedia dan berjiwa besar “memecah-mecah roti kita bagi orang yang lapar”. Kita diingatkan juga agar “tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri”, ajakan untuk membangun dan memperdalam persaudaraan sejati dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun, sehingga tidak ada lagi orang yang lapar, tak punya rumah, telanjang, miskin, dst..

 

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mzm 51:3-5)

 

Jakarta, 19 Februari 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.