18 Juni – 2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23

“Di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada”

(2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23)

 

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Perwujudan perhatian atau cintakasih yang utama hemat saya adalah ‘pemborosan waktu dan tenaga’ bagi yang diperhatikan atau dicintai. ‘Pemborosan waktu dan tenaga’ tersebut merupakan perwujudan apa yang ada di dalam hati seseorang. Apa yang menjadi perhatian utama kita setiap hari, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita? Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan memanggil kita semua untuk ‘memperhatikan harta di sorga’ alias nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa. Memang apa yang harus kita kerjakan atau lakukan setiap adalah hal-ihwal atau seluk-beluk duniawi, maka baiklah kita dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu  senantiasa berusaha untuk menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. “Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau segala sesuatu di dalam Tuhan”, itulah motto atau pedoman hidup yang harus kita hayati setiap hari. Untuk menghayati motto atau pedoman ini antara lain kita menempatkan atau memfungsikan aneka macam jenis harta benda, pekerjaan, kesempatan dst.. sebagai sarana untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, maka sebagaimana dinasehatkan oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani: hendaknya ketika harta benda mengganggu dalam mengusahakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa disingkirkan, dihindari atau dibuang saja. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua untuk menjaga kesucian anggota-anggota ttubuh kita masing-masing, maka baiklah kita saling menjaga dan mengingatkan. Kami juga mengingatkan dan mengajak kita semua perihal pendidikan anak-anak: hendaknya anak-anak dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun guru/pendidik.

·   “Mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ.” (2Raj 11:16), demikian berita akhir hidup Atalya, yang telah membunuh keturunan saja di istana raja.  Perhatiannya terarah untuk membunuh atau membinasakan orang lain, dan akhirnya menjadi ‘senjata makan tuan’, dimana ia sendiri menjadi korban perhatiannya. Apa yang dilakukan dan dialami oleh Atalya ini kiranya baik menjadi bahan refleksi atau permenungan kita semua, lebih-lebih bagi mereka yang masih suka atau sering menghabisi, membenci, melecehkan, memeras, menindas orang lain. Kepada mereka ini kami ingatkan bahwa pada suatu saat anda sendiri akan menjadi korban yang mengerikan jika anda tidak bertobat pada saat ini.  Ingatlah bahwa ketika anda membenci atau melecehkan orang lain berarti pada saat itu tambah musuh, meskipun  yang anda benci atau lecehkan tidak memusuhi anda. Hendaknya juga diingat dan disadari bahwa ketika kita membenci orang lain berarti memboroskan waktu dan tenaga tiada guna, dan untuk itu butuh energi atau tenaga besar. Saya memperoleh info dari beberapa orang perihal mereka yang suka membunuh dan merusak di negeri ini, bahwa mereka akhirnya meninggal dunia dengan tidak wajar; dan mungkin dalam bahasa rakyat berarti mereka kena ‘hukum karma’. Atalya melakukan pembunuhan sebagai balas dendam atas anaknya yang telah dibunuh, dan memang balas dendamnya lebih besar dan mengerikan, begitulah orang yang telah gelap mata maupun hati. Atalya kiranya ingin menjadi raja dengan membunuh anak-anak raja, namun ada seorang anak raja yang selamat yaitu Yoyada, yang akhirnya menjadi raja yang berpihak pada rakyat dan Tuhan. Kami berharap kepada para pemimpin, raja, tokoh masyarakat untuk berpihak pada rakyat dan Tuhan: boroskan waktu dan tenaga anda demi kebahagiaan dan keselamatan rakyat.

 

“TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: "Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu." Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.”

(Mzm 132:11-14)

    

Jakarta, 18 Juni 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.