18 Sept – 1Kor 15:35-37.42-49; Luk 8:4-15

“Berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan”

(1Kor 15:35-37.42-49; Luk 8:4-15)

 

“Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti” (Luk 8:4-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai seorang guru hemat saya Yesus adalah Guru yang baik. Ia mengajar dengan sederhana, antara lain dengan perumpamaan-perumpamaan yang sebenarnya terjadi di dalam hidup sehari-hari. Dalam pengajaran hari ini Ia mengumpamakan Kerajaan Allah atau Allah yang meraja dengan penabur benih. Sang Penabur menaburkan benih yang baik, ajaran, nasehat, tuntunan yang baik, namun perwujudan atau pelaksanaan ajaran tersebut tergantung dari para pendengarNya. Mereka yang dapat mendengarkan dengan baik, bukan mendengar, (to listen bukan to hear) , karena mendengarkan dengan baik berarti dengan rendah hati membuka diri, yang dijiwai pengorbanan dan kesiap-sediaan untuk berubah maupun dirubah. Entah sudah berapa kali masing-masing dari kita telah mendengar atau mendengarkan ajaran dari Tuhan melalui aneka macam cara seperti kotbah, pembacaan kitab suci, katekese, dst..,  kiranya tidak ada seorangpun di antara kita yang sempat mencatat. Pertanyaan refleksi bagi kita semua: sejauh mana saya dipengaruhi, dibina, dididik dan dirubah oleh apa yang kita dengarkan. Kita semua dipanggil untuk menjadi pendengar-pendengar sabda Tuhan yang baik, entah kita dengarkan melalui pembacaan kitab suci, kotbah dst.. Marilah kita hayati tanggapan kita setelah pembacaan Injil, yang berbunyi “Tanamkanlah sabdaMu ya Tuhan dalam hati kami”. Jika sabda Tuhan sungguh tertanam di dalam hati, kami percaya pasti akan mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah yang baik, yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa.

·   Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi” (1Kor 15:47-49). Apa yang dikatakan oleh Paulus ini kiranya dipengaruhi oleh dualisme, jasmani/alamiah dan sorgawi. Dualisme macam ini kiranya untuk masa kini telah ditinggalkan. Yang benar adalah apa yang sorgawi, rohani atau spiritual menjiwai apa yang alamiah atau jasmani, sehingga kita sebagai manusia hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh serta hina dina ini. Kita mengusahakan kesucian hidup dengan membumi, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi, hal-ihwal duniawi, semakin membumi diharapkan semakin suci, itulah kebenaran ilahi. Segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini merupakan bantuan dari Tuhan sebagai sarana untuk semakin hidup dan bertindak dalam kasih dan karunia Tuhan. Dengan kata lain semakin kaya, semakin tambah usia, semakin pandai/cerdas, semakin banyak sahabat dan kenalan, semakin berkedudukan, dst… hendaknya semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Kita adalah tanah atau lahan yang subur, maka ditaburi jenis benih apapun akan tumbuh berkembang dan menghasilkan buah yang diharapkan atau didambakan. Marilah kita jaga atau rawat kesuburan tanah kita, antara lain dengan berdoa dan senantiasa berusaha berbuat baik kepada sesama. Semakin kita berbuat baik dan berdoa berarti kita semakin terbuka dan siap sedia untuk terus tumbuh berkembang sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

“Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu. Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan

 (Mzm 56:10-14)

Jakarta, 18 September 2010

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: