18 Agustus

“Bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?”
(Hak 11:29-39a; Mat 22:1-14)

 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."(Mat 22:2-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Menghadiri pesta pernikahan pada umumnya orang berusaha seoptimal mungkin menghias diri agar tampak cantik atau tampan, sehingga mempesona dan menarik bagi siapapun yang melihatnya. Perumpaaan pesta pernikahan sebagaimana disampaikan oleh Yesus adalah tentang Kerajaan Allah, maka siapapun yang hadir di dalam “Kerajaan Allah” harus layak alias suci dan bersih hati, jiwa, akal budi dan tubuhnya. Maka benarlah sebagaimana dikatakan dalam perumpamaan bahwa banyak yang diundang namun hanya sedikit yang layak, karena untuk hidup suci  dan bersih rasanya sungguh berat, sarat dengan aneka tantangan, masalah dan hambatan. Namun demikian kami mengajak segenap umat beriman untuk mengusahakan hidup suci dan bersih: hati, jiwa, akal budi maupun tubuh, dengan kata lain senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur serta tidak pernah menyakiti orang lain sedikitpun jika tidak perlu. Hal ini kiranya pertama-tama dan terutama diusahakan di dalam keluarga sebagai komunitas dasar dalam hidup beriman maupun bermasyarakat: orangtua menjadi teladan hidup baik dan suci bagi anak-anaknya. Saya percaya jika semua keluarga demikian adanya maka kehidupan bersama yang lebih luas akan baik adanya dan dengan demikian  semua orang layak masuk ke dalam ‘Kerajaan Allah’ alias dirajai oleh Allah dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan
kapanpun.
•       "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.”(Hak 11:35), demikian kata Yefta kepada anaknya. Yefta telah bernazar atau berjanji kepada Tuhan bahwa jika ia dapat mengalahkan musuhnya, maka orang pertama yang keluar dari pintu rumah untuk menemuinya akan dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban persembahan. Ternyata yang menemui dia adalah anak kesayanganya, maka ia merasa hancur hatinya. Anak tersayang dan terkasih harus dipersembahkan kepada Tuhan. Saya kira hal ini wajar dan baik: mempersembahkan kepada Tuhan harus apa yang terbaik. Ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai saat ini adalah anugerah Tuhan. Maka kami berharap kepada  para orangtua untuk tidak pelit mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan, artinya anak-anak dididik dan dibina sedemikian rupa sehingga tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman alias berbudi pekerti luhur. Dan sekiranya pada suatu saat ada anak, yang terbaik, tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster hendaknya disyukuri, bukan dilarang atau ‘digonteli’. Gereja dan bangsa kita butuh orang-orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur untuk membangun dan memperdalam kehidupan bersama yang damai dan sejahtera. Maka masih dalam rangka mengenangkan hari Kemerdekaan Negara kita kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk memberikan apa yang baik ke dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun, agar cita-cita atau dambaan hidup  damai sejahtera, aman sentosa, adil-makmur segera menjadi nyata.
“Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN;karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm 16:5.7-8)

Ign 18 Agustus 2011

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.