17 Juli – Mi 2:1-5; Mat 12:14-21

“Orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Dia”

(Mi 2:1-5; Mat 12:14-21)

 

“Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap." (Mat 12:14-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena Yesus mengadakan banyak mujizat yang menguntungkan dan membahagiakan rakyat, maka mayoritas rakyat cenderung mengikuti Yesus serta meninggalkan orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi merasa tersaing dan tersingkir, maka mereka bersekongkol untuk menyingkirkan atau membunuh Yesus. Pejabat tingggi yang gila kuasa, kedudukan dan kehormatan duniawi pada umumnya ketika kurang memperoleh pengikut lalu bertindak licik dengan aneka cara untuk membungkam saingannya, pendek kata penguasa atau petinggi merasa terganggu oleh tokoh-tokoh baru yang berpengaruh maka dengan berbagai cara mereka akan membungkan tokoh-tokoh baru tersebut. Namun tokoh sejati yang hidup dan berjuang demi kepentingan umum tak akan takut dan gentar menghadapi aneka tekanan dan ancaman dari para penguasa atau pejabat, melainkan dengan tenang dan sabar mereka menanggapinya, dengan kesiap-sediaan atas apapun yang akan terjadi pada dirinya. Mereka akan bersikap seperti Yesus, sebagaimana diramalkan oleh nabi Yesaya, yaitu “tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak”. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua umat beriman untuk setia pada penghayatan iman dalam hidup sehari-hari tanpa takut dan gentar; dengan kata lain hidup jujur, baik, tidak korupsi serta berjuang demi kepentingan rakyat banyak, terutama bagi mereka yang miskin, berkekurangan dan tersingkir. Percayalah bahwa jika kita bersama dan bersatu dengan rakyat  pasti akan berhasil dalam perjuangan. Kepada para pejabat kami ingatkan juga untuk senantiasa berpihak pada rakyat, karena kesejahteraan hidup anda tergantung dari rakyat (gaji dan segala fasilitas yang anda gunakan berasal dari rakyat).


·   Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar” (Mi 2:1), demikian pesan nabi Micha. Tempat tidur memang tempat untuk menikmati aneka macam keinginan, impian, harapan atau cita-cita, misalnya suami-isteri saling memadu cinta dengan penuh mesra, kita beristirahat tidur seenaknya sampai bangun sendiri dst… Tetapi tempat tidur juga dapat menjadi tempat berbuat jahat atau merancangkan kejahatan. Tempat tidur sebagai tempat berbuat jahat, misalnya tempat tidur di panti-panti pijat, losmen/tempat penginapan yang sembunyi-sembunyi untuk pelacuran, dst.. Banyak hal yang akan dilakukan di pagi hari setelah bangun dari tidur memang sering dipikirkan atau dibicarakan bersama di tempat tidur, menjelang tertidur lelap. Mereka yang memfungsikan tempat tidur untuk memikirkan, merencanakan dan melakukan aneka kejahatan pasti akan celaka dan menderita selamanya. Para isteri sering merayu dan merengek pada suaminya dalam menyampaikan keinginan atau kerinduannya ketika sedang di tempat tidur bersama, dengan bisikan-bisikan mesra, dan kebanyakan suami takluk pada rayuan sang isteri, meskipun untuk itu mereka harus berbuat jahat, misalnya korupsi atau menyalah-gunakan kekuasaan, jabatan atau fungsi. Kami berharap tempat tidur menjadi tempat penyegaran iman, pribadi, dan tubuh, sehingga di pagi hari dengan penuh gairah berhasrat untuk menghayati iman sambil berdoa “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Rat 3:22-23). Tuhan setia mendampingi istirahat kita sehingga kita bangun dengan selamat, segar dan sejahtera, maka baiklah kita hayati anugerah kesetiaan Tuhan tersebut dengan hidup setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: setia pada iman, setia pada aneka janji yang pernah kita ikrarkan, dst.. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof  Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24).

 

“Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan? Karena congkak orang fasik giat memburu orang yang tertindas; mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancangkan. Karena orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista TUHAN” (Mzm 10:1-3).

Jakarta, 17 Juli 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.