17 Sept

“Keluarkanlah dahulu balok dari matamu”
(1Kor 11:17-26; Luk 7:1-10)

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?” (Luk 7:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Memang pada umumnya orang lebih senang dan mudah melihat kekurangan dan kelemahan orang lain daripada kelemahan dan kekurangannya sendiri. Namun demikian tidak apa-apa asal dapat melihat dengan benar dan tajam serta kemudian menjadikan kelemahan dan kekurangan orang lain tidak untuk disebarluaskan, melainkan dijadikan bahan mawas diri serta pembelajaran. Dengan kata lain jadikanlah kegagalan sebagai kesempatan untuk menyadari dan menghayati bahwa kita adalah manusia yang lemah dan rapuh, sehingga jika ada sesuatu yang baik di dalam diri kita sungguh merupakan karya Tuhan dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Memang agar kita dapat melihat kelemahan dan kekurangan dengan baik dan benar butuh kejernihan dan ketulusan hati kita, maka apa-apa yang membuat hati kita tidak jernih dan tidak tulus hendaknya disingkirkan atau dibuang. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”, demikian sabda Yesus. “Aku ini adalah orang berdosa yang dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya”, itulah kebenaran iman. Marilah kita sadari dan hayati rahmat dan anugerah Tuhan yang melimpah ruah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, dan dengan rahmat Tuhan kita tolong saudara-saudari kita membebaskan diri dari aneka macam belenggu dosa. Dengan kata lain kita dipanggil untuk bermurah hati kepada saudara-saudari kita dimana pun dan kapan pun tanpa pandang bulu.

·   Apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:23-25). Paulus mengingatkan kita semua akan makna setiap kali kita berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, dimana kita menerima Tubuh Kristus, komuni kudus. Kita sama-sama menerima Tubuh yang sama, maka kita dipanggil untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Hendaknya dijauhkan aneka bentuk permusuhan dan perpecahan. Untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati pertama-tama dan terutama adalah berusaha dengan sepenuhnya apa yang sama di antara kita, misalnya sama-sama manusia ciptaan Allah, sama-sama beriman dst.. Sekali lagi saya angkat bahwa jika kita mampu menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal, maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan. Jadikanlah apa yang berbeda antar kita sebagai wahana pembelajaran, dengan kata lain marilah kita saling belajar satu sama lain, karena masing-masing dari kita memiliki bakat dan keterampilan yang berbeda. Marilah kita tingkatkan dan perdalam terus-menerus sikap mental belajar: hidup maupun bekerja merupakan kesempatan untuk belajar. Kita juga dapat belajar dari pengalaman kita masing-masing maupun dari orang lain, dan juga belajar melalui atau dari aneka macam peristiwa yang terjadi di lingkungan hidup maupun kerja kita.

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku;aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Mzm 40:7-9)
Ign 17 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.