17Mei

"Ikutlah Aku."
(Kis 25:13-21; Yoh 21:15-19)
” Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak
Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?"
Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku
mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah
domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya:
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus
kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."
Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus
kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau
mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk
ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata
kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku
mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah
domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih
muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana
saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan
mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa
engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya
untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.
Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."
(Yoh 21:15-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Kebiasaan saling mentraktir makan enak bersama sering dilakukan oleh
orang-orang yang saling mengasihi maupun oleh mereka yang bermaksud
jahat, karena orang yang ditraktir pada umumnya pasti akan mengikuti
keinginan atau ajakan dari yang mentraktir. Dalam Warta Gembira hari
ini dikisahkan Yesus mengajak sarapan atau  makan pagi bersama para
rasul. Selesai sarapan Yesus bertanya kepada Petrus sampai tiga kali
“Apakah engkau mengasihi Aku”. Kami percaya jika anda ditraktir makan
bersama orang lain anda pasti juga akan dengan mudah mengikuti
keinginan atau kehendak orang yang mentraktir anda. Petrus oleh Yesus
akhirnya dikehendaki  atau ditugaskan olehNya untuk ‘menggemba-lakan
domba-dombaNya’ serta mengikuti Yesus dengan setia. Sebagai orang yang
beriman kepada Yesus Kristus kita juga telah menerima makanan berupa
‘TubuhNya’ sendiri, yaitu ketika menerima komuni kudus dalam Perayaan
Ekaristi. Maka kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk saling
menggembalakan, yang berarti mengusahakan agar orang lain senantiasa
tidak pernah berkekurangan untuk hidup damai dan sejahtera, selamat
dan bahagia, tentu saja pertama-tama dan terutama adalah keselamatan
jiwa manusia. Sabda Yesus kepada Petrus secara khusus kiranya bagi
mereka yang bertugas memimpin di tingkat apapun: hendaknya dengan
rendah hati mendengarkan suka-duka yang dipimpin serta kemudian kita
tanggapi dengan rendah hati dan kerja keras. Dengan kata lain para
pemimpin kami harapkan menghayati tugas dengan semangat kepemimpinan
partisipatif. Dalam bahasa lain lebih bermotto “bottom up”, bukan “top
down”. Kita semua hendaknya juga berusaha menghayati keutamaan
ketaatan, yang berarti senantiasa berusaha taat kepada kehendak Allah.
•        “Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan
menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku
menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar."
(Kis 25:21), demikian laporan Agripa kepada sang Raja Festus perihal
Paulus. Memang perihal kebangkitan Yesus dari mati menjadi
pertengkaran hemat di antara tokoh-tokoh Yahudi, sehingga menjadi
masalah besar di antara mereka. Dengan kata lain apa yang terjadi di
sidang pengadilan sungguh merupakan pemborosan waktu dan tenaga serta
dana. Rasanya hal yang demikian itu juga masih terjadi pada masa ini,
karena memang orang tidak berusaha mempercayai kebenaran, melainkan
menjadikan kesibukan pengadilan untuk mencari keuntungan pribadi.
Begitulah yang terjadi dalam diri ahli hukum pada umumnya:
mencoba-coba cari perkara agar  memperoleh pekerjaan dan imbal jasa,
padahal apa yang diperkarakan jelas tak mungkin dapat diselesaikan di
pengadilan, melainkan hanya dapat diimani. Iman memang hanya dapat
disharingkan atau dibagikan sebagai pengalaman, dan tak mungkin dapat
difahami atau dimengerti dengan jelas oleh otak kita yang terbatas
ini. Begitulah juga yang terjadi perihal Seminari, dimana cukup banyak
orang melihat Seminari hanya sebagai sekolah berasrama yang baik dan
tidak tahu bahwa Seminari adalah tempat pendidikan generasi muda yang
memiliki keterarahan diri untuk menjadi imam. Memang sulit difahami
oleh kebanyakan orang masa kini: bagaimana mungkin di  masa orang
mengagung-agungkan kenikmatan seksual alias relasi tubuh antar
suami-isteri ada orang yang menyatakan diri hidup wadat, tidak menikah
untuk selamanya demi Kerajaan Allah. Hal ini hanya dapat diimani.
“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah
perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya,
bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang
ajaib!” (Mzm 105:1-2)
Ign 17 Mei 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.