16Maret

“Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"

(Yer 11:18-20; Yoh 7:40-53)

“Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya” (Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin Yesus membuka DiriNya semakin menimbulkan pertentangan, dan ternyata di antara orang-orang Farisi dan ahli Taurat juga muncul perselisihan, dimana muncul “Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepadaNya”. Para penjaga, utusan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang diberi tugas untuk mengamat-amati dan menangkap Yesus pun akhirnya terkesan kepadaNya dengan berkata :”Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Nikodemus sendiri mengingatkanb bahwa untuk mengadili dan menghukum orang menurut Taurat orang yang bersangkutan harus didengarkan lebih dahulu, dengan kata lain perlu penelitian atau ‘diagnose’ yang memadai. Sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tergesa-gesa mengadili dan menghukum orang tanpa penelitian yang memadai ini kiranya sering terjadi juga di antara para dokter dalam mengambil keputusan untuk mengoperasi pasien atau menentukan penyakit seseorang, demikian juga secara sandiwara terjadi di proses pengadilan kita. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan kita semua pentingnya penelitian atau diagnose yang memadai sebelum menentukan kebijakan atau langkah strategis. Memang bangsa kita kurang menghargai pentingnya penelitian atau diagnose, sehingga senantiasa boleh dikatakan ketinggalan zaman, sebagaimana terjadi dalam pendidikan. Sejak dahulu ganti Menteri Pendidikan senantiasa ganti kebijakan atau kurikulum, yang konon merupakan pembaharuan yang dibutuhkan, padahal kebijakan yang dimaksud hanya berdasarkan kasus tertentu saja. Hal itu kiranya merupakan buah pendidikan kita yang kurang memperhatikan eksplorasi dalam proses pembelajaran, dan lebih cenderung menghafal. Sebagai orang beriman marilah kita setia dan rajin mengadakan refleksi atau pemeriksaan batin setiap hari, menjelang istirahat malam.

·   TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer 11:20). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa ketika kita menghadapi masalah, perkara atau persoalan atau tantangan dan hambatan, hendaknya dengan rendah hati mohon pencerahan atau penerangan dari Allah, agar dalam terang Allah kita mengambil langkah dan kebijakan, sebagaimana juga dihayati dalam Konkraf oleh para Kardinal yang berdoa mohon pencerahan dan penerangan guna memilih Paus, Gembala Gereja Katolik, Penerus Tahta St.Petrus dan karya penyelamatan Yesus Kristus. “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”, demikian doa yang kiranya menjadi pegangan atau pedoman kita dalam berdoa maupun bertindak. Jika kita maju, tumbuh berkembang dalam hal penghayatan hidup beriman kiranya akan menghadapi banyak perkara, maka persembahkan perkara-perkara yang ada kepada Allah, dan jangan ditangani atau dipecahkan sendiri. Dan kiranya  kita juga perlu minta bantuan atau sumbangan orang lain dalam rangka menangani atau memecahkan perkara. Dalam kebersamaan dan Allah dan saudara-saudari kita, maka kita akan sukses menangani aneka perkara yang kita hadapi. Dengan kata lain hendaknya kita saling membantu dalam menghadapi aneka perkara kehidupan, bergotong-royong dalam mengemban tugas pengutusan dan beban.

“Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat” (Mzm 7:9b-12)

Ign 16 Maret 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.